Tampilkan postingan dengan label PPKM Darurat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PPKM Darurat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juli 2021

Suarakan Praktik Baik Sekecil Apapun di Taman Bacaan

PPKM darurat masih terus berlangsung. Akibat pandemi Covid-19. Ada banyak keluhan karenanya. Tapi ada pula yang bilang begitu seharusya. Agar angka korban yang berjatuhan bisa terus ditekan. Namanya ikhtiar, asal baik dan sekecil apapun memang harus dilakukan.

 

Ada pesan penting. Bahwa kebaikan sekecil apapun tetap harus disuarakan. Termasuk kebaikan yang dilakukan pegiat literasi di taman bacaan. Sekalipun hanya menyediakan tempat membaca anak-anak di tengah pendemi Covid-19, di tengah sekolah pun masih dari rumah. Maka, suarakan praktik baik atau kebaikan sekecil apapun di taman bacaan. Karena di situ ada harapan, ada aktivitas giat membaca yang masih berlangsung. Di tengah gersangnya perilaku membaca akibat gempuran era digital.

 

Kenapa kebaikan harus disuarakan?

Karena kebaikan adalah soko guru segala ilmu dan pengetahuan. Sejatinya, tidak ada yang bisa mengalahkan kebaikan. Termasuk pandemi Covid-19. Kebaikan adalah “lahan subur” tempat bermukim segala kecerdasan. Ilmu kesehatan tidak ada artinya bila tidak untuk kebaikan. Ilmu komunikasi, ilmu kedokteran, ,ilmu filsafat, ilmu Pendidikan bahkan ilmu psikologi tidak ada gunanya tanpa berpijak pada kebaikan.

 

Kebaikan itu harusnya jadi falsafah hidup. Nomor satu dan harus diutaman siapapun. Karena siapapun orang yang melakukan kebaikan pasti akan menerima manfaatnya. Bahkan kebaikan pula yang bisa mengubah takdir. Pandemi Covid-19 pun bisa mereda atau berakhir bila kebaikan diteba di mana-mana. Bukan malah sebaliknya, ditakuti dikhawatirkan atau hanya diomongin.

 

Kebaikan itu ibarat tanah, lahan tempat segala hal bisa tumbuh.  

Bibit atau pupuk pun tidak ada artinya bila tidak ada tanahnya. Tidak ada tempat untuk tumbuh. Maka kebaikan sekecil apapun,, kerjakan dan suarakan. Jangan sebaliknya, Perbuatan baik jarang dilakukan. Tapi perbuatan buruk justru disemarakkan. Kebaikan itu bukan untuk mengubah nasib orang. Tapi kebaikan setidaknya dapat menjauhkan seseorang terhindar dari malapetaka.

 


Berangkat dari upaya menyuarakan kebaikan di taman bacaan. Maka Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor selalu mensosialisasikan aktivitas giat membaca dan gerakan literasi, sekecil apapun. Mulai dari membaca bersuara, salam literasi, doa literasi, jajanan kampung gratis maupun kegiatan laboratorium baca setiap minggu. Alhasil kini TBM Lentera Pustaka memiliki 168 anak pembaca aktif dari yang tadinya hanya 14 anak. Anak-anak di kampung kecil ini pun sudah terbiasa membaca 5-10 buku per minggu, dengan koleksi lebih dari 6.000 buku.

 

Selain taman bacaan, TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program-program lain seperti 1) Gerakan BERantas BUta aksaRA (Geberbura) dengan 9 warga belajar, 2) Kelas PRAsekolah (Kepra) dengan 17 anak, 3) YAtim BInaan (Yabi) dengan 16 anak yati, 4) JOMpo BInaan (Jombi) dengan 7 lansia, 5) Koperasi Lentera dengan 16 anggota, 6) RAjin menaBUng (RABU), 7) DONasi BUKu, dan 8) LITerasi DIGital. Saat ini pun, TBM Lentera Pustaka tengah mempersiapkan membuka PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) secara resmi. Semuanya dilakukan TBM Lentera Pustaka dalam menebar kebaikan. Walau hanya menyediakan tempat membaca dan akses bacaan. Di sampung meningkatkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah  yang terancam putus sekolah. Kini pun TBM Lentera Pustaka tengah mempersiapkan program “Kampung Literasi Sukaluyu” yang diinisiasi oleh Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM. TBM Lentera Pustaka merupakan taman bacaan satu-satunya di Kabupaten Bogor yang terpilih program Kampung Literasi dari 30 TBM di seluruh Indonesia.

 

Sekali lagi, suarakan kebaikan sekecil apapun di taman bacaan. Sementara orang di luar sana, hanya sekadar makan-makan kulineran atau liburan saja berani mempublikasikan di media sosial. Padahal tidak manfaat sama sekali untuk orang lain. Lalu, kenapa taman bacaan tidak melakukannya? BIla aktivitas taman bacaan baik, maka suarakan dan publikasikan. Itu lebih baik daripada menyuarakan apapun yang tidak ada manfaatnya untuk orang lain.

 

Ketahuilah sahabat literasi. Di media sosial apalagi. Hari ini kian banyak orang yang hanya baik dalam perkataan. Tapi belum tentu baik dalam perbuatan. Namun mereka mampu menyuarakan kebaikan walau hanya kata-kata. Kebaikan sebatas retorika. Maka di taman bacaan, suarakan perbuatan baik sekecil apapun masih lebih baik daripada niat yang terbesar sekalipun.

 

Karena kebaikan bukan dilihat dari ucapannya. Tapi kebaikan yang hakiki ada pada niat dan perbuatan. Dan siapapun yang berbuat kebaikan, sejatinya dia sedang menasehati dan selalu menghisab dirinya sendiri. Bukan menghisab orang lain lalu lupa dirinya sendiri.

 

Kebaikan di taman bacaan, suarakanlah. Praktik baik di taman bacaan, publikasikanlah. Karena kalau bukan pegiat literasi, siapa lagi yang mau menyuarakan? Kata Imam Hasan Al Bashri, “Lakukanlah kebaikan sekecil apapun. Karena kau tak pernah tahu kebaikan apa yang akan membawamu ke surga”. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

Senin, 12 Juli 2021

Taman Bacaan Berbagi Tips Imunitas Tubuh Kuat Saat PPKM Darurat dan #DiRumahAja

PPKM darurat bisa jadi diperpanjang jadi 6 minggu. Siapa pun diimbau untuk #DiRumahAja. Kurangi mobilitas dan keluar rumah. Disuruh WFH dan ada penyekatan di mana-mana. Tentu, realitas ini bukan hal yang mudah untuk mereka yang sering keluar rumah. Apalagi bagi yang terbiasa bekerja, terbiasa pergi pagi pulang malam. Termasuk yang doyan nongkrong atau punya gaya hidup dinamis. Bisa jadi, bukannya tambah sehat malah stress? Karena merasa tersiksa, terpenjara di rumah?

 

Jujur saya, saya sendiri sudah 1 tahun 4 bulan #DiRumahAja. Sejak 15 Maret 2020 sampai hari ini. Keluar rumah, seminggu hanya 2 hari saja. Saat PPKM darurat ini pun praktis tidak keluar rumah. Sebagai manusia biasa, tentu dihantui rasa bosan. Suasana hati jadi berantakan. Pikiran tidak menentu. Karena rutinitas yang biasa dilakukan, semua terhenti. Akibat pandemi Covid-19. Apa saya harus stres? Lalu, mau ngapain saat #DiRumahAja? Atau terpaksa #DiRumahAja agar tidak tertular Covid-19?

 

Jangan stress, gelisah apalagi takut. Karena kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Begitu kata ilmuwan Islam, Ibnu Sina. Memang harus diakui, kondisi hari-hari ini tidak baik. Maka tetap tegakkkan protokol Kesehatan, patuhi aturan PPKM darurat. Dan yang penting selalu waspada untuk meningkatkan imun dan iman pada diri sendiri.  Cukup, imun dan iman.  

 

Oh ya, satu lagi. Semakin lama #DiRumahAja, biasanya makin banyak waktu berselancara di media sosial. Maka pastikan, media sosial dipakai untuk hal-hal yang positif. Tidak perlu menjelekkan orang lain di medsos. Tidak perlu berkomentar yang mengundang kebencian atau tendensi negatif. Jangan salah pakai medsos. Untuk apa pakai medsos bila jadinya malah stress atau nambah-nambahin dosa. Ketahuilah medsos itu kamuflase atau tipuan belaka. Maka rileks saja dan gunakan medsosi untuk hal yang bermanfaat dan positif. Ini pesan penting banget dalam situasi seperti sekarang.

 

Bosan, gelisah dan bete itu bukan sebab. Tapi akibat. Kenapa bisa stres, gelisah, atau bete? Maka fokus benahi sebabnya. Sebabnya adalah karena takut, khawatir berlebihan dan tidak rileks. Seolah kondisi sekarang dianggap masalah. Tetap tenang, jaga kesehatan, dan berpikir positif. Jangan mau terlibat pada pikiran negatif, apalagi berkomentar yang tidak perlu dikomentarin. Rileks saja. Karena semua ini ujian dan sudah dikehendaki Allah SWT. Maka hadapi dengan ikhtiar baik dan doa baik.

  

Maka rasa bosan dan stres itu harus dikelola dengan baik. Karena bila tidak, akan bisa jadi penyakit. Suasana hati apapun harus dikendalikan. Bila tidak, akan merusak kesehatan mental dan pikiran. Sehingga ujung-ujungnyam, imunitas tubuh menurun dan akhirnya jadi sakit. Tetaplah berpikir positif, jangan sebaliknya. Banyaklah bersyukur, jangan banyak mengeluh. Jaga suasana hati tetap oke, jangan sebaliknya. Karena percayalah, badai pasti berlalu kok. Dan di balik tiap kesulitan pasti ada kemudahan. Bahkan bagi saya, wabah pandemi Covid-19 ini memberi hikmah. Agar siapa pun harus lebih menghargai “di dalam rumah” daripada “di luar rumah”. Mungkin kemarin-kemarin, banyak orang lalai terhadap keberadaan rumah. Rumah yang hanya dijadikan tempat istirahat, tempat tidur semata. Terlalu sibuk, untuk urusan di luar rumah.

 


Jadi, apa yang harus dilakukan saat PPKM darurat atau saat #DiRumahAja?

Tentu, ada banyak yang bisa dilakukan. Sesuai dengan selera masing-masing. Asal yang penting, semua aktivitas itu bersifat produktif dan bermanfaat. Nah, beberapa aktivitas untuk melawan rasa bosan dan jenuh saat #DiRumahAja, antara lain:

1.   Membaca buku. Karena membaca itu bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Membaca buku itu obatnya batin sekaligus bisa melembutkan akal. Seperti itulah yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor.

2.   Menulis. Karena menulis itu ekpresi pikiran dan perasaan. Ada banyak yang bisa ditulis dalam kondisi sekarang. Jangan terlalu banyak omong dan komentar. Perbanyak menulis. Selain memberi pencerahan kepada pembaca, menulis juga amal yang luar biasa.

3.    Silaturahim via online. Karena di zaman canggih begini, silaturahim atau sosialisasi kan bisa secara online alias daring. Cari topik-topik yang mencerahkan dan jangan ikut online yang tambah bikin stress atau tidak ada manfaatnya.

4.   Berkebun atau bercocok tanam. Karena berkebun itu melembutkan perasaan dan pikiran. Jadi lebih sehat dan berlatih mencintai alam, berperilaku baik kepada tanaman atau peppohonan. Berkebun itu melatih diri untuk bersabar. Sekaligus meredam egoisme.

5.   Perbanyak ibadah di rumah. Karena mungkin selama ini kita tidak optmal dalam ibadah. Perbaiki kualitas sholat, perbanyak mengaji dan menyimah pengajian di youtube atau radion online. Pandemi Covid-19 harusnya mampu menjadikan kita lebih baik dalam ibadah kepada Allah SWT.

 

Jadi selama Covid-19, adalah momen untuk lebih dekat pada Allah SWT. Dan lakukan saja, semua aktivitas yang prositif, produktif, dan bermanfaat. JTidak ada alasan untuk stres, panik atau merasa bosan. Sungguh, terlalu banyak aktivitas yang bisa dilakukan untuk menjadikan kita lebih baik, lebih berkualitas.

 

Saat #DiRumahAja, jangan pernah berpikir negatif atau mengeluh terus-menerus. Apalagi ngomongin orang, ngomongin negara. Fokuslah pada solusi, bukan pada masalah. Apalagi kerjanya “mengintip kegiatan orang lain” atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Sama sekali itu tidak penting dan tidak produktif. Ketahuilah, setiap orang itu punya aktivitas sendiri, cara sendiri, dan urusan sendiri. Jadi, tidak perlu ingin seperti orang lain?

 

Sampai sekarang, saya selalu berpesan kepada anak-anak muda. Setelah kuliah, mereka ingin kerja. Lalu, ingin punya rumah. Nah, seharusnya saat sudah punya rumah maka hargai rumahnya dengan cara “tinggali dengan senang hati”, senangkan hati dan pikiran saat di rumah. Sambil berbakti kepada orang tua. Jadi kenapa harus bosan #DiRumahAja? Sangat tidak masuk akal dan bertentangan dengan hati Nurani.

 

Banyak orang lupa. Rumah itu “kekasih” yang paling dicintai. Karena meski kaki melangkah ke luar, tapi hati tetap tertinggal di rumah. Rumah itu bukan soal di mana kamu tinggal. Tapi soal tempat yang paling mengerti kamu dalam kondisi apapun. Salam literasi #DiRumahAja #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka