Tampilkan postingan dengan label Literasi Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi Ayah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2026

Injak Punggungku Nak, Literasi Ayah saat Lelah Bekerja

 

Dulu, waktu kecil, kita sering menganggap hal-hal sederhana sebagai permainan. Saat Ayah atau Ibu berkata, “Injak punggungku, Nak…,” kita melompat dengan riang, tertawa tanpa beban, tanpa benar-benar memahami maknanya. Kita kira itu hanya bagian dari kehangatan keluarga, momen kecil yang menyenangkan di sela-sela hari. Tidak pernah terpikir bahwa di balik itu, ada tubuh yang lelah, ada beban hidup yang sedang mereka pikul diam-diam.

 

Seiring waktu, ketika kita mulai dewasa, perlahan kesadaran itu datang. Kita mulai mengerti bahwa punggung yang kita injak dulu adalah punggung yang bekerja keras seharian. Punggung yang menahan letih demi mencari nafkah, demi memastikan anaknya bisa makan, sekolah, dan punya masa depan yang lebih baik. Mereka tidak banyak bercerita tentang lelahnya, tidak mengeluh, hanya meminta sedikit kelegaan dengan cara yang sederhana—dekat dengan anaknya. Lelahnya bekerja orang tua, hilang dengan injakan sang anak.

 

Dari situ, kita belajar bahwa cinta orang tua sering hadir dalam bentuk pengorbanan yang tidak terlihat. Mereka menunda istirahat, menahan keinginan pribadi, bahkan mengorbankan masa tua mereka demi masa depan anak. Banyak dari mereka bekerja tanpa benar-benar memikirkan hari pensiun. Fokusnya hanya satu: anaknya tidak kekurangan, anaknya bisa hidup lebih baik dari dirinya.

 

Di sinilah kita mulai melihat pentingnya dana pensiun dengan sudut pandang yang lebih dalam. Orang tua kita telah menghabiskan masa produktifnya untuk kita, tapi siapa yang memastikan mereka tetap sejahtera di hari tua? Dana pensiun bukan sekadar soal uang, tapi tentang menjaga martabat dan kualitas hidup saat tenaga sudah tidak sekuat dulu. Ini adalah bentuk penghargaan nyata—agar mereka tidak perlu terus bekerja keras ketika seharusnya bisa beristirahat dengan tenang.

 


Akhirnya, memahami kenangan sederhana seperti “injak punggung” itu membawa kita pada kesadaran yang lebih besar: sudah saatnya kita memikirkan masa depan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Kita tidak bisa mengulang waktu, tapi kita bisa memastikan bahwa lelah mereka dulu tidak berlanjut menjadi kesulitan di hari tua. Karena pada akhirnya, cinta terbaik adalah yang tidak hanya dikenang, tapi juga dibalas dengan tindakan yang nyata. Untuk selalu menyiapkan kemandirian finansial di hari tua. Sebuah pesan penting untuk pekerja.

 

“Injak punggungku Nak...”, begitulah cara orang tua menggapai kenyamanan setelah lelah bekerja. Dan kini saatnya menyiapkan masa pensiun yang lebih baik dan berkualitas. Agar tidak merepotkan anak di hari tua. Sebab hari ini, respek terhadap orang tua tidak lagi cukup hanya dengan rela capek bekerja. Tapi memastikan punya kesinambungan penghasilan di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun

 

Jumat, 16 Agustus 2024

Wejangan Seorang Ayah dan Kakek di Hari Ulang Tahun Anak dan Cucu Perempuannya

 

Sekadar catatan, seorang ayah sekaligus kakek untuk anak bungsunya Farah Gammathirsty Elsyarif yang kini berusia 17 tahun dan cucu pertamanya Aleena Thalia Saqeenarava yang berulang tahun ke-1 di Agustus 2024 ini. Sebagai ekspresi rasa cinta dan kasih sayang yang memang jarang ditunjukkan. Karena setiap ayah atau kakek, punya cara tersendiri untuk mencintai anak dan cucunya. Tidak mungkin sama, tidak mungkin pula dibandingkan.

 

Hari ini, Abi atau kakek berpesan untuk Farah dan Aleena. Kejarlah ilmu setinggi langit Nak, belajar dan terus belajar! Karena pendidikan adalah cara paling gampang untuk menjadi lebih baik, di samping untuk meraih cita-cita. Jadikan pendidikan dan ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat, bukan harta apalagi pangkat.

 

Ketahuilah Nak, surga memang tidak terletak di kaki Abi atau kakek. Tapi ayah dan nantinya menjadi kakek adalah pahlawan keluarganya. Pada dirinya, ada jiwa pantang menyerah. Kepanasan kehujanan hanya untuk mencari menafkahi keluarganya. Rela meminjamkan hatinya berjibaku dengan masalah tanpa mengeluh sedikitpun. Seorang ayah selalu jadi jangkar di mana anak-anaknya berdiri. Makanya banyak orang menyebut, ayah adalah the best hero in the world.

 

Bila ada lelaki pertama yang menyayangi anak perempuannya, dialah ayah. Selalu ikhlas menjaganya dan bersusah payah untuk membahagiakan anak-anaknya. Selalu tampak tegar untuk menguatkan kalian. Hingga keringatnya siang malam pun dijadikan bukti cintanya kepada kalian. Seorang ayah memang sering gagal berkata-kata cinta. Tapi ia mampu menunjukkan dengan bukti. Untuk selalu berjuang dan berkorban dalam setiap peluh keringatnya yang akhirnya kering sendiri.

 

Begitulah ayah, orang yang paling kurang bicara, hanya menyoal sesekali. Tetapi dia memerhatikan semua perkara. Dia yang tidak mahir mengurai air mata, namun di tiap tengadahnya tidak pernah lupa berdoa dan menyebut nama anak-anak dan cucunya.

 


Ayah memang hanya panggilan. Tapi dialah  pemilik bahu terlapang, tulang punggung terkuat, pelindung terkokoh. Apapun alasannya, selalu berkorban untuk anak-anaknya.

 

Benar adanya, tidak ada guru yang sehebat dengan ibu. Tapi tidak ada pula yang lebih dijunjung tinggi daripada martabat seorang ayah. Karena setiap ayah sadar, anak-anaknya hanya akan memetik teladannya bukan nasihatnya. Selalu rela meminjamkan hati untuk mengatasi segala yang dihadapinya.

 

Ini sedikit wejangan di hari ulang tahun Farah dan Aleena, anak bungsu Abi dan cucu kakek. Jangan pernah bertanya, seberapa cinta seorang ayah kepada anak perempuannya. Seberapa cinta seorang kakek kepada cucu perempuan pertamanya?

 

Biarkan waktu yang membuktikan, biarkan perilaku yang menjawabnya. Dan seorang ayah atau kakek, pasti mengajarkan anak dan cucunya tentang bagaimana cara mencintai dan dicintai? Love you Farah dan Aleena, selamat ulang tahun ya. Semoga sehat dan berkah selalu!



Senin, 06 Mei 2024

Literasi Ayah, Sering Dimarahi Walau Sudah Banting Tulang

Terkadang suka sedih. Saat melihat seorang istri marah-marah kepada suaminya karena tidak bisa memenuhi keinginan sang istri. Lebih sedih lagi, bila melihat seorang anak berkata-kata kasar kepada ayahnya. Hanya karena sang ayah tidak bisa membelikan apa yang diminta anaknya. Terlepas dari masalah aktual seperti apa, pastinya seorang ayah tidak mungkin mengabaikan keinginan klistri atau anaknya bila mampu. Ayah hanya bisa diam dan bersabar.

 

Sebagai kepala keluarga, sudah pasti seorang ayah ingin keluarganya bahagia. Terpenuhi kebutuhannya, bahkan keinginannya. Selalu bisa dan mampu tentunya. Maka sebelum marah-marah kepada suami atau ayah, renungkanlah betapa sekarang hanya terus berjuang dan bekerja keras tanpa mengenal lelah. Peras keringat banting tulang, hanya untuk keluarganya, anak-anaknya.

 

Banyak orang lupa. Sekalipun kewajibannya, seorang ayah pasti ingin menyenangkan anak-anaknya. Pergi gelap pulang gelap, jadi buktinya. Bahkan saat di tempat kerja mengalami tekanan, dimarahi atasan, atau kehabisan ongkos pun, seorang ayah tetap diam dan mencari cara untuk mengatasinya. Maka wajar, pikiran, tenaga, dan mental ayah pasti ada drop-nya. Kan ayah juga manusia biasa?

 

Istri atau anak-anak, mungkin tidak tahu. Saat ayahnya sering dicaci maki bosnya? Sering dihina atau difitnah cuma urusan sepele. Saat seorang ayah harus menahan lapar demi pulang ke rumah untuk membawa uang. Bahkan banyak lupa, tidak sedikit seorang ayah yang hampir kehilangan nyawa di jalan. Demi menafkahi keluarga dan anak-anaknya. Tapi apapun yang terjadi, ayah hanya bisa diam dan terus berjuang untuk keluarganya.  

 

Betul sekali, mencari nafkah adalah kewajiban seorang ayah. Ikhtiar terbaik dan doa pun sudah dipanjatkan sang ayah. Tapi semuanya, pasti sudah kehendak Allah. Ada yang didapat hari ini. Tapi ada yang ditunda untuk esok. Tidak semua yang diperjuangkan ayah bisa tercapai semua. Ayah juga ingin mendapat surga Allah. Karena pada keringat seorang ayah, ada pengampunan yang Allah janjikan. "Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni". (HR. Thabrani dan lbnu Abbas).

 

Maka sebelum marah-marah atau cemberut pada ayah, hitunglah dulu as berapa juta tetes keringat si ayah yang keluar dari tubuhnya. Lihatlah betapa lelah langkah ayah saat pulang dari kantornya. Atau tataplah lekat-lekat matanya, mungkin tanpa kita sadari mata ayah telah banyak mengeluarkan air mata, entah di mana? Semuanya demi senyuman anak-anaknya. 

 


Ketahuilah sahabat, bila sampai hari ini ayah kita belum bisa memenuhi segala keinginan, itu hanya karena faktor keadaan dan waktu. Tapi ayah sudah berjuang sekuat tenaga dan semampu yang harus dikerjakannya. Ayah tetap bertahan untuk mencari nafkah halal, bukan haram apalagi merampas hak orang lain. Mengertilah pada kondisi ayah, sambil tetap sabar dan syukur. Agar ayah lebih lapang dan ikhlas menjalankan semuanya.

 

Khusus untuk para ayah di mana pun berada, tetaplah semangat. Jangan menyerah karena Allah pasti ridho atas keringatmu. Semoga lelahmu menjadi berkah. Dan kerja kerasmu menjadi penghubung dengan surga. Sabar dan ikhlas menjalaninya ya Ayah.

 

Ayah, tidak pernah takut miskin. Karena setiap langkah ayah selalu berlindung dari Tuhan uang Maha Kaya. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #CatatanSeorangAyah #LiterasiAyah

Jumat, 11 November 2022

Ayah Zaman Now Harus Lebih Literat (Catatan Hari Ayah)

Hai ayah, udah tahu belum? Survei menyebut 52% ayah itu lebih senang pada gawai daripada anaknya. Dan 28% paraayah itu nggak bisa jadi contoh untuk anak-anaknya. Semoga kaum ayah yang baca ini, nggak termasuk di dalamnya ya.

 

Survei lagi yang bilang. Hari ini 3 dari 10 anak merasa nggak mendapat perhatian dari ayahnya. Ayah dimintain tolong jagain anak saja, malah dijadikan "tatakan mouse". Ayah, ayah. Mungkin karena ayah sibuk cari nafkah, sibuk mengejar dunia kali ya. Apa benar begitu, ayah?

 

Ayah zaman now, memang keren. Berangkat gelap pulang gelap. Katanya, ayah kan nyari nafkah. Untuk sekolah anak, untuk memenuhi segala kebutuhan. Makasih ya ayah.

 


Pantas ayah zaman now, saat di rumah. Bisanya hanya buka kaus kaki, ganti baju, ngopi, dan baca chat WA sambil senyum-senyum sendiri. Ayah zaman now paling susah diminta bantuan bikin PR anak. Nggak peduli juga sama urusan rumah. Itu semua jadi bukti, Ayah zaman now memang belum literat.

 

Jadi, ayah zaman now boro-boro membaca buku. Memasang kancing baju yang copot saja nggak bisa. Begitulah ayah zaman now. Maka mau tidak mau, ayah-ayah ke depan harus lebih literat!

 

Selamat hari ayah ya para ayah. Semoga sehat selalu. Salam literasi. #HariAyah #LiterasiAyah #TBMLenteraPustaka