Tampilkan postingan dengan label Jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 September 2021

Jangan Tutupi Bumi yang Luas dengan Daun yang Kecil, Urgensi Spirit Taman Bacaan

Jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil.

Seperti kasus korupsi yang menjerat Bupati Probolinggo dan suaminya. Ada lagi Bupati Banjarnegara, Mantan Mensos yang korupsi bansos, dan baru-baru ini Pak Alex Noerdin saat dinyatakan sebagai tersangka kemarin. Sebelumnya, entah sudah berapa banyak pejabat atau politisi yang dibekuk OTT KPK. Kenapa mereka korupsi, apa mereka tidak punya cukup uang?

 

Itulah yang disebut “DAUN yang kecil menutupi BUMI yang luas".

Kurang bersyukur atas nikmat karunia dan anugerah yang Allah SWT berikan. Terlalu nafsu atas kekuasaan. Terjebak pada gaya hidup dan nafsu kesenangan sesaat di dunia. Salah menggunakan amanah rakyat. Bukan menyejahterakan malah menyesatkan. Manusia yang lupa bersyukur dan lupa arti hidup di duia untuk ke akhirat. Bumi yang luas ditutup daun yang kecil.  

 

Manusia sering lupa. Bahwa bumi itu luas, daun itu kecil.

Anugerah Allah itu tidak terbatas. Rezeki Allah pasti ada untuk setiap hamba-Nya.  Setiap makhluk sudah punya “jatah” masing-masing. Karena bumi itu luas dan akan memberi apapun yang dibutuhkan manusia. Sementara uang, harta, pangkat jabatan, bahkan popularitas itu cuma selembar daun. Terlalu mudah hilang, mudah habis. Seperti daun yang mudah dipetik atau jatuh ke bawah. Jadi, mana mungkin selembar "daun yang kecil" bisa menutupi "bumi yang luas" ini?

 

Adalah fakta di masa kini dan di era bergaya hidup ini. Banyak daun yang kecil akhirnya menutupi bumi yang luas. Karena daun itu menempel di pelupuk mata manusia. Sehingga tertutuplah bumi dari pandangan mata yang sempir. Semua jadi gelap dan gagal melihat jalan yang lurus lagi terang. Selembar daun yang menggelapkan tatapan mata terhadap bumi yag luas. Korupsi, maling, merampok, mengambil yang bukan hak-nya, bahkan menyusahkan orang ain.

 

Anehnya, para koruptor dan teman-temannya itu selalu bilang. Di depna public di TV-TV. Bahwa hidup di dunia cuma sementara. Jabatan dan kekuasaan sebagai Amanah rakyat. Tapi sayangnya, mereka pula yang melanggar omongannya sendiri. Karena "daun yang kecil menutupi bumi yang luas".

 

Begitulah kehidupan manusia. Ketika daun yang kecil menutupi bumi yang luas. Maka hari-harinya diisi keluh kesah. Seolah hidupnya merana dan berjiwa “korban”. Hingga lupa bersyukur. Hidupnya berubah jadi mudah menyalahkan orang lain. Gemar menebar kebencian, gibah, hingga penuh sentiment dalam hidup. Berpikir negatif dan merasa paling benar. Saat manusia bermentalitas “korban”, berjiwa menderita. Itu bumi yang luas ditutupi daun yang kecil.

 


Sungguh di dekat kita. Banyak manusia berjiwa “daun yang kecil menutupi bumi yang luas”. Mereka yang tidak bersyukur lalu menghalalkan berbagai cara. Tidak peduli orang lain susah. Asal dia senang sendiri. Itulah contoh manusia yang tidak literat. Manusia yang gagal menjalankan amanah untuk menebar kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain.

 

Maka begitu pula, spirit yang semestinya ada di taman bacaan, di pegiat literasi. Di mana pun. Untuk tetap bergerak dalam menegakkan tradisi membaca dna budaya literasi masyarakat. Apapun keadaannya. Karena memang jalan di taman bacaan. Tidak selalu lurus dan gampang. Kadang berbelok tajam, terjal, dan mendaki. Selalu ada hambatan dan tantangan. Tapi apapun kondisinya, taman bacaan dan pegiat literasi tidak bisa berhenti atau berbalik arah. Tidak ada jalan lain, selain "melanjutkan perjuangan di taman bacaan". Demi kebaikan dan kemanfaatan orang banyak.

 

Manusia sering lupa. Nabi Ayyub itu sepanjang hidupnya penuh cobaan. Mulai dari dilenyapkan kekayaannya. Kehilangan anak-anaknya. Diberi penyakit berates-ratus tahun. Hingga ditinggalkan istri tercintanya. Tapi hebatnya, ia tetap sabar dan bersyukur. Memang sulit meneladani Nabi Ayyub. Tapi dari kisah beliau. Manusia diajarkan untuk sabar dan tetap bersyukur atas keadaaanya. Memang hari, seberapa sengsara sih hidup kita di dunia ini?

 

Lagi-lagi, jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil.

Jangan sampai hidup di dunia dilandasi nafsu dan kesenangan semata. Sehingga selalu merasa kurang dan lupa bersyukur. Saat itu terjadi, maka jalan sesat akan ditempuh siapapun. Syukurilah apa yang dimiliki, jangan mengejar apa yang tidak dimiliki.

 

Ketahuilah, hal yang paling besar di dunia itu adalah nafsu. Dan yang plking berat di dunia adalah amanah. Maka kendalikanlah keduanya. Tentu dengan memeprebsar rasa syukur dan mendekat kepada-Nya. Bahwa semua yang manusia miliki saat ini adalah anugerah yang sudah pantas. Sudah cukup, tdak kurang dan tidak lebih.

 

Seperti spirit di taman bacaan. Lebih baik mensyukuri yang ada daripada mengeluhkan yang belum ada. Agar jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu

Jumat, 18 September 2020

Jangan Tutupi Bumi yang Luas dengan Daun yang Kecil

Wabah Covid-19 ini sepertinya kian ganas. Banyak orang yang OTG tahu-tahu sakit. Orang baik seperti Pak Sekda DKI Jakarta pun terkena corona. Ada puluhan ribu pasien corona pun kini masih dirawat di rumah sakit. PSBB ketat pun diberlakukan lagi. Negeri ini, tiba-tiba, dihantui ancaman makhluk bernama virus corona.

 

Sementara di luar sana. Makin terlihat kasat mata kesombongan anak manusia di dunia. Angkuh dan arogan. Pangkat, jabatan, harta bahkan status sosial terus-menerus dipertontonkan. Memuji dan berbangga-bangga tentang dirinya sendiri sambil merendahkan yang lain. Selalu merasa benar sambil mencari kesalahan orang lain. Manusia yang tidak suka lagi diberi nasihat. Kepeduliannya makin hilang. Hingga akhirnya menolak kebenaran.

 

Mereka terus sibuk memperebutkan dunia. Berusaha menggenggam dunia. Hingga lupa bahwa dunia itu sebentar. Sombong lalu lupa bersyukur. Dunia dianggap abadi dan akan selamanya. Lalu lupa, bahwa dunai adalah kehidupan yang menipu. Dunia itu hanya “casing”, hanya “bungkus” semata. Tidak lebih tidak kurang.

  

Jangan sampai “daun yang kecil menutupi bumi yang luas”.

BUMI itu luas. DAUN itu kecil. Anugerah Allah yang tak terbatas itu BUMI. Uang, harta, jabatan itu cuma selembar DAUN. Jadi, mana mungkin selembar "daun yang kecil" bisa menutupi "bumi yang luas" ini. Karena faktanya, daun menutupi telapak tangan saja sulit. TAPI kalo DAUN yang kecil menempel di pelupuk MATA kita, maka tertutuplah BUMI. Gelap dan gak bisa terlihat lagi jalan yang terang.

 

Maka tidak perlu sombong. Sebaliknya, selalu ada alasan kuat untuk bersyukur.

Untuk siapapun. Apapun keadaannya. Katanya hidup di dunia cuma sementara, terus mau apa lagi? Apa yang mau dikejar, apa pula yang maudiperebutkan? Sungguh, dunia tidak akan pernah ada cukupnya. Maka, jangan tutupi BUMI yang luas dengan DAUN yang kecil.

 

Jan


gan sombong. Bumi itu luas, daun itu sempit. Bersyukurlah.

Jangan terlalu mudah melupakan anugerah Allah. Jangan mudah tidak puas atas apa yang dimiliki. Banyak orang sekarang, menempatkan diri sebagai “korban”. Marasa menderita, merasa ada yang kurang. Merasa kurang, kurang lagi dan kurang terus. Bahkan di masa Covid-19, merasa terpenjara. Terkurung di dalam rumah. Merasa nestapa….

 

Orang-orang yang lupa. Bahwa apapun yang ada dan terjadi di dunia adalah kehendak-Nya. Tidak ada jalan hidup manusia yang dirancang oleh otaknya, oleh kecerdasannya. Lalu merasa dirinya hebat. Dan akhirnya lupa bila ada Allah dalam hidupnya.

 

Maka, DAUN yang kecil pun menutupi BUMI yang luas.

Tiap hari berkeluh-kesah. Mengeluh setiap hari. Hingga menebar kebencian dan permusuhaan kepada orang lain. Tiap hari hanya mencari-cari kejelekan orang lain. Tiap hari galau, bete sampai seolah tidak ada lagi harapan untuk kebaikan. Bermental “korban”, berjiwa menderita. Lalu, lupa bersyukur.

 

Bersyukurlah atas apa yang dimiliki. Maka, jangan tutupi BUMI yang luas dengan DAUN yang kecil. Fokuslah pada apa yang dimiliki, bukan pada apa yang diinginkan. Lebih baik mensyukuri apa yang ada daripada mengeluhkan yang tidak ada. Lebih baik pelihara yang sudah ada di rumah daripada membandingkan dengan yang ada di luar rumah.

 

Sudahlah, jangan tutupi BUMI yang luas dengan DAUN yang kecil.

Agar jangan terlalu memikirkan apa yang dipunya. Hingga lupa atas apa yang sudah dimiliki. Karena semua yang kita miliki saat ini adalah anugerah dan karunia yang pantas untuk kita.

Hidup itu WAKTU yang dipinjamkan, sedangkan harta adalah BERKAT yang dipercayakan.

"Banyak orang sudah punya tapi merasa belum punya". Mau sampai kapan hidup kayak gitu?

 

Bahagialah secukupnya. Sedihlah seperlunya. Mencintailah sewajarnya. Membencilah sekedarnya. TAPI INGAT, BERSYUKURLAH SEBANYAK-BANYAKNYA. Tolong, jangan tutupi "BUMI yang luas" dengan "DAUN yang kecil"…