Tampilkan postingan dengan label Indonesia Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Merdeka. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2021

Literasi Kemerdekaan, Apa Arti Berjuang untuk Taman Bacaan?

Tiap bulan Agustus, merah putih berkibar di mana-mana.

Entah itu, hanya seremoni, peringatan atau apa? Yah katanya, paling minim ikut meramaikan-lah. Kemerdekaaan Republik Indonesia. Merdeka gitu loh. Bila tidak bisa ikut berjuang angkat senjata ya minimal berjuang pasang bendera, pasang merah putih. Lalu, berteriak walau tidak lantang. “Mari berjuang untuk Indonesia”. Merdeka, merdeka, merdeka!

 

Jadi apa sih sebenarnya arti berjuang itu?

Banyak orang lupa. Berjuang itu berarti “melakukan sesuatu untuk lebih baik”. Bukan pasrah atau membiarkan ketidak-baikkan melanglang buana. Hoaks, ujaran kebencian, bahkan fitnah ya harus dilawan, bukan disebarkan. Menurut KBBI, berjuang itu “berusaha sekuat tenaga tentang sesuatu; berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya”. Itu berarti, berjuang itu pantang menyerah, harus sekuat tenaga. Berjuang pun ada risiko-nya.

 

Maka membangun lingkungan yang aman, menciptakan lingkungan yang ber-akhlak baik adalah perjuangan. Bukan sebaliknya, hanya bicara tentang kebaikan sambil menjelekkan orang lain di grup WA. Bukan pula berjuang sebatas pikiran tapi tidak melakukan apapun. Berjuang itu ikhtiar, bukan berdiam diri atau membiarkan kebobrokan. Termasuk berjuang untuk mau menerima masukan, menerima saran untuk perbaikan. Ikhtiar memahami perbedaan juga berjuang. 

 

Berjuang itu harus jelas apa yang diperjuangkan. Berjuang dari keadaaan apa dan mau jadi bagaimana? Misalnya dari keadaan “anak-anak yang jauh dari buku jadi dekat dengan buku”. Berjuang dari tadinya buta aksara jadi bis abaca-tulis. Maka siapa pun yang berjuang di jalan apapun, boleh disebut “pejuang”. Karena memang ada yang diperjuangkan, apapun kondisi dan keadaannya. Berjuang itu bukan ramai di medsos atau di grup WA. Tapi tidak ada yang diperjuangkan untuk kemanfaatan orang banyak.  

 

Seperti para pahlawan dulu. Mereka berjuang siang malam melawan penjajah. Maka bangsa Indonesia jadi merdeka. Bebas dari belenggu penjajahan, bebas dari penindasan. Itulah buah dari perjuangan. Tapi sayang, zaman begini. Banyak orang pintar tapi perjuangan konkret-nya nihil. Terlalu percaya otak dan akal. Tapi hati nurani-nya menjauh dari realitas. Argumen sana argumen sini tapi hanya utopia. Sibuk memperjuangkan mimpi-mimpi yang tidak sejalan dengan kenyataan.  

 


Terus apa itu merdeka?

Merdeka itu berarti bebas. Bebas dari apapun. Bebas dari pencurian, bebas melindungi hak asasi semua orang. Maka orang merdeka itu tidak terikat pada apapun. Tidak bergantung kepada orang lain. Tapi bila masih ada pencurian, masih ada yang kemalingan yang berarti belum merdeka. Itulah kemerdekaan yang hakiki.

 

Lebih dari itu, orang yang merdeka itu mampu memerdekakakn orang lain. Bila ada anak yang tidak gemar membaca jadi mau membaca. Bila tidak punya tempat baca jadi punya tempat membaca ya itu memerdekakan. Bahkan anak-anak difabel yang tadinya tidak punya tempat belajar dan bermain kini bisa datang ke taman bacaan itu juga memerdekakan.

 

Maka banyak orang bilang. Kemerdekaan itu terjadi saat siapapun merasa aman, merasa sehat, merasa selamat. Bila itu belum terjadi, maka belum ada kemerdekaan, Belum bebas, belum sepenuhnya tidak terjajah. Merdeka adalah terbebas dari segala macam belenggu. Agar siapapun punya hak untuk berkarya, berbuat kebaikan. Bukan sebaliknya.

 

Jadi, sebenarnya apa sih “berjuang” dan “merdeka”? Berjuang itu fokus pada tujuan baik bukan yang buruk. Merdeka itu mampu menyajikan solusi atas masalah, bukan berkutat pada masalah tanpa solusi. Maka jadilah literat dalam perjuangan dan kemerdekaan. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen

Minggu, 16 Agustus 2020

HUT Ke-75 RI, TBM Lentera Pustaka Ajak Banyakkan Cinta Sedikitkan Benci

 

75 Tahun INDONESIA; BANYAKKAN CINTA SEDIKITKAN BENCI

 

Sahabat, katakan dengan penuh cinta. Dirgahayu ke-75 Republik Indonesia.

Mari kita bersyukur bersama. Demi bangsa dan negara Indonesia tercinta. Agar lebih maju. Dan lebih banyak cinta daripada benci. Karena memang, tidak mudah mengatur bangsa sebesar Indonesia. Ada 270 juta jiwa. Dengan isi kepala yang berbeda-beda. Sama sekali sulit mencapai kata sepakat.

 

Kita, bersyukur jadi bangsa Indonesia.

Karena kita masih bisa beribadah dengan aman dan tenang. Masih bisa bermedia sosial tanpa perasaan takut. Masih bisa berpendapat sesuka pikiran. Hingga bisa “ngomongin negara” secara terbuka di televisi. Bahkan rajin mengkritik pemerintah pun justru diberi bintang penghargaan. Jadi, apa kurangnya demokrasi di negeri ini? Sementara di luar sana, ada bangsa yang tiap hari bergelur dnegan suara bom. Ada bangsa yang tanahnya direbut bangsa lain. Bangsa yang belum reda dari perang saudara. Bangsa-bangsa yang kepulan asap roket menghantui rakyatnya, kaum minoritas yang ibadahnya dikebiri, hingga di rumah pun bisa meregang nyawa. Sekali lagi, kita patut bersyukur.

 

Bahwa bangsa Indonesia punya utang iya. Bahwa bangsa ini belum mampu menyejahterakan rakyat yang miskin itu pasti. Bahkan masih banyak “pekerjaan rumah” bangsa ini yang harus dibenahi itu pasti. Itu semua tanda, bangsa Indonesia dan kita harus berani mengoreksi diri sendiri.  Berani memperbaiki diri.

 

Ada yang bilang, utang bangsa ini sangat besar. Bisa iya, bisa tidak. Tergantung kita mau lihat dari sisi mana? Siapapun, di sistem ekonomi kapitalis begini, sulit menghindar dari utang. Negara super power sekalipun, punya utang lebih besar dari bangsa Indonesia. Bahkan tidak ada satu negara di belahan bumi ini yang tidak punya utang. Semua punya utang. Tapia pa karena utang kita miskin? Belum tentu. Di ekonomi keluarga yang paling sederhana pun, utang bikin siapapun untuk berpikir dan bergerak. Agar bisa bayar utang dan lebih berdaya. Berjuang agar bisa lebih sejahtera dari hari ini. Bangsa ini boleh dibilang miskin, silakan. Tapi harus diakui pula, bangsa ini pun terus berjuang. Bangsa ini tidak pernah menangis dan tidak miskin hati.

 

Lalu apa yang kurang dari bangsa Indonesia?

Bisa jadi, bangsa ini hanya kurang satu hal. Berpikir positif terhadap bangsanya sendiri. Kurang membanyakkan cinta dan menyedikitkan benci. Rakyatnya banyak dan ramah. Alamnya indah dan terbentang luas. Tanahnya subur, lautnya keren. Tapi sayang, potensi itu cepat sirna. Akibat terlalu mudah membenci bangsanya sendiri. Terlalu banyak berpikir negatif. Atau bisa jadi pikun, untuk lebih memberi solusi dan aksi.

 

Apalagi di tengah wabah Covid-19 dan kondisi ekonomi yang minus. Belakangan ini, kita terlalu sering dijejali “narasi” media sosial yang mengupas tuntas bobroknya bangsa Indonesia. Hingga menguliti lemahnya pemimpin sendiri. Seolah-olah, bangsa ini paling koruptif, pemerintahnya paling tidak becus, hukumnya paling tumpul, miskinnya paling melarat. Itu semua belum tentu benar. Karena hanya lahir dari pikiran yang negatif. Lalu kita ”membabi buta” mendambakan bangsa lain. Memuja bangsa lain lebih hebat daripada bangsa Indonesia. Bisa jadi, itu hanya omong kosong.

 

Banyakkan cinta, sedikitkan benci.

Mungkin karakter itu yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Agar bisa lebih maju, lebih baik. Cintai bangsanya, sedikitkan benci. Agar kita tidak fokus membenci bangsa sendiri. Mencerca rupa nusantara yang indah ini. Mencaci-maki yang tidak pantas, tidak etis. Hingga menghujat sana menghujat sini. Berkata-kata baik pun tidak mau, apalagi berkontribusi yang lebih baik?

 

Sahabat merah putih. Katakan dirgahayu Indonesia.

Kita boleh berbeda. Beda pilihan politik, beda idola pemimpin. Beda partai, bed acara pandang, dan beda-beda yang lainnya. Itu semua sah-sah saja. Tapi di saat yang sama, kita harus tetap gentle untuk bilang “kita sama sebangsa, setanah air”. Kita lahir, hidup, dan akan mati di tanah bangsa Indonesia yang bekah ini. Yaitu bumi pertiwi Indonesia.

 

Banyakkan cinta, sedikitkan benci.

Karena tidak ada bangsa yang membentang begitu luas di garis khatulistiwa. Tidak ada bangsa yang punya ribuan pulau dengan ratusan bahasa. Kita boleh miskin uang. Tapi kita kaya budaya. Bangsa ini masih punya sikap ramah-tamah, gotong-royong, peduli satu sama liannya, kekeluargaan, dan toleransi. Itu semua hanya ada di Indonesia. Itulah alasan kita berbeda-beda. Tapi kita tetap satu Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.

 

Bila ada suatu bangsa di dunia ini, saat berulang tahun. Kita masih bisa menikmati lomba tarik tambang, makan kerupuk, lomba bakiak, lomba kelerng, karnaval sepeda, bahkan lomba panjat pinang (bukan panjat dulu baru pinang). Itu ada di bangsa Indonesia. Bahkan, hanya di Indonesia, orang yang meninggal dunia “diantar” teman dan kerabat sekampung hingga ke liang lahat.

 

Banyakkan cinta, sedikitkan benci untuk bangsa sendiri.

Agar esok bisa lebih baik. Jangan terlalu gemar mem-bully bangsa sendiri. Bangunlah narasi positif tentang bangsa sendiri. Ambil posisi untuk kontribusi. Bukan narasi untuk sensasi. Jangan terhipnotis oleh perbedaan, jangan terbuai pikiran benci. Karena masa depan bangsa ini, ada di tangan kita sendiri. Bukan di tangan bangsa lain.

 

Maka, banyakkan cinta sedikitkan benci. Karena esok, kita akan menutup mata di tanah bumi pertiwi. Indonesia.

 

SELAMAT HUT ke-75 Republik Indonesia. Sungguh, kita tidak sedang berhenti berjuang. Tapi harus berjuang lebih keras lagi. MERDEKA!!! #DirgahayuIndonesia #HUTRI


Dirgahayu Indonesia, Saat Merah Putih Berkibar di Tiang Bambu TBM Lentera Pustaka

 Dirgahayu ke-75 Republik Indonesia.

Sebagai tanda cinta dan syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia, anak-anak pembaca aktif di TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor mengibarkan bendera merah putih di tiang sederhana dari bambu di taman bacaan. Berdiri tegak dan mengambil sikap sempurna. Sebagai tanda hormat kepada bangsa dan negara. 

Mereka yakin. Selalu ada cara sederhana untuk tetap mencintai bangsa dan negara. Apapun keadaannya, termasuk di tengah wabah Covid-19 seperti sekarang. Karena hormat kepada negara adalah bagian dari budi pekerti dan karakter paling mendasar yang harus tetap ditanamkan di anak-anak Indonesia. Sehingga nanti, seberapa sukses dan hebat mereka, akan tetap menjunjung tinggi bangsa dan negaranya. Itulah kepribadian manusia merdeka yang seutuhnya di bumi Indonesia. Bukan pribadi yang hanya mampu mengkritik tanpa memberi solusi. Atau pribadi yang ingin menguasai orang lain tanpa bersedia menguasai dirinya sendiri.  


Dirgahayu Indonesia, jayalah selalu Indonesiaku.

Biarkan di luar sana, masih ada mereka yang bernapas tapi tidak bersyukur. Merasa merdeka tapi pikirannya terpenjara. Wajah tersenyum tapi kecut tanda tidak bahagia. Hingga mereka yang bernyawa tapi sesungguhnya tidak benar-benar hidup. 


Ketahuilah, bagi anak-anak taman bacaan. Proklamasi bukanlah sekadar deklarasi. Tapi sebuah aksi.

Inilah persembahan TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor untuk Indonesia Merdeka. MERDEKA ... #TBMLenteraPustaka #DirgahayuIndonesia #TamanBacaan

Minggu, 09 Agustus 2020

Jelang 75 Tahun Indonesia Merdeka, GErakan BERantas BUta Aksara Lentera Pustaka Merdekakan Kaum Ibu Dari Belenggu Buta Huruf

Bangsa Indonesia sebentar lagi memperingati 75 tahun kemerdekaan. Bukti kemenangan dan terbebas dari belenggu penjajajahan. Berpuluh-puluh tahun membangun dalam bidang pendidikan untuk meraih kesejahteraan. Agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Hingga kini tiba di era digital, di era revolusi industri 4.0. Semuanya bergantung pada 1) digitalisasi, 2) otomatisasi, dan 3) kecerdasan buatan. Maka siapapun, berlomba-lomba untuk menguasai digital; gawai, laptop, daring, startup sebagai ciri kaum hi-tech.

 

Namun siapa sangka, tidak jauh dari Jakarta sang ibukota negara di Kaki Gunung Salak Bogor. Masih ada kaum ibu-ibu buta huruf yang masih terus berjuang untuk bisa membaca dan menulis, sekalipun terkendala usia dan mengalami gangguan mata. Agar terbebas dari belenggu “buta hurf”, bukan “penjajahan” bukan pula “teknologi”.

 

Kaum buta huruf yang masih berjuang jelang 75 tahun Indonesia merdeka.




Mungkin, kita boleh tidak percaya. Bahwa masih ada orang-orang buta huruf di sekitar kita. Mereka bukan hanya tidak bisa baca. Tapi juga tidak bisa menulis. Berhitung pun hanya sebatas urusan uang dan belanjaan.

 

Seperti Ibu Euis, 48 tahun. Sekalipun mengalami gangguan penglihatan. Mata yang sulit melihat dari jauh. Kini masih berjuang untuk terbebas dari buta huruf. Melalui kegiaran Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) Lentera Pustaka yang dibimbing langsung oleh Syarifudin Yunus, seorang dosen Unindra dan kandidat doktor manajemen pendidikan Pascasarjana Unpak. Bahkan tiap kali belajar baca dan tulis, kuam buta huruf pun “dihadiahi” seliter beras atau mie instan agar tetap datang belajar. Sebagai motivasi untuk terbebas dari buta huruf.

 

Buta huruf jelang 75 tahun Indonesia merdeka. Tentu bukanlah keinginan Ibu Euis dan 10 temannya di Kampung Warug Loa Desa Sukaluyu Bogor. Tapi keadaan keluarga di masa kecil dan lingkungan yang telah "membesarkan" dia menjadi buta huruf. Lalu, siapa yang harus peduli terhadap kaum buta huruf di tengah era digital, saat jelang 75 tahun Indonesia merdeka?

 

Indonesia memang sudah merdeka lama. Tapi masih ada rakyatnya yang belum belum merdeka dari belenggu buta huruf. Saatnya membangun kepedulian yang lebih besar kepada mereka, kaum buta huruf. Agar merdeka itu berarti paripurna …. #GEBERBURA #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi