Banyak narasi atau diskusi tentang moralitas. Bahkan berdebat tentang siapa yang bermoral dan tidak bermoral di panggung televisi. Sebenarnya sederhana saja, prinsip dasar moralitas sama sekali tidak memerlukan rumusan teori yang rumit atau lembaran kitab tebal untuk dipahami. Cukup kembalikan segala sesuatu pada kejujuran nurani yang paling dasar: jika suatu perlakuan terasa menyakitkan, menghancurkan hati, atau merendahkan martabat ketika itu menimpa diri kita, maka akal sehat yang jernih pasti tahu untuk tidak melimpahkannya kepada sesama atau ke orang lain.
Sering kali kita begitu mahir
menuntut keadilan, penghormatan, dan keluhuran budi dari orang lain, namun lupa
berkaca saat kita sendiri sedang memperlakukan orang lain dengan semena-mena.
Kita dengan mudah melukai perasaan lewat kata-kata atau tindakan, seolah-olah
rasa sakit yang dirasakan orang lain memiliki takaran yang berbeda dengan apa
yang tidak sanggup kita terima.
Prinsip dasar moralitas itu
sederhana. Soal nilai fundamental yang kita gunakan untuk membedakan perbuatan
yang dianggap baik dan buruk, benar dan salah. Franz Magnis-Suseno menyebut prinsip
dasar moral itu hanya: bersikap baik, adil, dan hormat terhadap diri sendiri. Maka,
perlakukan orang lain sebagaimana kta ingin diperlakukan. Jangan menyakiti jika
tak ingin disakiti. Jangan menanam duri di jalan orang lain. Moralitas juga harus ditopang dengan
kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Jadi, cukup jadikan kesadaran
tentang moralitas sebagai saringan utama dalam setiap gerak langkah dan tutur
kata yang kita keluarkan. Ketika kita belajar menahan diri untuk tidak menanam
duri di jalan orang lain, kita tidak hanya sedang menjaga kedamaian di luar
sana, tetapi juga sedang memelihara kemanusiaan dan kebersihan nurani di dalam
dada kita sendiri. Moralitas itulah yang dijunjung tinggi di TBM Lentera
Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.
Hanya tahu berbuat baik dan menebar
kebaikan tanpa peduli siapa yang berniat jahat!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar