Setiap pagi, Pak Darto selalu datang ke kantor dengan wajah ramah. Namun, di balik keramahan itu, ia dikenal sebagai atasan yang keras. Ia sering membentak bawahannya di depan banyak orang, menganggap kesalahan kecil sebagai kebodohan, dan melontarkan kata-kata tajam tanpa memikirkan perasaan orang lain. Baginya, selama pekerjaan selesai, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Sampai suatu hari, ia sendiri melakukan kesalahan di hadapan direksi. Ia ditegur dengan nada tinggi, dipermalukan di depan rekan-rekannya, dan pulang dengan hati yang remuk. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan sendiri betapa menyakitkannya diperlakukan tanpa penghormatan.
Sesampainya di rumah, Pak Darto
terdiam lama. Ia teringat wajah-wajah bawahannya yang selama ini hanya bisa
menunduk setiap kali menerima bentakannya. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang
selama ini luput dari pikirannya: orang-orang yang ia lukai ternyata memiliki
hati yang sama dengannya. Mereka juga bisa kecewa, merasa tidak berharga,
bahkan kehilangan semangat karena ucapan seseorang yang seharusnya membimbing
mereka. Selama ini, ia selalu menuntut orang lain menghormatinya, tetapi lupa
memberikan penghormatan yang sama. Ia ingin dimengerti ketika melakukan
kesalahan, tetapi tidak pernah berusaha memahami orang lain ketika mereka
melakukan kesalahan.
Keesokan harinya, Pak Darto mengumpulkan
timnya. Bukan untuk memberikan teguran, melainkan untuk meminta maaf. Dengan
suara yang lebih tenang, ia mengakui bahwa selama ini ia terlalu sering melukai
perasaan orang lain atas nama kedisiplinan. Ia mulai belajar menegur tanpa
merendahkan, mengoreksi tanpa menghina, dan mendengarkan sebelum menghakimi.
Perubahan itu tidak membuatnya kehilangan wibawa. Justru, orang-orang mulai
menghormatinya dengan tulus, bukan karena takut, melainkan karena merasa
dihargai. Ia akhirnya memahami bahwa menjadi pemimpin bukan tentang seberapa
keras seseorang bisa membuat orang lain tunduk, tetapi seberapa bijaksana ia
memperlakukan mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Sejak saat itu, Pak Darto memegang
satu prinsip sederhana: jangan pernah melakukan sesuatu kepada orang lain yang
tidak sanggup kita terima jika hal itu dilakukan kepada diri kita sendiri.
Sebab, luka yang kita anggap sepele mungkin menjadi beban panjang bagi orang
lain, dan kata-kata yang kita ucapkan dalam hitungan detik bisa membekas di
hati seseorang selama bertahun-tahun. Hidup tidak selalu menuntut kita menjadi
orang yang hebat, kaya, atau berkuasa, tetapi selalu memberi kita kesempatan
untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Sebab ukuran keluhuran
seseorang bukanlah seberapa tinggi kedudukannya atau seberapa banyak orang yang
menghormatinya, melainkan seberapa sedikit hati yang ia lukai dan seberapa
banyak kebaikan yang ia tinggalkan. Jangan menunggu merasakan sakit untuk
belajar berempati, jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai, dan
jangan menunggu diperlakukan buruk untuk menyadari bahwa setiap manusia berhak
diperlakukan dengan baik.
Maka, perlakukan orang lain sebagaimana kta
ingin diperlakukan. Jangan menyakiti jika tak ingin disakiti. Jangan menanam
duri di jalan orang lain!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar