Senin, 19 Oktober 2026

Catatan Literasi: Jangan Hina Niat Baik Orang Lain

Minggu lalu, saya membeli bubur sumsum gembolan dari seorang ibu yang berjualan di pinggir jalan. Harganya Rp30 ribu. Sambil menawarkan dagangannya, ibu itu bercerita bahwa uang hasil jualannya akan digunakan untuk biaya pengobatan anaknya yang sedang sakit. Entah mengapa, cerita itu mengetuk hati saya. Tanpa banyak bertanya, saya pun membeli bubur sumsumnya. Bagi saya, kalau memang bisa membantu seseorang, mengapa harus berpikir terlalu panjang? Setidaknya, saya bisa menikmati bubur sumsum sekaligus berbagi sedikit rezeki kepada orang yang sedang membutuhkan.

 

Namun, tidak lama setelah itu, seorang pedagang lain menghampiri saya dan berkata bahwa ibu penjual bubur sumsum itu hanya modus. Katanya, cerita tentang penyakit anaknya selalu berubah-ubah setiap hari. Bahkan, dengan nada meremehkan, ia menyebut saya “oon” karena dianggap terlalu mudah percaya. Saya hanya tersenyum mendengar ucapannya. Jujur, saya tidak tahu apakah cerita ibu itu benar atau tidak. Saya juga tidak punya bukti untuk menilai apakah ia sedang berbohong atau memang benar-benar membutuhkan bantuan. Yang saya tahu, saya membeli dagangannya dengan niat baik, bukan karena ingin menjadi pahlawan, apalagi merasa lebih baik daripada orang lain.

 


Lalu saya menjawab, “Eh, Pak, saya itu beli bubur sumsum niatnya buat bantu. Kalau ibu itu bohong, itu urusan dia sama Tuhan, bukan sama saya. Tapi Bapak jangan bilang saya oon juga kali.” Saya mengatakan itu bukan untuk membela kebohongan, apalagi membenarkan orang yang sengaja memanfaatkan belas kasihan orang lain. Saya hanya ingin menegaskan bahwa berbuat baik tidak selalu harus disertai kepastian bahwa orang yang kita bantu benar-benar jujur. Tentu, kita tetap perlu waspada dan tidak boleh mudah percaya pada semua cerita, terutama jika menyangkut uang dalam jumlah besar. Namun, kewaspadaan tidak harus membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan, dan kecerdasan tidak seharusnya membuat kita gemar merendahkan orang lain.

 

Dari kejadian sederhana itu, saya belajar bahwa niat baik tidak menjadi kebodohan hanya karena mungkin dimanfaatkan oleh orang lain. Jika ternyata ibu itu berkata jujur, semoga bantuan kecil saya bermanfaat bagi anaknya. Jika ternyata ia berbohong, biarlah itu menjadi urusannya dengan Tuhan dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Saya tidak ingin kehilangan ketulusan hanya karena takut dikecewakan. Tapi saya juga tidak ingin kebaikan membuat saya berhenti berpikir kritis. Sebab, bagi saya, lebih baik tetap memiliki hati yang peduli sambil belajar lebih bijaksana daripada menjadi orang yang begitu takut ditipu hingga tidak lagi tergerak membantu. Kita memang tidak selalu bisa memastikan kejujuran orang lain, tetapi kita selalu bisa menjaga kemurnian niat dan kehormatan diri sendiri. Salam literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar