Belajar menerima kenyataan bahwa kita tidak selalu dilibatkan, tidak selalu diajak, bahkan terkadang diabaikan oleh orang-orang di sekitar kita adalah bagian dari proses pendewasaan. Tidak mudah melihat teman-teman berkumpul tanpa mengajak kita, mengetahui rekan kerja makan siang bersama tanpa memberi tahu kita, atau menyadari bahwa sebuah acara berlangsung tanpa kehadiran kita. Ada rasa kecewa, sedih, bahkan muncul pertanyaan dalam hati, “Apa ada yang salah dengan diriku?” Perasaan itu manusiawi. Kita semua ingin dihargai, diterima, dan dianggap berarti. Namun, jangan sampai keinginan untuk diterima membuat kita terus-menerus menyalahkan diri sendiri hanya karena tidak menjadi bagian dari lingkaran orang lain.
Kedewasaan dimulai ketika
kita memahami bahwa tidak semua orang harus menyukai kita, tidak semua
lingkungan harus menerima kita, dan tidak semua pintu harus terbuka untuk kita.
Bayangkan suatu hari kita mengetahui bahwa teman-teman kantor mengadakan acara
bersama tanpa mengundang kita. Daripada menghabiskan malam dengan memikirkan
alasan mereka atau sibuk mempertanyakan nilai diri sendiri, mengapa tidak
menggunakan waktu itu untuk beristirahat, menikmati makan malam bersama
keluarga, membaca buku, atau melakukan hal yang membuat hati lebih tenang? Kita
tidak bisa mengendalikan keputusan orang lain, tetapi kita selalu punya pilihan
untuk menentukan bagaimana meresponsnya. Jangan biarkan ketidakhadiran kita
dalam agenda orang lain berubah menjadi ketidakhadiran kita dalam kebahagiaan
sendiri.
Mulai sekarang, tanamkan
dalam hati bahwa harga diri tidak ditentukan oleh berapa banyak undangan yang
kita terima, berapa sering nama kita disebut, atau seberapa ramai orang yang
menemani langkah kita. Ada kalanya kita tidak diajak bukan karena kita tidak
berharga, melainkan karena setiap orang memiliki kedekatan, kepentingan, dan
prioritas yang berbeda. Jika seorang sahabat mulai jarang menghubungi kita,
misalnya, kita boleh merasa kehilangan, tetapi tidak perlu memohon perhatian
hingga melupakan kehormatan diri sendiri. Tetaplah bersikap baik, tetaplah
membuka ruang untuk hubungan yang sehat, tetapi jangan memaksa diri bertahan di
tempat yang membuat kita terus merasa tidak berarti. Kita boleh merindukan
kebersamaan, tetapi jangan sampai kehilangan diri sendiri demi mendapatkannya.
Ketahuilah, hidup bukan
perlombaan untuk menjadi orang yang paling dikenal, paling sering diajak, atau
paling banyak memiliki teman. Ada ketenangan yang justru hadir ketika kita
mampu menikmati secangkir kopi sendirian, berjalan-jalan tanpa harus menunggu
seseorang menemani, atau menghabiskan akhir pekan dengan melakukan sesuatu yang
kita sukai. Sendirian bukan berarti kesepian, sebagaimana dikelilingi banyak
orang tidak selalu berarti merasa bahagia. Belajarlah merasa cukup tanpa
menutup diri dari kasih sayang, mandiri tanpa menjadi dingin, dan tegar tanpa
kehilangan kelembutan hati. Sebab, ketika kita berhenti menggantungkan
kebahagiaan pada penerimaan orang lain, kita mulai memahami satu hal yang
penting: kita tidak harus selalu dipilih oleh orang lain untuk tetap berharga.
Terkadang, kedamaian terbesar datang ketika kita berani memilih diri sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar