Baik untuk direnungkan. Ada orang tua yang tidak pernah sibuk menunjukkan apa yang dimilikinya. Rumahnya mungkin sederhana, mobilnya mungkin biasa saja, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun harus berhitung dengan cermat. Tetapi ada satu hal yang diam-diam membuat hati orang tua penuh syukur: saat melihat anaknya tumbuh dan mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Orang tua, dulu mereka yang
membayar uang sekolah anak-anaknya, menyiapkan uang saku, mengantar ketika anak
sakit, dan diam-diam memikirkan biaya kuliah. Banting tulang siang malam, untuk
pendidikan anak-anaknya. Kini anak-anak itu sudah bekerja, menerima gaji
sendiri, membayar kebutuhannya sendiri, bahkan sesekali berkata, “Ayah, Ibu, nggak
usah lagi kasih uang jajan. Saya bisa bayar sendiri”. Mungkin kalimat itu
sederhana, tetapi bagi orang tua, rasanya seperti mendengar seluruh perjuangannya
sudah menemukan jawaban.
Sungguh, orang tua di mana
pun tidak selalu membutuhkan anaknya menjadi pejabat, pengusaha besar, atau
orang kaya raya. Sebab orang tua hanya ingin melihat anak yang dulu dibesarkannya
dengan susah payah menjadi manusia yang mampu menjalani hidup dengan baik. Bangga
ketika melihat anaknya pulang membawa kabar bahwa kuliahnya selesai. Tersenyum
saat anaknya berangkat kerja. Bersyukur
karena anak-anaknya tumbuh dengan baik, tidak merepotkan. Orang tua yang tidak
mengatakan apa-apa ketika anaknya menerima gaji pertama. Tapi di malam harinya,
orang tua tersenyum sendiri sambil
berucap dalam hati, “alhamdulillah, ternyata anakku sudah besar dan mandiri.”
Sebab yang dilihat bukan angka di rekening, tetapi perjalanan panjang dari
seorang anak yang dulu bergantung kepada orang tua menjadi seseorang yang mulai
mampu mengurus hidupnya sendiri.
Kita sering mengira orang tua
akan bangga kalau anaknya punya rumah besar, mobil bagus, jabatan tinggi, atau
penghasilan yang luar biasa. Padahal sering kali yang paling ditunggu justru
jauh lebih sederhana: melihat anaknya sehat, punya pekerjaan, tidak menyusahkan
orang lain, mampu bertanggung jawab, dan tetap mengingat pulang. Karena orang
tua tahu persis berapa banyak hal yang harus dikorbankan agar anaknya sampai di
titik itu. Orangtua yang pernah menahan keinginannya sendiri agar anak-anaknya
bisa sekolah. Pernah berpura-pura baik-baik saja ketika sebenarnya sedang
khawatir soal biaya. Pernah mengatakan, “Tidak apa-apa,” padahal banyak yang
harus mereka pikirkan. Maka ketika anak akhirnya mandiri, bagi orang tua itu
bukan sekadar keberhasilan anak. Itu adalah bukti bahwa pengorbanan orang tua tidak
sia-sia.
Dan mungkin ini yang paling
perlu kita renungkan: jangan sampai kita sibuk mengejar kesuksesan untuk
dipamerkan kepada dunia, tetapi lupa bahwa ada dua orang yang sejak awal hanya
ingin melihat kita baik-baik saja. Kita mengejar rumah agar terlihat berhasil,
mobil agar dianggap sukses, jabatan agar dihormati, sementara orang tua mungkin
hanya ingin sekali melihat kita pulang tanpa membawa beban, duduk di sampingnya
sambil ngobrol ringan nan sederhana, lalu berkata, “Ayah, Ibu, sekarang saya
sudah bisa mandiri. Terima kasih atas perjuangannya untuk saya.”
Karena pada akhirnya, rumah
mewah tidak akan membuat hati orang tua lebih bangga daripada melihat anaknya
menjadi manusia yang baik. Dan ketika suatu hari saat orangtua sudah tidak ada,
mungkin baru kita sadar: selama ini kita terlalu sibuk mencari cara untuk
membanggakan diri di hadapan dunia, padahal ada orang tua yang hanya ingin
melihat kita berhasil sebelum mereka menutup mata.
Sungguh, orang tua tidak butuh
anaknya kaya. Hanya ingin melihat anaknya berhasil, tetap dekat Sang Pencipta
dan punya akhlak yang baik. Orang tua tidak akan bertanya, berapa gajimu Nak?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar