Suatu hari, seorang mahasiswa datang bimbingan dengan mata yang terlihat lelah. Skripsinya belum selesai, sementara teman-temannya sudah satu per satu mengenakan toga. “Pak, saya sebenarnya ingin cepat selesai, tapi saya bingung harus mulai dari mana lagi,” katanya. Dosen itu tidak langsung mencoret banyak halaman. Ia justru berkata, “Kita lihat satu per satu. Yang kurang kita perbaiki, yang sudah benar kita lanjutkan. Target kita jelas: kamu selesai tepat waktu.”
Sejak saat itu, bimbingan menjadi lebih sederhana. Setiap pertemuan
menghasilkan arah yang jelas: apa yang diperbaiki, apa yang dipelajari, dan
kapan harus kembali. Tidak ada revisi yang sengaja dibuat berputar-putar hanya
untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa.
Beberapa bulan kemudian, mahasiswa itu akhirnya berdiri di depan
panggung dengan toga. Ia tersenyum, bukan hanya karena berhasil menyelesaikan
skripsinya, tetapi karena teringat pernah berada di titik hampir menyerah.
Seusai wisuda, ia menemui dosennya dan berkata, “Terima kasih, Pak. Bapak
membuat saya percaya bahwa saya bisa menyelesaikannya.” Mungkin bagi sang
dosen, kalimat itu sederhana. Tetapi bagi seorang mahasiswa yang pernah merasa
sendirian menghadapi skripsi, kalimat itu adalah sesuatu yang akan diingat
bertahun-tahun.
Skripsi memang harus berkualitas. Mahasiswa memang harus bekerja
keras. Dosen memang harus menjaga standar akademik. Tetapi membimbing tidak
harus berarti mempersulit. Mengoreksi tidak harus membuat seseorang merasa
bodoh. Memberi standar tidak harus membuat orang kehilangan harapan. Ada
perbedaan besar antara mendidik dengan menantang dan mendidik dengan
membuat orang tertekan. Dosen pembimbing yang baik bukanlah yang membuat
mahasiswa takut setiap kali bertemu dengan pembimbingnya, tetapi yang membuat
mahasiswa pulang dengan satu keyakinan: “Saya belum selesai, tetapi saya
tahu bagaimana menyelesaikannya.”
Pada akhirnya, kita semua akan sampai pada suatu masa ketika jabatan,
gelar, dan kekuasaan tidak lagi terlalu penting. Yang mungkin tersisa justru
cerita tentang bagaimana kita pernah memperlakukan orang lain ketika mereka
membutuhkan bantuan kita. Maka, kalau kita bisa membuat urusan seseorang
menjadi lebih mudah, mengapa harus dibuat lebih sulit? Kalau kita bisa memberi
arah, mengapa membuatnya tersesat? Kalau kita bisa memberi harapan, mengapa
membuatnya takut?
Mudahkanlah urusan orang lain, agar urusan kita juga dimudahkan.
Karena mungkin kita tidak akan pernah tahu, satu revisi yang kita permudah,
satu kalimat penyemangat yang kita ucapkan, atau satu kesempatan yang kita
berikan, bisa menjadi alasan seseorang memilih untuk tidak menyerah. Dan
bukankah itu juga bagian dari makna pendidikan? Maka, jadilah dosen yang ketika
mahasiswanya mengingat masa kuliah bertahun-tahun kemudian, yang mereka ingat
bukan rasa takutnya, tetapi kebaikan dosen yang pernah membimbingnya.
Seperti hari ini, saya pun sudah tanda tangani skripsi 12 mahasiswa
yang menjadi bimbingan saya di PBSI FBS Unindra. Semoga ilmu mereka bermanfaat
dan mendapat kerja yang berkah untuk mengangkat harkat martabat keluarganya,
bangsa dan negara serta agama, amiin!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar