Saat di kantor, pernah nggak melihat orang dengan gaji besar tapi merasa kurang. Gajji cukup tapi merasa miskin? Coba cek deh, teman sebaya yang rumahnya lebih gede, mobilnya lebih bagus tapi perasaan "kurang-nya" ada terus. Bukan karena nggak punya uang tapi karena tolak ukurnya bergerak terus. Jadi, cukup atau nggak cukup itu bukan soal nominal. Tapi soal cara kita mengukur atas apa yang dimiliki.
Ada orang dengan gaji besar tapi
tetap merasa miskin. Sementara orang dengan gaji biasa bisa merasa cukup. Bedanya
bukan di angka. Bedanya di perilaku dan ekspektasi. Kan sederhana saja, kalau kita
selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya ya kita pasti akan
selalu kalah. Selalu ada yang lebih kaya. Selalu ada yang lebih mewah dan selalu
ada yang lebih banyak. Sebab yang dilihat yang “lebih” kan.
Sudah pasti ada bedanya. Dua
orang dengan gaji yang sama kerja di kantor yang sama tapi bisa merasa sangat
berbeda. Satu gelisah, yang satunya tenang. Satu merasa kurang, satu lagi merasa
cukup. Bedanya hanya di definisi. Maka, perasaan kaya dan miskin itu
subjektif. Karena faktor yang menentukan adalah ekspektasi atau harapannya,
bukan saldonya. Kira-kita begitu kalau membaca buku “The Psychology of Money” Morgan
Housel, yang mengulas tentang cara berpikir soal uang. Bukan jumlah uang!
Urusan uang, kenapa orang
merasa miskin atau kurang? Jawabnya, bisa jadi karena “tidak punya definisi tentang
cukup”. Cukup itu berarti dapat memenuhi kebutuhan, sudah memadai atau tidak
kurang, serta tidak perlu ditambah lagi. Tapi bila tidak punya definisi tentang
“cukup”, maka akan membandingkan. Atau ekspektasi-nya terlalu tinggi, akhirnya tidak
pernah puas. Setiap naik gaji, setiap naik kelas sosial, kerjanya selalu melihat
kelas yang di atasnya. Terus begitu dan begitu terus tanpa henti. Wajar jadinya
gelisah, terkadang bingung. Sementara orang yang tenang, pasti tahu arti “cukup”.
Tahu di titik mana merasa "sudah" dan alhamdulillah. Bahkan tahu
batas dan kebal dari gengsi.
Sayangnya, sebagian besar
orang tidak pernah duduk dan menuliskan apa artinya cukup. Cukup dianggap abstrak
selama tidak dihitung. Dan kalau abstrak, gampang digoyang oleh hidup orang
lain yang kelihatan lebih bagus. Maka solusinya bukan menekan ambisi atau
mengurangi ekspektasi. Tapi solusinya adalah “membuat definisi cukup” jadi lebih
konkret. Misalnya, kita tidur nyenyak tanpa mikir lagi soal uang. Asal
kebutuhan bisa dipenuhi sudah tenang. Punya tabunagn cukup, sekaliipun untuk
kebutuahn darurat. Berapapun angkanya, itu bisa dihitung dan ada nilainya. Coba
bandingkan dengan “kebutuhan” yang muncul akibat melihat orang lain beli barang
baru. Jelas, itu susah dihitung dan bukan kebutuhan nyata. Itu ekspektasi.
Merasa cukup itu penting
banget. Biar kita bisa kenal, mana yang kebutuhan mana yang keinginan. Tanpa
perlu membandingkan diri dengan orang lain. Tentu, ambisi perlu bahkan tetap
tumbuh itu bagus. Tapi kita harus ingat, kejar-kejaran soal uang itu semu. Tidak
akan pernah bisa menghancurkan kepuasan yang sudah kita punya. Untuk mengejar
lebih tapi tidak pernah tahu rasanya “cukup”. Rugi total, mengejar uang terus tanpa pernah
merasa cukup. Mau sampai kapan?
Mungkin kita sepakat, bahwa kekayaan
itu tidak akan pernah kelihatan. Sebab yang kelihatan itu pengeluaran. Barang
itu kelihatan, harga itu biaya. Dan yang kelihatan, biasanya hanya pameran.
Hanya sesuatu yang tampak, bukan kondisi sebenarnya. Orang yang punya gaji
besar tapi habis buat gaya hidup itu bukan kekayaan. Itu cuma siklus kerja –
cari uang – belanja – dan kerja lagi. Di dunia kerja, siklus kayak begitu tidak
akan pernah membuat orang tenang apalagi nyaman. Justru yang penting itu merasa
cukup. Cukup kondisi bertahan di segala keadaan, bukan “garis finish”.
Jadi, kalau ada orang dengan gaji
besar tapi tetap merasa miskin. Bisa jadi, karena nggak bisa menghitung
pengeluaran per bulan-nya. Dan pastinya, tidak pernah paham tentang definis “cukup”
dan jumlah tabungannya belum mampu bikin tidurnya nyenyak. Kenapa begitu,
karena kita nggak patuh pada versi diri sendiri. Tapi senagnya ikut versi teman
kantor atau orang lain!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar