Agak tergelitik, ketika yang terhormat Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa “kecerdasan itu bukan dari sekolah?”. Sambil mencontohkan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia kemarin (7 Agustus 2026). Katanya, kecerdasan juga lahir dari tempaan kesulitan hidup dan pengalaman. Apa iya begitu, bahwa kecerdasan bukan dari sekolah?
Mohon maaf dan terus terang,
menurut saya, kalimat "kecerdasan bukan berasal dari sekolah" kurang
tepat. Apalagi bila dipahami oleh kalangan awam, agar “tidak disalahpahami”
bahwa sekolah tidak penting. Memang secara logika, kecerdasan memang
dipengaruhi oleh banyak faktor seperti bakat, lingkungan keluarga, pengalaman
hidup, dan pendidikan. Sekolah (pendidikan) adalah salah satu sarana penting
yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir, pengetahuan, keterampilan
memecahkan masalah, dan daya analisis seseorang. Karena itu, mengatakan bahwa
kecerdasan “bukan” berasal dari sekolah mengabaikan peran besar pendidikan
dalam membentuk dan mengasah potensi intelektual manusia.
Mohon maaf lagi ya Pak,
mungkin yang lebih tepat adalah membedakan antara kecerdasan dan kesuksesan. Sebab,
kecerdasan dapat tumbuh melalui proses belajar yang terstruktur, baik di
sekolah maupun di luar sekolah. Namun, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh
tingkat kecerdasan atau pendidikan formal. Kesuksesan juga dipengaruhi oleh
karakter, disiplin, ketekunan, kemampuan beradaptasi, keterampilan
berkomunikasi, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan bekerja sama
dengan orang lain. Bolehlah ditambahkan, kecerdasan dibentuk oleh kesulitan
hidup serta didikan keras di masa lalu, bukan sekadar teori di ruang kelas. Jadi,
pendidikan membantu membangun kecerdasan, tetapi kecerdasan saja belum tentu
menjamin keberhasilan.
Contoh konkretnya begini.
Misal, ada 2 orang lulusan universitas yang sama dengan nilai akademik yang
sama tinggi. Orang pertama sangat cerdas secara akademis, tetapi kurang
disiplin, sulit bekerja sama, dan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Sementara
orang kedua memiliki kemampuan akademis yang biasa saja, namun juga rajin, mau
belajar dari kesalahan, serta mampu membangun hubungan yang baik dengan banyak
orang. Dalam perjalanan karier, sering kali orang kedua memiliki peluang lebih
besar untuk mencapai posisi penting karena keberhasilan di dunia nyata membutuhkan
lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Sementara orang pertama, dianggap
tidak sukses dalam pekerjaannya.
Karena itu, pernyataan yang
lebih logis adalah: "Kecerdasan dapat berkembang melalui pendidikan dan
proses belajar, sedangkan kesuksesan tidak ditentukan oleh pendidikan
semata." Sekolah dan pendidikan tetap memiliki peran besar dalam membangun
fondasi pengetahuan dan kemampuan berpikir. Namun, untuk mencapai keberhasilan,
seseorang perlu melengkapi kecerdasannya dengan sikap, karakter, pengalaman,
kerja keras, dan ketekunan. Biar bagaimana pun, pendidikan adalah salah satu
faktor penting menuju sukses, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan
hasil akhir kehidupan seseorang.
Saya menuliskan ini, agar
masyarakat tidak salah paham. Apapun alasannya, sekolah atau pendidikan tetap
penting. Teruslah sekolah setinggi-tingginya, jagan pernah berpikir sekolah
tidak penting. Sebab sekolah (pendidikan) tidak berhubungan langsung dengan
kesuksesan. Ketahuilah, saat ini 86% pekerja di Indonesia berpendidikan SMA/SMK
ke bawah, akhirnya terjebak pada rata-rata gaji di bawah Rp 3 juta per bulan.
Logika sederhananya, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin besar gaji
yang diterima. Silakan saja cek di lapangan, di dunia kerja.
Kalau contohnya Pak Bahlil, mungkin
bisa diterima bila beliau jadi Menteri bukan berasal dari latar belakang dan
kampus yang tidak terkenal. Bahkan katanya bila kampusnya dicari di google
mungkin sudah tidak ada. Tapi realitas itu tidak ada hubungannya dengan kalimat
“kecerdasan bukan dari sekolah”. Sebab, kenapa Pak Bahlil jadi Menteri pun saya
tidak tahu? Apa beliau jadi Menteri karena kecerdasan atau faktor lainnya? Itu sama
artinya, bila saya yang jadi presiden, lalu teman ngopi sehari-hari, saya
jadikan Menteri sama sekali tidak ada hubungan dengan kecerdasan. Mungkin dasarnya
hanya kedekatan semata. Apalagi di Indonesia, tidak ada kriteria khusus untuk jadi
Menteri?
Jangan lupa, Indonesia didirikan
oleh Ir,. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Ada juga Prof. Dr. B.J. Habibie
bahkan banyak menteri sekarang yang berpendidikan tinggi. Itu artinya, banyak
juga pejabat yang berasal dari orang-orang sekolahan. Tanpa perlu membuat statement
tentang orang-orang bukan sekolahan. Biarlah apapun berjalan apa adanya. Sebab
realitas dan fakta tentang sekolah dan tidak sekolah, cerdas dan tidak cerdas
memang sulit diperdebatkan, apalagi di negeri kita. Persis seperti “kenapa kita
lebih ngotot mementingkan MBG (Makan Bergizi Gratis) daripada sekolah/pendidikan
gratis?”. Saya tidak ingin berdebat, tapi saya menerima realitas MBG saja.
Jadi menurut saya, dengan
ngotot menyatakan kecerdasan tetap berasal dari sekolah (pendidikan). Tapi
kalau mau sukses, tidak harus dari sekolah. Sebab, kecerdasan memang tumbuh
dari proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi kesuksesan
tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pendidikan formal.
Kira-kira begitu sih, sekadar berbagi pemikiran …

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar