Perjalanan menempuh pendidikan S3 sering kali digambarkan sebagai perjalanan intelektual yang penuh tantangan. Namun bagi kami alumni S3 Doktoral Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak, perjalanan itu juga menjadi kisah persahabatan yang tumbuh di tengah berbagai perjuangan. Berawal dari ruang kuliah yang sama di tahun 2018, kami datang dengan latar belakang usia, dan pengalaman yang berbeda. Di balik tumpukan tugas, aktivitas kuliah di kelas, proposal penelitian, dan tenggat waktu yang seolah tidak pernah habis, terjalin ikatan pertemanan yang membuat setiap langkah terasa lebih ringan.
Masa-masa penyusunan
disertasi menjadi ujian yang sesungguhnya. Ada saat ketika semangat menurun
karena revisi yang tak kunjung selesai, data penelitian yang sulit diperoleh,
atau tuntutan pekerjaan dan keluarga yang harus berjalan beriringan. Di saat-saat
seperti itulah kami saling menguatkan. Sebuah pesan singkat di grup, secangkir
kopi setelah seminar proposal atau diskusi santai di sela rehat perkuliahan
sering kali menjadi penyemangat yang membantu kami kembali bangkit dan
melanjutkan perjuangan.
Ketika satu per satu berhasil
melewati ujian proposal, ujian tertutup, publikasi ilmiah, hingga sidang
terbuka, kebahagiaan itu terasa bukan hanya milik individu, melainkan milik
bersama. Kami menyaksikan langsung bagaimana setiap sahabat berjuang dengan
caranya masing-masing hingga akhirnya menyandang gelar doktor. Momen kelulusan
menjadi bukti bahwa ketekunan, kerja keras, dan dukungan lingkungan yang
positif dapat membawa seseorang melewati tantangan yang tampaknya begitu berat.
Meski kini telah kembali ke
kesibukan dan kerja masing-masing,
hubungan persahabatan itu tidak berhenti di gerbang wisuda. Kami tetap
meluangkan waktu untuk bertemu, walau hanya di warung kopi atau di warung
ketupat padang dekat kampus Unindra tempat kami mengabdi sebagai dosen.
Obrolannya sering kali ringan, mulai dari suka duka kuliah, dosen semasa kuliah
S3, pekerjaan, hingga cerita keseharian. Namun tanpa disadari, percakapan
tersebut kerap berkembang menjadi diskusi tentang masa depan setelah pensiun atau
gagasan yang dapat dikembangkan bersama. Sesederhana itulah persahabatan para
doktor. Sebab doktor itu oleh ilmu, sementara bersaudara oleh perjuangan.
Sungguh, di balik gelar doktor, ada kisah kisah persahabatan yang tak pernah lulus.
Tradisi sederhana untuk tetap
terhubung itulah yang kami jaga hingga hari ini. Silaturahmi tidak hanya
mempererat persahabatan, tetapi juga memelihara semangat akademik yang pernah
kami bangun bersama selama menempuh studi doktoral. Kami percaya bahwa gelar
doktor bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan
intelektual yang lebih panjang. Dan seperti dahulu, perjalanan itu akan terasa
lebih bermakna ketika dijalani bersama sahabat-sahabat seperjuangan yang terus
saling menginspirasi.
Tetap semangat selalu pejuang
disertasi!
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar