Selasa, 18 Agustus 2026

Bulan Dana Pernsiun: Kisah Dina dan Rara Nabung untuk Pensiun

Ini kisah tetangga sebelah. Dua anak kost cewek, kerjanyanya sekantor. Gajinya pun sama persis Rp.6,8 juta sebulan. Sama-sama sudah kerja 5 tahun, sama-sama belum nikah, keduanya kost sebelahan. Yang satu namanya Dina, umurnya baru 30 tahun tapi tabungannya sudah Rp120 juta. Yang satu lagi Rara, justru minus Rp15 juta di kartu kreditnya. Orang sekantor pada menyangka yang minus itu pasti hobi foya-foya. Padahal Rara yang minus itu justru paling jarang jajan di kantor.  

 

Dina punya tabungan 120 juta. Hidupnya sederhana banget. Tiap hari dia bawa bekel dari kost, naik KRL, nggak pernah ikut pesen kopi kekinian. Sementara Rara, yang minus 15 juta, juga bukan orang yang boros. Rara malah sering banget traktir kawannya pas makan siang. Dia jarang beli baju, tasnya cuma 2, sepatunya dipakai sampe rusak. Makanya makin aneh saja, uang Rara itu sebenarnya lari ke mana?  

 

Mereka cerita, bulan lalu keduanya liburan bareng ke Bandung, 3 hari 2 malam. Dari ceritanya, baru terihat bedanya satu per satu, pelan-pelan. Rara kalau mau beli apa-apa lihatnya lama banget, muter-muter 15 menitan. Ujung-ujungnya dia beli barang yang nggak direncanain, karena ada promo 50 persen. Sementara Dina justru paling cepat mutusin, beli cuma yang sudah masuk daftar saja. Sisa duitnya dibawa pulang, nggak dihabiskan buat kalap belanja.  

 

Pas balik ke Jakarta, Rara tunjukin aplikasi belanjanya, isinya 9 cicilan paylater aktif. Totalnya Rp1,4 juta tiap bulan, padahal barangnya udah nggak terasa kepakenya. Sementara Dina tunjukin hal lain, satu rekening bank yang beda dari rekening gajian. Setiap tanggal 25 gajian masuk, dia langsung pindahin 40 persen gaji ke situ. Rekening itu nggak ada kartu ATM-nya, sengaja biar susah diambil dadakan. 

 

Saya iseng menghitung duit Dina yang pindah tiap bulan 40 persen dari Rp6,8 juta, berarti Rp2,72 juta per bulan. Dikalikan 48 bulan selama 4 tahun terakhir, totalnya sekitar 130 juta. Tabungannya sekarang 120 juta, sisanya 10 juta sudah terpakai buat dana darurat. Hitungannya rapi, nggak ada yang janggal sama sekali. Sekarang saya paham dari mana datangnya Rp120 juta itu? 

 

Giliran menghitung duitnya Rara. Rp. 1,4 juta per bulan dikali 12 bulan, setahun jadi Rp16,8 juta. Itu buat barang-barang yang tiap hari harganya turun terus. Parfum 4 botol yang belum kebuka, sepatu yang cuma dipake 2 kali. Dia belinya bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan diskon. Dia sendiri baru sadar pas ditunjukin angkanya di atas kertas. 

 

Dari situ siapapun sadar, masalah Rara itu bukan gaji kecil. Dina sama Rara dua-duanya punya gaji Rp6,8 juta, bedanya nol rupiah. Yang bikin beda cuma satu hal kecil: kapan keputusan menabung dimulai? Dina menyimpan di awal, pas gajinya baru masuk rekening. Rara menyimpan di akhir, dan selalu nggak ada sisanya. Beda posisi menyimpannya saja, tapi hasilnya beda puluhan juta.  

 

Gara-gara cerita Dina dan Rara, saya jadi penasaran kenapa keputusan duit orang bisa beda sejauh itu? Ternyata, intinya bukan soal gaji berapa, tapi kapan kita menyimpan duitnya. Dina simpan duluan sebelum dipakai. Rara nunggu sisa yang nggak pernah ada. Keputusan kecil yang diulang tiap bulan, hasilnya bisa beda puluhan juta. Coba deh cek rekening masing-masing, kita termasuk yang seperti Dina atau Rara.

 


Tiga puluh tahun berlalu kisah di kantor, Gimana bedanya masa pensiun antara Dina dan Rara? Sudah bisa diprediksi, meskipun keduanya memulai dari titik yang sama dengan gaji Rp6,8 juta rupiah, cara mereka mengelola "waktu" menabung telah menciptakan kondisi  hari tua yang sangat berbeda.

1.    Masa Pensiun Dina. Masa pensiunnya tenang dan bisa menikmati masa pensiunnya. Kebiasaannya menyisihkan 40% gaji di awal bulan secara konsisten dilakukan sejak usia 30 tahun telah berubah menjadi aset yang sangat besar,. Rekening tanpa kartu yang dulu ia buat sengaja agar "susah diambil" kini menjadi dana abadi yang menjamin hidupnya. Ia tidak perlu bingung mencari diskon untuk bertahan hidup karena ia sudah terbiasa hidup cukup dengan daftar rencana yang jelas. Baginya, pensiun bukan tentang berhenti bekerja karena tidak mampu lagi, tapi karena dananya sudah siap jauh-jauh hari,.

2.    Masa Pensiun Rara. Masa pensiunnya penuh penyesalan. Rara harus menghadapi masa tua dengan lebih berat. Meskipun di masa muda ia merasa tidak boros, kebiasaan menunggu sisa uang di akhir bulan membuatnya sering kali tidak memiliki tabungan sama sekali, Cicilan paylater yang dulu ia anggap kecil ternyata menjadi penghambat besar bagi dana pensiunnya. Di hari tuanya, Rara masih harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan harian karena ia baru sadar di usia tua bahwa "menunggu sisa" adalah strategi yang paling berisiko.

Jadi urusan menabung atau siapkan masa pensiun, bukan soal besaran gaji. Tapi kapan memulainya adalah penentu nasib finansial jangka panjang. Dina (menabung di awal), memastikan masa tuanya aman sebelum uangnya sempat terpakai untuk hal-hal konsumtif. Sedangkan Rara (menabung di akhir), sering kali mendapati rekeningnya kosong di hari tua karena uangnya habis untuk barang-barang yang nilainya terus turun seiring waktu. Maka jelas, kecilnya gaji tidak menentukan kenyamanan di masa pensiun, melainkan kapan keputusan untuk menyimpan uang itu diambil. Keputusan kecil yang diulang setiap bulan selama puluhan tahun menghasilkan perbedaan kualitas hidup yang sangat kontras di masa tua.

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun, sudah saatnya pekerja siapkan pensiun sejak dini. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di masa pensiun. Agar tidak bergantung pada anak atau keluarga di hari tua. "#YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar