Selasa, 18 Agustus 2026

Membaca Buku untuk Pintar atau Memperbaiki Diri?

Ada orang yang begitu berambisi untuk naik jabatan, memperoleh gelar, atau mengumpulkan harta hanya agar terlihat lebih tinggi daripada orang lain. Ada pula orang ingin lebiih populer dan terkenal dibandingkan orang lain. Sayangnya, semua prosesnya nggak alami. Terlalu banyak rekayasa atau siasat. Entah apa tujuannya?

 

Kita sering lupa. Naik yang sesungguhnya itu bukan sekadar soal posisi, melainkan tentang memperluas cara memandang kehidupan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin mampu memahami berbagai sudut pandang, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya kemarin.

 

Bayangkan dua orang pekerja yang sama-sama dipromosikan menjadi manajer. Yang pertama merasa jabatan itu membuatnya lebih hebat. Ia mulai sulit menerima kritik, senang membandingkan dirinya dengan rekan kerja, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, manajer yang kedua justru semakin banyak mendengar, belajar memahami kesulitan bawahannya, dan mencari solusi agar seluruh tim berkembang. Jabatan yang sama menghasilkan sikap yang berbeda. Yang satu hanya naik posisi, sedangkan yang lain naik cara pandangnya.

 

Seperti dua orang yang membaca buku. Yang satu, agar terlihat pintar atau mendapat sanjungan dari orang lain. Sementara yang satu lagi, justru membaca buku untuk menambahh pengatahuannya yang masih terbatas dan untuk memperbaiki diri. Jadi, motif orang yang membaca buku pun berbeda-beda. Ada yang ingin dipuji dan meraih sanjungan, ada yang sadar karena pengetahuannya masih terbatas.

 


Hal yang sama juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang memiliki wawasan yang semakin luas, ia tidak lagi mudah terpancing untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting, seperti perbedaan selera, pilihan hidup, atau sekadar komentar di media sosial. Ia juga tidak merasa perlu memamerkan setiap pencapaiannya. Misalnya, seorang pengusaha yang baru meraih keuntungan besar memilih menggunakan sebagian hasil usahanya untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak di lingkungan sekitar daripada menghabiskan waktunya memamerkan gaya hidup mewah. Ia memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengaguminya, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan.

 

Karena itu, teruslah bertumbuh. Belajarlah setiap hari, bukalah pikiran terhadap pengalaman baru, dan jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Semakin tinggi kita melangkah, semakin rendah hati seharusnya kita bersikap. Sebab, orang yang benar-benar besar bukanlah mereka yang membuat orang lain merasa kecil, melainkan orang yang mampu mengangkat, menginspirasi, dan menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Itulah makna sesungguhnya dari naik: bukan agar terlihat lebih tinggi, tetapi agar pandangan kita semakin luas dan kehidupan kita semakin bermakna.

 

Maka,jangan naik hanya untuk terlihat lebih tinggi. Naiklah agar pandangan kita semakin luas. Dalam perjalanan hidup, pertumbuhan bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan melampaui diri kita yang kemarin. Semakin luas cara pandang kita, maka semakin bijak kita memahami bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan, tidak semua pencapaian perlu dipamerkan. Teruslah bertumbuh, tetap rendah hati, dan jadilah pribadi yang keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Salam literasi!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar