Ada orang yang begitu berambisi untuk naik jabatan, memperoleh gelar, atau mengumpulkan harta hanya agar terlihat lebih tinggi daripada orang lain. Ada pula orang ingin lebiih populer dan terkenal dibandingkan orang lain. Sayangnya, semua prosesnya nggak alami. Terlalu banyak rekayasa atau siasat. Entah apa tujuannya?
Kita sering lupa. Naik yang
sesungguhnya itu bukan sekadar soal posisi, melainkan tentang memperluas cara
memandang kehidupan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin mampu
memahami berbagai sudut pandang, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa
hidup bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain, melainkan perjalanan
untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya kemarin.
Bayangkan dua orang pekerja yang
sama-sama dipromosikan menjadi manajer. Yang pertama merasa jabatan itu
membuatnya lebih hebat. Ia mulai sulit menerima kritik, senang membandingkan
dirinya dengan rekan kerja, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Sebaliknya, manajer yang kedua justru semakin banyak mendengar, belajar
memahami kesulitan bawahannya, dan mencari solusi agar seluruh tim berkembang.
Jabatan yang sama menghasilkan sikap yang berbeda. Yang satu hanya naik posisi,
sedangkan yang lain naik cara pandangnya.
Seperti dua orang yang
membaca buku. Yang satu, agar terlihat pintar atau mendapat sanjungan dari
orang lain. Sementara yang satu lagi, justru membaca buku untuk menambahh pengatahuannya
yang masih terbatas dan untuk memperbaiki diri. Jadi, motif orang yang membaca
buku pun berbeda-beda. Ada yang ingin dipuji dan meraih sanjungan, ada yang sadar
karena pengetahuannya masih terbatas.
Hal yang sama juga terlihat
dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang memiliki wawasan yang semakin
luas, ia tidak lagi mudah terpancing untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak
penting, seperti perbedaan selera, pilihan hidup, atau sekadar komentar di
media sosial. Ia juga tidak merasa perlu memamerkan setiap pencapaiannya.
Misalnya, seorang pengusaha yang baru meraih keuntungan besar memilih
menggunakan sebagian hasil usahanya untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak di
lingkungan sekitar daripada menghabiskan waktunya memamerkan gaya hidup mewah.
Ia memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang
mengaguminya, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan.
Karena itu, teruslah
bertumbuh. Belajarlah setiap hari, bukalah pikiran terhadap pengalaman baru,
dan jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Semakin tinggi kita melangkah,
semakin rendah hati seharusnya kita bersikap. Sebab, orang yang benar-benar
besar bukanlah mereka yang membuat orang lain merasa kecil, melainkan orang yang
mampu mengangkat, menginspirasi, dan menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin
orang. Itulah makna sesungguhnya dari naik: bukan agar terlihat lebih tinggi,
tetapi agar pandangan kita semakin luas dan kehidupan kita semakin bermakna.
Maka,jangan naik hanya untuk
terlihat lebih tinggi. Naiklah agar pandangan kita semakin luas. Dalam
perjalanan hidup, pertumbuhan bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan
melampaui diri kita yang kemarin. Semakin luas cara pandang kita, maka semakin
bijak kita memahami bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan, tidak semua
pencapaian perlu dipamerkan. Teruslah bertumbuh, tetap rendah hati, dan jadilah
pribadi yang keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Salam
literasi!
.jpg)
%20rev.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar