Seorang pekerja bertanya, kapan sebaiknya seorang pekerja mulai menabung untuk pensiun? Ini jelas pertanyaan penting yang patut dijawab dengan tepat. Sebab, jarang pekerja punya kesadaran untuk mepersiapkan masa pensiunnya sendiri. Faktanya hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti kerja dikarenakan tidak tersedianya dana yang cukup untuk membiayai hidupnya.
Pekerja di mana pun atau
individu yang ingin merencanakan masa tua melalui program dana pensiun atau
DPLK, prinsip yang paling pentng adalah “makin cepat makin hebat”. Betapa
krusialnya soal waktu dalam berinvestasi untuk mencapai target akumulasi
dana di masa pensiun. Meskipun iuran bulanan dan estimasi imbal hasil tetap
sama, siapapun yang mulai menabung lebih awal akan memperoleh
akumulasi dana yang jauh lebih signifikan. Sebaliknya, menunda pendaftaran
hingga usia lanjut akan memangkas hasil akhir secara drastis karena
durasi pertumbuhan dana yang lebih pendek.
Usia mulai menabung (usia
masuk) memiliki pengaruh besar terhadap total akumulasi dana pensiun yang
diperoleh di akhir, meskipun jumlah iuran bulanan dan tingkat hasil investasi
tetap sama. Sebagai contoh simulasi saja, apabila pekerja menyetor iuran
bulanan sama-sama Rp.500.000 per bulan dengan tingkat imbal hasil 9% per tahun
dan pensiun di usia 56 tahun, namun yang membedakan usia masuk-nya maka
diperoleh hasil akhir dana pensiun sebagai berikut:
1. Semakin dini memulai, semakin besar dana
yang terkumpul. Jika seorang pekerja mulai menabung pada usia 28 tahun, dengan
iuran Rp500.000 per bulan dan asumsi hasil investasi 9%, akan memperoleh
akumulasi dana sebesar Rp1.870.500.000 saat pensiun di usia 56 tahun.
2. Dampak penundaan terhadap total dana. Menunda
waktu mulai menabung di dana pensiun secara drastis mengurangi hasil akhir.
Contohnya: Jika baru mulai pada usia 37 tahun (menunda 9 tahun dari usia 28),
akumulasi dana turun menjadi Rp575.000.000 saat pensiun di usia 56 tahun. Jika
baru mulai pada usia 48 tahun (menunda 20 tahun dari usia 28), akumulasi dana
hanya mencapai Rp92.000.000 saat pensiun di usia 56 tahun.
3.
Lama
masa kepesertaan. Usia mulai yang lebih muda memberikan "lama jadi peserta"
yang lebih panjang (misalnya 28 tahun vs 8 tahun), yang memungkinkan hasil
investasi (9%) bekerja lebih maksimal melalui pertumbuhan majemuk seiring
berjalannya waktu.
Singkatnya, semakin muda usia
saat mulai masuk program dana pensiun atau DPLK, semakin besar peluang untuk
mendapatkan akumulasi dana pensiun yang jauh lebih tinggi karena durasi
investasi yang lebih lama. Makin cepat masuk dana pensiun, makin hebat hasil
akhrinya.
Gimana cara memulai ikut dana
pensiun? Cara sederhana, setiap pekerja bisa mendaftar menjadi peserta DPLK (Dana
Pensiun Lembaga Keuangan) khususnya melalu platform digital DPLK (playstor atau
Appstore) sebagai program yang dirancang untuk membantu individu mempersiapkan akumulasi
dana yang akan diperoleh saat pensiun. Untuk meraih kesinambungan penghasilan
di hari tua dan membangun kemandirian finansial di masa tua. Sebab dana pensiun
atau DPLK memberikan beberapa 5 manfaat utama yaitu::
1. Perencanaan masa pensiun yang terukur. Program
ini membantu peserta menentukan target jumlah uang yang ingin dimiliki saat
pensiun dengan mengatur iuran bulanan dan lama masa kepesertaan.
2.
Pertumbuhan
melalui hasil investasi. Iuran/dana yang disetorkan setiap bulan akan
berkembang melalui hasil investasi sehingga total dana yang diterima bisa jauh
lebih besar daripada total iuran yang dibayarkan.
3.
Keuntungan
memulai lebih awal. Manfaat pensiun akan lebih besar diperoleh bila menjadi
peserta dalam jangka waktu yang lebih lama. Sebagai contoh, dengan iuran yang
sama (Rp500.000/bulan), seseorang yang menjadi peserta selama 28 tahun bisa
mendapatkan dana hingga Rp1,87 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan yang
hanya menjadi peserta selama 8 tahun (Rp92 juta).
4.
Kedisiplinan
menabung. Program ini mendorong peserta untuk secara konsisten menyisihkan dana
setiap bulan demi kesejahteraan di masa tua.
5.
Punya
kepastian dana di masa tua. Tanpa dana pensiun, berapa lama pun bekerja tidak
akan memiliki kepastian dana untuk membiayai hidup dan kebutuhan di hari tua.
Penting untuk diketahui, untuk
menentukan target dana pensiun yang paling ideal, kita perlu mempertimbangkan
beberapa faktor seperti 1) gaya hidup, berapa biaya hidup bulanan yang diharapkan
setelah tidak lagi bekerja?, 2) tingkat inflasi, karena nilai uang di masa
depan tentu berbeda daya belinya dengan nilai uang saat ini, dan 3) usia harapan
hidup, berapa lama dana yang tersedia harus mencukupi biaya hidup setelah
pensiun. Artinya, target "ideal" dana pensiun sangat bergantung pada kapan
kita mulai bertindak. Jika ingin memiliki dana pensiun di angka miliaran
(seperti Rp1,87 miliar) dengan iuran yang terjangkau, maka usia ideal untuk
mulai masuk program DPLK adalah sedini mungkin, misalnya di usia 28 tahun. Jika
kita baru mulai di usia tua, mungkin perlu menyesuaikan target atau
meningkatkan jumlah iuran secara signifikan untuk mencapai angka
"ideal" di masa pensiun.
Kita tahu, semua pekerja
bercita-cita ingin “hidup sehat, pensiun bahagia”. Tapi sayangnya peserta dana
pensiun sukarela seperri DPPK/DPLK hanya sebesar 3,68% atau baru 5,43 juta
peserta. Maka wajar, data BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan di Indonesia menggantungkan
hidupnya di hari tua dari anggota keluarga yang bekerja. Mau sampai kapan
sandwich generation atau kondisi masa pensiun yang bermasalah secara keuangan
akan terus dipertahankan? Mungkin sudah saatnya, siapapun pekerja di
sektorformal ddan informal untuk mulai menyiapkan masa pensiunnya sendiri.
Nah, mumpung mau ada
"Bulan Dana Pensiun” di bulan September 2026 ini, kini saatnya bagi
pekerja untuk siapkan pensiun. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk
kenyamanan di saat tidak bekerja lagi. Agar terwujud hidup sehat, pensiun
bahagia. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM
%20rev.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar