Ini cerita kawan saya. Sejak kerja di usia 28 tahun, dikenal sebagai pekerja keras. Loyal untuk kantornya, dedikasi buat pekerjaannya. Kerja datang pagi, pulang larut malam. Maka kawan saya bilang “kantor itu rumah kedua gue”.
Dan seminggu lalu, kawan saya akhirnya
pensiun. Usianya sudah 56 tahun. Dia ceriat, dibikin acara perpisahan. Atasannya
kasih sambutan dan ucapan terima kasih. Rekan kerja sekantor menyalaminya. Foto
bersama dan makan-makan. Setelah itu, kawan saya pulang. Berakhir sudah puluhan
tahun bekerja, saatnya pensiun.
Besoknya, apa yang terjadi di
kantor kawan saya? Kursinya sudah ditempati orang lain. Seolah tidak pernah ada
siapa-siapa di sana. Semuanya berjalan normal. Dan begitulah tempat kerja,
begitulah kantor di banyak tempat.
Ya memang begitu orang kerja.
Hidup di kantor ya seperti itu. Kita datang. Kita bekerja. Lalu, suatu hari kita
pergi alias pensiun. Dikenal loyal, berdedikasi, dan kerja keras.
Kontribusi besar ke perusahaan, sampai-sampai bilang “kantor sebagai rumah
kedua”. Dan pertanyaannya, apakah kita benar-benar menikmati hidup yang sesungguhnya?
Patut direnungkan, pada
akhirnya kantor itu hanyalah transaksional. Tempat ncari uang, tempat aktualisasi
diri yang berbatas waktu. Rekan kerja pun ada masanya. Karena itu, kantor itu
bukan rumah kedua. Kita kerja, rajin ke kantor dan punya gaji. Begitu pensiun,
meninggalkan kantor dan tidak punya gaji lagi. Ya, sesimpel itulah orang kerja
dan kantor. Jangankan pensiun, jika kita meninggal dunia saat aktif pun esoknya
meja sudah terisi dengan yang lain. Apa kantor dan rekan kerja ikut berkabung? The
show must go on, bro.
Terkadang, kita (banyak
pekerja) pengen banget dihargai di kantor. Berharap terlalu banyak sama perusahaan.
Sangat manusiawi sih. Tapi ya begitulah kantor, hanya tempat cari uang. Tidak
lebih tidak kurang. Begitu pensiun, bayar uang pesangon dan bikin event perpisahan,
disalamin dan pulang. Jadilah seorang pensiunan. Sudah jadi, eks karyawan di
kantor itu.
Ada kalimat yang sering diucapkan
bos saat perpisahan pensiun. “Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada
orangnya. Jadi, terima kasih dan selamat menikmati masa pensiun”. Penuh
basa-basi, setelah itu rekan kerja mulai ngomongin. “Kasihan ya udah pensiun, dari
mana bisa memenuhi biaya hidupnya. Stres kali ya…” begitulah gibahan rekan
kerja setelah kita pensiun.
Maka ada benarnya, tulisan yang
pernah saya baca. “Cintailah apa yang kita kerjakan tapi jangan mencintai
tempat kerja kita”. Karena saat pensiun, posisi kita terlalu mudah diganti
orang lain. Terus kok, masih mau bilang “kantor sebagai rumah kedua?”. Prinsip
kerja sederhana saja, dedicated is ok, but loyalty NO!
Jadi, apa iya kantor sebagai rumah
kedua? Sementara kita setelah pensiun, kebingungan akibat tidak punya gaji lagi.
Mulai pusing cara memenuhi kebutuhan hidup, hingga akhirnya bergantung secara
finansial dari anak-anak. Maka mumpung masih kerja, siapkan dana pensiun atau
DPLK. Biar bisa lebih tenang, sehat, dan sejahtera di masa pensiun. Sebab hari
ini, banyak pensiunan tidak tenang, tidak sehat, dan tidak sejahtera karena
kerja keras di kantor tapi lupa siapkan tabungan untuk hari tua, untuk masa
pensiunnya sendiri.
Mumpung masih kerja, selamat
mempersiapkan masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar