Sabtu, 30 Mei 2026

Literasi Orang Baik

Pernah mengalami nggak? Tiba-tiba ada orang yang tadinya dikenal baik, lalu berubah dingin. Bukan karena dia tiba-tiba jadi jahat. Tapi karena dia sudah terlalu capek jadi orang baik yang terus-terusan dikecewain. Sering disangka buruk, bahkan disakiti atas apa yang tidak dilakukannya. Fakta seperti itu ada di sekitar kita kan?

 

Ini kisah seorang kawan. Dulu dikenal orang paling nggak tegaan sedunia. Kalau ada teman yang sakit, dia yang pertama menggalang donasi. Kalau ada yang kerjaannya keteteran, dia yang stay hingga larut malam untuk bantu backup sekalipun bukan bagian dari jobdesc-nya. Semua orang senang sama dia. Ada pula orang yang punya kiprah sosial, berguna bagi orang banyak dan terasa manfaatnya. Orang-orang baik, sering mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantu orang lain.

 

Hingga suatu hari, roda berputar. Sebut saja Si Fulan yang orang baik, tiba-tiab Bapaknya masuk ICU gara-gara serangan jantung. Fulan butuh uang cepat buat DP operasi karena BPJS-nya ada masalah administrasi. Malam itu dia nge-chat semua teman dekatnya di kantor yang dulu sering banget dia bantu. Dia cuma mau pinjem uang, gajinya bulan depan dia jaminin. Dari belasan orang yang dia chat, tahu berapa yang balas? Hanya tiga. Sisanya cuma ngebaca. Dan dari tiga orang itu, semuanya bilang: "Maaf banget ya lagi nggak ada uang nih."  

 

Besoknya, salah satu temannya yang nggak mau minjemin uang itu update story. Lagi makan di restoran All You Can Eat yang harganya 300 ribu per orang. Si Fulan hanya bisa ngeliatin layar HP-nya, lama banget lihatnya. Mukanya nggak marah, nggak nangis juga.

 

Tapi kelihatan dari raut wajah Si Fulan kosong. Pikirannya hampa. Kayak ada sesuatu di dalam dadanya yang benar-benar mati detik itu juga. Dan sedihnya, dua hari kemudian, bapaknya meninggal dunia ..... 

 

Setelah cuti duka seminggu, Fulan balik ke kantor. Dan dia berubah jadi orang yang sama sekali beda. Berubah jadi dingin dan kaku. Jam 5 sore langsung pulang. Ada kerjaan teman yang telat, dia memilih pakai earphone untuk langsung pulang. Begitu ada kawannya yang mau pinjam uang, dia langsung jawab datar tanpa menoleh: "Nggak ada." Nah, orang-orang mulai bisik-bisik di belakang dia. "Si Fulan sekarang sombong ya." "Si Fulan sekarang egois banget, pulangnya tepat waktu terus." Fulan pun mendengar itu dan rasanya jadi pengen ketawa. Ketawa miris. 

 

Terkadang memang capek jadi orang baik. Banyak orang menyedot energi orang baik kayak Si Fulan bertahun-tahun. Memanfaatkan kebaikannya untuk meringankan beban kerja temannya. Tapi giliran dunia dia hancur dan dia butuh bantaun teman-temannya, mereka malah pura-pura buta. Terus pas Si Fulan pasang tembok buat melindungi dirinya yang sudah hancur, teman-temannya menyebut dia sombong? Hellow, memangnya kalian siapa. Dunia memang tempat yang kejam buat orang baik. Orang baik cuma dihargai selama masih berguna. Tapi begitu orang baik butuh bantuan, semua temanya pergi dan hilang entah ke mana?  

 

Orang yang berubah dingin itu sebenarnya lagi masa berkabung. Dia lagi mengubur versi dirinya yang lama. Versi yang naif. Versi yang mikir kalau kita baik sama orang, maka orang lain bakal baik sama kita. Rasa sakit karena diperlakukan tidak adil itu ternyata jauh lebih parah dari luka fisik. Jadi, Si Fulan bikin mekanisme pertahanan diri: lebih baik nggak usah peduli sama sekali, daripada peduli tapi akhirnya ditinggal sendirian pas lagi jatuh.  

 

Terkdang, banyak orang baik yang akhirnya memilih jadi "penjahat" di cerita orang lain. Karena menilak untuk dimanfaatin dan berani mulai bilang "enggak". Mulai jaga jarah, membatasi diri, dan mulai enggan membantu. Bukan tanpa sebab, pasti ada alasannya. Dan saat mengambil sikap, maka orang-orang toxic di sekitarnya bakal bereaksi kaget dan bilang "Kok elo berubah sih?" Iya, pasti berubah. Karena kebaikan yang nggak dikasih batas itu namanya kebodohan. Dan akhirnya sadar, capek jadi orang bodoh yang baik.  

 

Orang-orang toxic yang banyak di kantor harusnya nggak bisa menyalahkan orang yang menarik diri dari lingkungan setelah kita melihat “warna asli” dari orang-orang di sekitarnya. Dinginnya Si Fulan itu ibarat luka yang sudah mengering. Apatisnya itu tameng, pelindung. Maka jangan berharap orang yang sudah “dibakar” rumahnya oleh rekan kerja masih berpikir tetap disediakan “the hangat” waktu orang-orang itu kedinginan. Nggak ada yang gratis di dunia ini, termasuk kebaikan hati orang.  

 


Terkadang jadi orang baik memang capek. Orang yang kerjanya menghadirkan senyum, ringan tangan, menebar kebaikan tapi di akhirnya disakiti, dimanfaatin, bahkan dipinggirkan. Waktu orang baik yang terus-terusan diinjak akhirnya meledak, ledakannya itu horor yang paling menyeramkan. Hantu paling menakutkan bukan setan. Tapi orang baik yang sudah nggak punya alasan berbuat baik lagi.  

 

Maka harus bisa dimengerti, pada akhirnya orang baik "berubah jadi dingin" karena sudah terlalu capek dimanfaatin orang lain. Orang baik nggak salah bila akhirnya bersikap, untuk melindungi dirinya sendiri dari parasit hidup. Bersikap tegas pada orang-orang toxic itu bukan kejahatan. Karena terkadang jadi orang baik itu capek!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar