Selasa, 24 Maret 2020

4 Bahaya Nonton TV Menurut Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka


Di musim wabah virus corona begini, banyak orang menghabiskan waktu di rumah untuk menonton televisi (TV). Apalagi disuruh #DiRumahAja. Setelah makan, minum, main gawai. Hidup makin paripurna bila gemar menonton TV, begitu kata banyak orang.
 
Sementara banyak orang merasa iri terhadap orang lain yang hanya menonton TV. Saya justru berbalik katakana “beruntung, bila Anda tidak suka menonton TV”. Menonton TV, memang jadi kegiatan favorit di rumah. Dari anak-anak sampai orang dewasa. Alasannya, untuk mengisi waktu dan buat hiburan. Alhasil, studi Nielsen (2018) menyebut orang Indonesia mampu habiskan waktu menonton TV rata-rata 5 jam setiap harinya. Sementara berselancar di dunia maya rata-rata 3 jam 14 menit per hari, disusul mendengarkan Radio 2 jam 11 menit. Sedangkan membaca koran hanya31 menit dan membaca majalah hanya 24 menit. Pantas tradisi membaca kian jeblok.

Maka beruntung, bila Anda tidak suka menonton TV, seperti saya pun demikian.
Karena terlalu banyak menonton TV, secara tidak sadar, dapat mengganggu kesehatan mental. Terjebak pada aktivitas gaya hidup yang tidak sehat. Tdak bisa dibantah, menonton TV pun membuang waktu secara sia sia; sama sekali tidak produktif.


Menonton TV jelas berbahaya. Hasil studi menyebutkan, dampak menonton TV dua jam sehari saja dapat membuat orang merasa gelisah. Apalagi naka-anak. Risiko depresinya sangat besar dan gangguan ansietas. Keadaan tegang yang berlebihan atau tidak pada tempatnya. Selalu khawatir, cemas, tidak menentu atau takut. Coba tanya deh ke mereka yang suka menonton TV.

Pada kolom opini tulisan saya, di Harian Media Indonesia 26 Agustus 1995 – 25 tahun lalu, saya menyebutkan kebanyakan menonton TV bisa menimbulkan "Krisis Spiritual". Setidaknya, ada 4 (empat) krisis spiritual yang dialami orang yang gemar menonton TV yaitu:
1.        Krisis informasi akibat melimpahnya informasi yang diterima tanpa ada eksekusi. Maka spritualnya galau gelisah, Makin banyak informasi yang direpoleh, makin bingung makin khawatir.
2.        Krisis imajinasi sosial akibat banyaknya mencerna bahasa hiperbola dan pleonasme. Sehingga gagal aktualisasi diri secara sosial. Hidupnya dalam fantasi tanpa aksi sosial apapun.
3.        Krisis budaya akibat ajaran gaya hidup dan perilaku yang menyimpang. Jadi lebih gemar sensasi daripada esensi.
4.        Krisis identitas akibat pengaruh tayangan yang tidak sesuai dengan realitas hidupnya. Gagal jadi diri sendiri dan mengagumi kehidupan fantasi di televise. Identitasnya goyah, spiritualnya rapuh.
Dan akibat sering menonton TV, banyak orang merasa hidupnya tidak berharga. Lebih gemar membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Semua penonton TV ingin bahagia. Tapi rujukannya bukan diri sendiri melainkan orang lain. Makin merasa tidak mampu, tidak ideal dalam hidupnya.

Apalagi di musim wabah virus corona seperti sekarang. Justru yang paling takut, paling panic dan khawatir itu para penonton TV. Semua update dimakan mentah-mentah. Akibtat #DiRumahAja, justru mereka makin takut makin gelisah. Maka, hindari menonton TV berlebihan.

Beruntung, bila Anda tidak suka menonton TV.
Inilah momentum Anda dan keluarga untuk ebih banyak membaca, bila perlu menulis. Agar tidak lagi hidup dalam fantasi … #DiRumahAja #BudayaLiterasi


2 komentar:

  1. Numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    BalasHapus
  2. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus