Tampilkan postingan dengan label media sosial TBM Lentera Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media sosial TBM Lentera Pustaka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Maret 2025

Keren, Kok Mau Seorang Doktor Jadi Driver Motor Baca Keliling?

Langit mendung sepertinya hujan sebentar lagi turun sore itu. Di kaki Gunung Salak, setiap Minggu sore, selalu ada aktivitas MOtor Baca KEliling (MOBAKE) yang dilakukan relawan TBM Lentera Pustaka secara rutin. Tekadnya, hanya untuk menyediakan akses bacaan ke kampung-kampung, sambil mendekatkan buku dengan anak-anak yang daerahnya tidak punya akses bacaan. Memang tidak mudah tapi semangat juang mengantarkan buku ke kampung-kampung sama sekali tidak boleh pudar, apalagi di tengah gempuran era digital.

 

Sore ini, aktivitas motor baca keliling menyambangi Kp. Gadog Tengah Desa Sukajadi Kec. Tamansari Kab. Bogor.  Anak-anak antusias menyambut kehadiran motor baca keliling. Selalu ada gairah untuk membaca. Adalah benar, persoalan membaca ternyata bukan terletak pada minatnya melainkan tersedianya akses bacaa. Misi itulah yang dijalankan driver motor baca keliling TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. (Simak: Ternyata, Driver Motor Baca Keliling Ini Seorang Doktor Manajemen Pendidikan).

 

Bagi driver motor baca keliling di kaki Gunung Salak Bogor, urusannya hanya untuk mengajak anak-anak kampung membaca buku, melalui tersedianya akses bacaan. Tanpa rassa malu , tanpa pamrih secara rutin setiap Minggu sore menyambangi kampung-kampung untuk sediakan akses bacaan. Setiap Minggu sore, membawa 200 buku + 2 tikar di motor keliling sediakan akses bacaan kepada anak-anak kampung. Bisa jadi, tidak banyak orang yang mau dan bersedia menjadi driver motor baca keliling. Entah hujan atau mendung tetap berkeliling kampung. Saat mangkal di pinggir jalan, hatinya senang bila ada anak-anak yang mau membaca buku.

 

Tidak banyak yang tahu, di balik motor baca keliling di kaki Gunung Salak Bogor. Ternyata, driver motor baca keliling TBM Lentera Pustaka adalah seorang doctor manajemen pendidikan, seorang pegiat literasi dari Bogor. Namanya Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. Dosen FBS Unindra yang meraih gelar doktor manajemen pendidikan dari Pascasarjana Universitas Pakuan. Disertasinya berjudul “Strategi Peningkatan Efektivitas Tata Kelola Taman Bacaan Masyarakat - Penelitian Menggunakan Pendekatan Evaluasi Berbasis Model CIPP (Context, Input, Process, Product) Pada Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Bogor” yang dipertahankan di hadapan penguji pada November 2024 lalu. Peraih predikat “sangat memuaskan” atas disertasinya tentang tata Kelola taman bacaan. (Simak: https://www.youtube.com/shorts/htHg212vDO4)

 


Sejak tahun 2017, Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. mendirikan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor untuk menekan angka putus sekolah dan menyediakan akses bacaan anak-anak kampung. Kini TBM Lentera Pustaka melayani 223 anak usai sekolah pembaca aktif setiap minggunya. Berkiprah sebagai driver MOtor BAca KEliling (MOBAKE) sebagai “jalan hidup”, Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. telah meraih berbagai prestasi di dunia literasi dan taman bacaan, seperti: salah satu 20 naskah terbaik dalam lomba esai HUT Kemerdekaan RI “Cinta Indonesia” yang digelar Indonesiana.id. (2023), Penulis Terproduktif Indonesiana Tempo tahun 2022 dengan 388 artikel setahun (2022), Jagoan RTV (2021), Penerima Kampung Literasi Kemdikbud RI (2021), Peraih “31 Wonderful People kategori Pegiat Literasi dan Pendiri Taman Bacaan dari Guardian Indonesia (2021), Ramadan Heroes - Tonight Show NET TV (2021), penerima UNJ Award kategosi Alumni Mengabdi Masyarakat (2017), dan yang terbaru Penerima Banpem Komunitas Penggerak Literasi dari Badan bahasa Kemdikbud RI (2024). Anak sulung dari 4 bersaudara ini, menjadikan kiprahnya di taman bacaan sebagai ladang amal dan warisan untuk umat melalui 15 program literasi yang digagasnya hingga sekarang. Merintis taman bacaan, mengajar kaum buta aksara, merintis kelas prasekolah, dan kini menjadi “driver” motor baca keliling untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak kampung di bawah naungan Yayasan Lentera Pustaka Indonesia yang didirikannya.

 

Tanpa malu dan ragu, hingga kini dia tetap menekuni sebagai driver motor baca keliling TBM Lentera Pustaka. Minimal seminggu Sekali keliling kampung membaca buku-buku bacaan. Baginya di usia yang tidak lagi muda, dia hanya ingin terus berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama melalui taman bacaan dan literasi. “Saya tidak pernah malu jadi driver motor baca keliling, apapun gelar dan pangkat saya. Asal anak-anak kampung punya akses membaca buku, saya sudah senang dan bersyukur banget” ujarnya.

 

Sebagai driver MOBAKE (MOtor BAca KEliling) TBM Lentera Pustaka, Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. tetap komitmen dan konsisten menjalani aktivitasnya hingga kini, hanya untuk sediakan akses bacaan tanpa malu tanpa gengsi. Terlepas dari profesinya sebagai dosen FBS Unindra dan konsultan, dia menjadikan aktivitas sosial di TBM Lentera Pustaka sebagai "legacy" atau warisan untuk umat. Jadi driver motor baca keliling, memang soal kecil dan sederhana bagi sebagian orang. Tapi bagi Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. justru jadi kemewahan yang tidak ternilai harganya. Ubah niat baik jadi aksi nyata. Salam literasi #MotorBacaKeliling #KisahPegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka




Jumat, 07 Februari 2025

Kenapa Membaca Buku?

Membaca untuk Empati bukan Pintar!

 

Benar kata banyak orang. Membaca buku itu bukan untuk pintar atau cerdas. Tapi untuk memacu kelembutan dalam memandang hidup dan dunia. Untuk memacu sikap empati,  suatu kemampuan untuk memahami perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain. Berempati, berarti mau menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain. Melihat masalah dari sudut pandang orang lain.

 

Sementara orang yang membaca buku hanya untuk pintar. Ujungnya tumbuh jadi manusia yang arogan, sombong, dan sangat subjektif. Tidak punya empati dan hanya percaya pada sudut pandangnya sendiri. Padahal, empati merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan sosial manusia. Hanya empati yang dapat membantu seseorang dalam membangun hubungan baik dengan orang lain.

 

Ketika membaca untuk empati, maka siapapun dapat memahami perasaan orang lain, di samping mampu memberikan respon yang tepat pada segala keadaan. Bila ada hubungan yang kuat dan bermakna hingga kini, diawali karena membaca untuk empati. Membaca untuk memperkuat hubungan sosial, menhindari konflik dan memberi dukungan emosional. menjauhkan diri dari sikap sombong dan egois serta melatih kepemimpinan.

 


Membaca, memang untuk mengembangkan empati sekaligus membiasakan bergelut dengan perspektif yang berbeda dengan orang lain. Mamahami apa yang dirasakan orang lain, mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan mau mendengarkan bukan melulu menghakimi. Dengan membaca, kita tidak hanya belajar fakta atau informasi baru, tetapi juga memahami emosi, pengalaman, dan sudut pandang orang lain.

 

Haruki Murakami menyebut bahwa buku memiliki kekuatan untuk membentuk kepekaan dan empati, sehingga kita mampu melihat dunia dengan cara yang lebih manusiawi, penuh pengertian, dan tidak menghakimi. Membaca menjadi jalan untuk mendidik pikiran sekaligus melembutkan hati.

 

Kelembutan hati itu penting. Selain untuk mengurangi stres, hati yang lembut pun terbukti mampu meningkatkan kreativitas dan menjauh dari rasa insecure plus melatih fokus untuk hal-hal yang penting, bukan untuk yang tidak bermanfaat.

 

Maka bacalah bukan untuk pintar. Tapi untuk melatih empati diri. Salam literasi! #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen #TamanBacaan