Di era persaingan, spirit untuk menang memang penting. Tapi menang bukan selalu berarti mengalahkan orang lain. Alasan kita perlu memiliki semangat untuk menang adalah karena hidup sering kali tidak memberikan garis start yang sama kepada setiap orang. Ada yang lahir dengan kecerdasan, ada yang memiliki koneksi, ada yang punya modal besar, ada pula yang sudah berpengalaman. Namun, kita selalu memiliki ruang untuk menentukan seberapa keras kita berusaha. Karena itu, ketika kita tidak unggul dalam satu hal, jangan buru-buru merasa kalah. Cari ruang lain untuk menjadi lebih baik.
Sederhananya, kalau kalah
pintar, menanglah di rajin. Ada anak yang mungkin tidak selalu mendapat
nilai tertinggi, tetapi ia belajar setiap hari, bertanya ketika tidak paham,
dan tidak malu mengulang pelajaran. Kalau kalah koneksi, menanglah di
attitude. Ketika belum mengenal banyak orang, jadilah pribadi yang dapat
dipercaya, rendah hati, tepat janji, dan menghargai siapa pun. Kalau kalah
modal, menanglah di kerja keras. Banyak usaha besar justru bermula dari
sesuatu yang kecil, tetapi dijalankan dengan tekun dan konsisten.
Begitu juga dengan
pengalaman. Kalau kalah pengalaman, menanglah di kemauan belajar. Orang
yang belum tahu tidak perlu minder; ia hanya perlu mau belajar dari mereka yang
lebih dahulu berjalan. Demikian pula ketika hasil hari ini belum sesuai
harapan. Jangan langsung menyimpulkan bahwa perjuangan kita gagal. Bisa jadi
kita sedang berada pada bagian proses yang belum memperlihatkan hasil. Petani
tidak mencabut benih hanya karena beberapa hari belum tumbuh. Ia menyiram,
merawat, menunggu, dan percaya bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.
Di sinilah pentingnya ikhtiar
dan doa. Ikhtiar membuat kita bergerak, sementara doa membuat hati tetap
memiliki sandaran ketika hasil belum sesuai harapan. Keduanya mengajarkan kita
untuk tidak menjadi manusia yang hanya pandai berharap tanpa bergerak, tetapi
juga tidak menjadi manusia yang merasa seluruh keberhasilan hanya berasal dari
kekuatannya sendiri. Kita bekerja sebaik mungkin, belajar sebanyak mungkin,
memperbaiki diri setiap hari, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Maka, jangan ukur
kemenangan hanya dari seberapa jauh kita berada di depan orang lain. Ukurlah
dari seberapa jauh kita telah melampaui diri kita yang kemarin. Mungkin hari ini kita kalah cepat, kalah
pintar, kalah modal, atau kalah beruntung. Tidak apa-apa. Selama kita belum
berhenti belajar, belum berhenti bekerja, belum berhenti memperbaiki diri, dan
belum berhenti berdoa, perjuangan belum selesai. Sebab dalam hidup, kita
tidak harus selalu menjadi yang paling unggul; kita hanya perlu menjadi orang
yang paling gigih untuk terus bertumbuh.
Seperti orang bekerja pun
begitu. Jangan hanya puas saat punya gaji dan mampu penuhi kenbutuhan hidup
sehari-hari. Tapi menanglah dalam mempersiapkan masa pensiun, saat nanti tidak
bekerja dan tidak punya gaji lagi. Yuk siapkan pensiun!
.jpeg)
