Aku kira dia serius. Ternyata, aku cuma tempat singgah saat dia kesepian. Kalimat itu baru benar-benar kupahami setelah hampir empat bulan mengenal seorang laki-laki yang awalnya datang dengan begitu banyak perhatian. Sebut saja namanya Raka. Dia yang pertama kali mendekatiku, dia pula yang selalu punya alasan untuk memulai percakapan. Setiap pagi, pesan WA darinya hampir selalu menjadi hal pertama yang kubaca setelah membuka mata. “Udah bangun, Sayang?” atau “Jangan lupa sarapan, ya.” Hal-hal sederhana yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Tapi perlahan membuatku merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli kepadaku.
Raka memang bukan tipe
laki-laki yang hanya pandai merangkai kata. Dia mengingat hal-hal kecil yang
bahkan sudah kulupakan sendiri. Dia tahu makanan kesukaanku, lagu yang sering
kudengarkan, sampai kebiasaanku memendam masalah agar tidak merepotkan orang
lain. Kalau aku pulang kuliah, dia akan menunggu kabar sampai aku tiba di
rumah. Pernah suatu kali aku bercanda, “Lo perhatian banget. Emang gue siapa,
sih?” Dia menjawab santai, “Ya calon gue lah. Emang mau jadi siapa lagi?” Aku
tertawa mendengarnya, tetapi diam-diam kalimat itu menetap di kepalaku lebih
lama daripada yang seharusnya.
Tanpa kusadari, perhatian
yang awalnya terasa menyenangkan mulai berubah menjadi harapan. Aku mulai
menunggu pesan darinya, tersenyum sendiri ketika namanya muncul di layar
ponsel, bahkan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah
benar-benar kami bicarakan. Ketika ada laki-laki lain yang mencoba mendekat,
aku memilih menjaga jarak. Bukan karena Raka melarangku, melainkan karena aku
merasa tidak pantas membuka pintu untuk orang lain ketika hatiku sendiri sudah
mulai menyediakan tempat untuknya. Dalam pikiranku, kami memang belum punya
status, tetapi bukankah semua yang kami jalani selama ini seperti dua orang
yang sedang menuju hubungan serius?
Namun, harapan sering kali
tumbuh lebih cepat daripada kepastian. Pada suatu malam, ketika kami sedang
bertukar pesan, aku memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sejak lama
mengganggu pikiranku. “Sebenernya kita ini apa, sih?” Lama sekali dia membalas.
Aku menatap layar ponsel, mencoba menebak-nebak apa yang sedang dipikirkannya.
Sampai akhirnya muncul sebuah pesan singkat, “Jalanin aja dulu. Kenapa harus
buru-buru dikasih status?” Aku terdiam. Ada bagian dari diriku yang ingin
bertanya lebih jauh, tetapi bagian lain memilih mengerti. Mungkin dia belum
siap, pikirku. Mungkin aku hanya perlu bersabar sedikit lagi.
Sayangnya, setelah malam itu,
Raka justru perlahan menjauh. Pesan paginya mulai jarang datang. Percakapan
yang dulu bisa berlangsung berjam-jam kini hanya berisi jawaban pendek. Telepon
yang biasanya menemaniku sebelum tidur semakin jarang terdengar. Setiap kali
aku mengajaknya bertemu, selalu ada alasan yang membuat rencana kami batal. Dia
sibuk, sedang lelah, ada urusan mendadak, atau sekadar mengatakan bahwa nanti
akan mengabariku lagi. Aku berusaha memahami kesibukannya, meskipun jauh di
dalam hati aku tahu ada sesuatu yang berubah. Aku hanya belum cukup berani
mengakui bahwa mungkin perubahan itu bukan sekadar tentang kesibukan.
Anehnya, setiap kali aku
mulai berusaha menjauh, Raka selalu kembali. Dia tiba-tiba mengirim pesan,
menanyakan kegiatanku, atau mengeluh karena aku tidak lagi seramai dulu. “Lagi
sibuk apa? Kok sekarang beda?” tanyanya suatu malam. Dan seperti orang yang
lupa bagaimana rasanya kecewa, aku kembali luluh. Aku kembali membalas pesannya
dengan antusias, kembali menceritakan hariku, dan kembali berharap bahwa
mungkin kali ini dia benar-benar akan mendekat. Aku tidak sadar bahwa selama
ini aku seperti berdiri di depan pintu yang hanya dibuka ketika seseorang di
dalamnya membutuhkan teman.
Sampai suatu sore, seorang
teman memberitahuku bahwa Raka sedang intens mendekati perempuan lain. Awalnya
aku tidak percaya. Aku mencoba mencari alasan untuk membela laki-laki yang
bahkan tidak pernah memberiku kepastian itu. Mungkin mereka hanya teman, mungkin
aku salah paham, mungkin ada penjelasan yang belum kuketahui. Namun, setelah
mendengar beberapa cerita, aku akhirnya memberanikan diri bertanya langsung
kepadanya. Jawabannya datang tanpa basa-basi, seolah empat bulan kedekatan kami
tidak pernah berarti apa-apa. “Kan kita nggak pacaran. Gue nggak pernah janji
apa-apa sama lo.” Aku membaca pesan itu berulang kali, berharap menemukan
sedikit saja penyesalan di antara kata-katanya. Tidak ada.
Raka memang benar. Dia tidak
pernah resmi menjadi pacarku. Dia tidak pernah mengatakan bahwa aku
satu-satunya perempuan yang sedang didekatinya. Bahkan kalimat tentang menjadi
calon masa depan yang dulu membuatku tersenyum bisa saja baginya hanya sebuah candaan.
Tetapi kalau memang tidak pernah serius, mengapa dia memperlakukanku seolah aku
begitu istimewa? Mengapa dia datang kembali setiap kali aku mulai melangkah
pergi? Mengapa dia membuatku merasa dibutuhkan, lalu bersikap seolah aku tidak
punya alasan untuk kecewa? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku, tetapi
tidak satu pun mampu mengubah kenyataan bahwa aku telah berharap pada seseorang
yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Akhirnya, aku membalas
pesannya dengan kalimat yang bahkan sulit kutulis tanpa menahan sesak di dada.
“Iya, lo emang nggak pernah janji. Gue aja yang terlalu percaya.” Setelah itu,
aku berhenti menghubunginya. Tidak ada pesan panjang untuk meminta penjelasan,
tidak ada pertengkaran untuk membuktikan siapa yang paling bersalah. Aku hanya
memilih diam dan perlahan menarik diriku dari sesuatu yang selama ini membuatku
terus menunggu. Hari-hari pertama terasa berat. Tanganku masih terbiasa membuka
ruang percakapan kami, mataku masih mencari namanya di antara notifikasi yang
masuk. Namun, aku mulai belajar bahwa kehilangan seseorang yang tidak pernah
benar-benar menjadi milikku tetap bisa menyakitkan, dan rasa sakit itu tidak
membuat perasaanku menjadi tidak berarti.
Dua minggu kemudian, ketika
aku mulai terbiasa menjalani hari tanpa menunggu kabarnya, sebuah pesan darinya
muncul. “Lo sekarang udah punya cowok baru, ya?” Aku hampir tertawa membaca
pertanyaan itu. Setelah sekian lama menjauh, ternyata dia masih ingin tahu
apakah ada laki-laki lain yang mengisi hariku. “Belum. Emang kenapa?” balasku.
Dia menjawab, “Oh, kirain. Kangen ngobrol sama lo aja.” Aku menatap layar cukup
lama. Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku kembali berharap.
Sekarang, aku justru memahami sesuatu yang sebelumnya tidak sanggup kulihat:
bisa jadi dia memang merindukan kehadiranku, tetapi merindukan seseorang tidak
selalu berarti ingin membangun hubungan dengannya. Mungkin dia hanya kehilangan
perhatian yang selama ini selalu tersedia kapan pun dia menginginkannya.
Sejak saat itu, aku berhenti
mencari jawaban dari perilaku Raka dan mulai belajar menerima kenyataan.
Mungkin dia memang sengaja memberiku harapan, mungkin juga aku yang terlalu
cepat mengartikan perhatian sebagai keseriusan. Namun, satu hal yang kini kupahami:
tidak semua orang yang membuat kita merasa istimewa benar-benar ingin memiliki
kita. Ada yang hanya ingin memastikan bahwa ketika dunia terasa sepi, masih ada
seseorang yang bersedia mendengarkan ceritanya. Dan bodohnya, aku pernah
mengira diriku adalah tujuan, padahal ternyata hanya tempat singgah.
Sekarang, aku tidak lagi
ingin menghabiskan malam dengan memikirkan seseorang yang bahkan tidak pernah
memastikan tempatku dalam hidupnya. Aku tidak ingin lagi menerjemahkan pesan
singkat menjadi harapan panjang, perhatian sesaat menjadi janji masa depan,
atau kerinduan seseorang menjadi bukti cinta. Kalau memang ingin bersamaku,
datanglah dengan kepastian. Kalau hanya kesepian, jangan mengetuk pintu hatiku
seolah-olah ingin menetap. Sebab aku bukan tempat persinggahan yang bisa kau
datangi sesukamu, lalu kau tinggalkan ketika sudah menemukan kebahagiaan di
tempat lain.
Dan jika suatu hari kau
kembali, Raka, mungkin aku masih akan mengingat bagaimana rasanya bahagia saat
namamu muncul di layar ponselku. Tapi jangan salah mengartikan kenangan itu
sebagai kesempatan kedua. Aku pernah kehilangan banyak malam hanya untuk
memikirkanmu, sampai lupa bahwa hidupku sendiri juga layak diperjuangkan. Kini
aku mengerti, yang paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi,
melainkan ketika kita terlalu lama menunggu seseorang yang sejak awal tidak
pernah berniat tinggal. Jadi, pergilah jika memang hanya ingin singgah.
Kali ini, pintunya tidak akan kubuka lagi. Aku sudah terlalu lama menjadi
tempat pulang bagi seseorang yang tidak pernah menganggapku rumah.
Dan kini, aku hanya belajar
memilih diriku sendiri….
.jpg)