Ada satu hal yang sering disalahpahami tentang orang baik. Ketika orang baik tiba-tiba pergi tanpa drama, bukan berarti ia tidak peduli. Bisa jadi ia sudah terlalu lama peduli sampai akhirnya melakukan silent assessment. Orang baik biasanya tidak langsung marah ketika diperlakukan tidak adil. Ia hanya mengamati, memberi kesempatan, memahami alasan, bahkan memaafkan. Tetapi diam bukan berarti bodoh. Ia mencatat pola: siapa yang hanya berharap dibantu, siapa yang tidak lagi menghargai, dan siapa yang tidak lagi mau bekerjasama dengan orang baik. Dan siapa yang menganggap kebaikan sebagai sesuatu yang wajib diberikan kepadanya. Ketika penilaian itu selesai, orang baik tidak selalu membuat keributan. Ia cukup berkata dalam hati, “Saya sudah tahu siapa kamu.” Lalu pergi.
Karena itu, kebaikan tanpa
batas justru bisa mengundang orang untuk memanfaatkannya. Membuat orang tidak
tahu diri dan tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ada orang
yang ketika kita selalu membantu, menganggap bantuan itu kewajiban. Ketika kita
selalu mengalah, lalu menganggap kita tidak punya harga diri. Ketika kita
selalu berkata “iya”, banyak orang lupa bahwa kita sebenarnya punya hak untuk
berkata “tidak”. Maka kebaikan membutuhkan pagar. Orang baik pun punya batas.
Boundaries bukan tanda bahwa
kita berubah menjadi jahat; boundaries adalah cara menghormati diri sendiri.
Tahu batas. Contohnya sederhana: seorang teman terus-menerus meminjam uang,
tidak pernah mengembalikan, lalu datang lagi ketika membutuhkan. Selama ini
kita membantu karena kasihan. Suatu hari kita berkata, “Maaf, kali ini saya
tidak bisa.” Kalau setelah itu dia marah dan menganggap kita berubah, mungkin
yang hilang bukan persahabatan tetapi akses dia terhadap kebaikan kita. Bila
kita sudah baik pada satu lingkungan tapi ada orang yang kerjanya mengganggu bahkan
menjadi informan orang jahat, maka orang baik layak untuk pegi.
Begitu pula dengan self-compassion.
Jangan sampai kita begitu sibuk menyelamatkan orang lain sampai lupa
menyelamatkan diri sendiri. Kita tidak harus membakar diri agar orang lain
merasa hangat. Dalam keluarga, pekerjaan, bahkan pertemanan, ada kalanya kita
terus menjadi tempat curhat, penolong, pemberi solusi, tetapi ketika kita
sendiri sedang jatuh, tidak ada yang bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Pada
titik tertentu, mundur bukan berarti membenci. Mengurangi komunikasi bukan
berarti sombong. Berhenti membantu bukan berarti kehilangan hati. Itu bisa
menjadi bentuk paling sehat dari mencintai diri sendiri: “Saya tetap
mendoakanmu, tetapi saya tidak lagi membiarkan perilakumu menghancurkan
ketenangan hidup saya.”
Jadi, jangan heran jika suatu
hari orang baik tiba-tiba pergi tanpa drama. Mungkin itu bukan keputusan yang
tiba-tiba—melainkan hasil dari penilaian yang dilakukan diam-diam selama
berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Orang tulus memang langka. Karena
itu, kalau kita menemukan orang yang tulus, jangan diuji terus-menerus sampai
ia lelah. Dan kalau kita sendiri menjadi korban orang licik, jangan merasa
bersalah ketika memilih pergi.
Pergi dengan tenang setelah
berkali-kali disakiti bukan berarti kalah. Itu kemenangan atas diri sendiri
yang akhirnya berani berkata: “Saya boleh baik kepada siapa pun, tetapi saya
juga wajib baik kepada diri saya sendiri.” Jadilah orang baik di mana pun!
