Selasa, 03 November 2026

Esesni Hambatan Pasar Kerja di Indonesia, Apa Saja?

Mencari pekerjaan di Indonesia kini tak cukup hanya berbekal ijazah dan niat bekerja keras. Hasil survei terbaru KedaiKOPI (2026) mengungkapkan realitas di pasar kerja nasional, di mana faktor koneksi atau "orang dalam" masih mendominasi sebagai hambatan utama yang paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat saat mengadu nasib mencari kerja.

 

Tembok besar ini dikonfirmasi oleh 56,0% responden yang mengaku kesulitan mendapat pekerjaan akibat ketiadaan relasi internal. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya ketersediaan lapangan kerja (48,0%), sengitnya persaingan antar-pelamar (41,3%), serta aturan batasan usia (39,2%) yang kerap menutup pintu karier bagi kelompok usia tertentu sebelum kompetensi mereka sempat diuji.

 

Tak berhenti di situ, kualitas lowongan yang ada pun kerap memicu dilema bagi para pencari kerja. Sebanyak 28,2% responden mengeluhkan tawaran gaji yang terlalu rendah, sementara hambatan lain mencakup ketidaksesuaian latar belakang pendidikan (18,5%), minimnya pengalaman kerja (17,7%), hingga akses informasi lowongan yang masih terbatas (17,2%) dan distribusi yang tidak merata (11,4%).

 


Menariknya, di tengah maraknya wacana disrupsi teknologi, kecerdasan buatan (AI) justru menempati urutan paling buncit sebagai hambatan, yakni hanya sebesar 7,1%. Temuan ini mempertegas bahwa tantangan terbesar pasar kerja di Indonesia saat ini bukanlah ancaman otomatisasi mesin, melainkan isu struktural klasik terkait transparansi rekrutmen dan keterbatasan ruang kerja.

 

Jadi, inilah “PR” besar pemerintah untuk sediakan lapangan kerja. Agar anak-anak bangsa bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, sekaligus untuk mengangkat martabatnya sebagai manusia yang berdaya. Salam literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar