Mencari pekerjaan di Indonesia kini tak cukup hanya berbekal ijazah dan niat bekerja keras. Hasil survei terbaru KedaiKOPI (2026) mengungkapkan realitas di pasar kerja nasional, di mana faktor koneksi atau "orang dalam" masih mendominasi sebagai hambatan utama yang paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat saat mengadu nasib mencari kerja.
Tembok besar ini dikonfirmasi
oleh 56,0% responden yang mengaku kesulitan mendapat pekerjaan akibat ketiadaan
relasi internal. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya ketersediaan lapangan
kerja (48,0%), sengitnya persaingan antar-pelamar (41,3%), serta aturan batasan
usia (39,2%) yang kerap menutup pintu karier bagi kelompok usia tertentu
sebelum kompetensi mereka sempat diuji.
Tak berhenti di situ,
kualitas lowongan yang ada pun kerap memicu dilema bagi para pencari kerja.
Sebanyak 28,2% responden mengeluhkan tawaran gaji yang terlalu rendah,
sementara hambatan lain mencakup ketidaksesuaian latar belakang pendidikan (18,5%),
minimnya pengalaman kerja (17,7%), hingga akses informasi lowongan yang masih
terbatas (17,2%) dan distribusi yang tidak merata (11,4%).
Menariknya, di tengah
maraknya wacana disrupsi teknologi, kecerdasan buatan (AI) justru menempati
urutan paling buncit sebagai hambatan, yakni hanya sebesar 7,1%. Temuan ini
mempertegas bahwa tantangan terbesar pasar kerja di Indonesia saat ini bukanlah
ancaman otomatisasi mesin, melainkan isu struktural klasik terkait transparansi
rekrutmen dan keterbatasan ruang kerja.
Jadi, inilah “PR” besar
pemerintah untuk sediakan lapangan kerja. Agar anak-anak bangsa bisa
mendapatkan pekerjaan yang layak, sekaligus untuk mengangkat martabatnya
sebagai manusia yang berdaya. Salam literasi!
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar