Ini patut jadi renungan. Bahwa keberhasilan seseorang pada dasarnya patut diapresiasi. Tapi situasinya jadi berbeda ketika yang berhasil adalah pihak yang selama ini dianggap sebagai musuh atau lawan. Secara naluriah, manusia cenderung memiliki rasa tidak suka ketika orang yang berseberangan dengannya justru mencapai kemenangan. Karena itu, ungkapan “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil” sesungguhnya menggambarkan realitas psikologis yang sangat manusiawi. Sulit meminta seseorang bersorak ketika keberhasilan lawannya justru dipandang sebagai kekalahan bagi dirinya sendiri. Memang nyata, mana ada orang suka ketika musuhnya berhasil?
Entah apa alasannya tidak
suka? Tapi dalam sebuah persaingan, keberhasilan pihak musuh sering kali
dipersepsikan sebagai ancaman. Ketika seseorang telah menghabiskan waktu,
tenaga, dan sumber daya untuk mengalahkan lawannya, kemenangan sang lawan tentu
dapat menimbulkan rasa kecewa, iri, atau frustrasi. Hal tersebut bukan berarti
setiap orang memiliki niat buruk, melainkan merupakan konsekuensi dari adanya
kepentingan yang saling berhadapan. Dalam dunia bisnis, politik, olahraga, pergaulan
maupun kehidupan sehari-hari, persaingan memang membuat keberhasilan satu pihak
terkadang terasa seperti kerugian bagi pihak lainnya. Ibaratnya, ketika musuh berjaya
maka ego terluka.
Tidak menyukai keberhasilan
musuh tidak selalu berarti seseorang harus merayakan kegagalannya. Ada
perbedaan antara mengakui bahwa kemenangan lawan terasa menyakitkan dan
berharap lawan tersebut hancur. Sikap yang lebih dewasa adalah menerima
kenyataan bahwa persaingan merupakan bagian dari kehidupan, sembari tetap
menghormati kemampuan pihak yang berhasil. Bahkan, keberhasilan seorang lawan
dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kelemahan dan mempersiapkan diri
menghadapi persaingan berikutnya.
Jadi, “mana ada orang suka
bila musuhnya berhasil” bukanlah pembenaran untuk bersikap buruk terhadap lawan.
Melainkan gambaran tentang bagaimana emosi dan ego manusia bekerja dalam
situasi persaingan. Wajar jika seseorang merasa kecewa ketika pihak yang
berseberangan dengannya menang. Yang membedakan adalah bagaimana perasaan
tersebut dikelola. Kekalahan lawan mungkin terasa menyenangkan, tetapi
kemampuan untuk tetap sportif ketika lawan berhasil justru menunjukkan
kedewasaan dan kualitas seseorang dalam menghadapi persaingan.
Ketahuilah, bersaing atau
kompetisi itu bagus. Tapi landasannya harus sikap sportif dan objektif. Yang
susah itu bia bersaing tapi dasarnya kebencian atau iri hari. Maka sudah pasti
terjadi, “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil?”. Dan akhirnya jadi
sakit. Jadilah literat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar