Entah kenapa, pagi ini,
secangkir kopi terasa berbeda ketika dinikmati di tepi sungai. Di tempat
sederhana bernama Kopi Pensiunan, suara gemericik air berpadu dengan aroma kopi
yang mengepul perlahan. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang harus dibandingkan.
Duduk menghadap sungai, saya seperti diingatkan bahwa hidup sebenarnya tidak
serumit yang sering kita pikirkan. Kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak
dan menikmati apa yang sudah Allah letakkan di hadapan kita.
Ngopi di Kopi Pensiunan di
Kp. Cipancar Desa Sirnajaya kawasan Puncak 2 Sukamakmur ternyata indah dan
reflektif. Selama ini, manusia sering sibuk melihat “gelas” orang lain. Melihat
rumahnya, pekerjaannya, hartanya, perjalanannya, bahkan kebahagiaannya. Tanpa
sadar, kita lupa menikmati kopi di gelas sendiri atau makanan yang tersaji di
piring sendiri. Padahal, di hadapan kita mungkin sudah ada rezeki yang cukup,
keluarga yang menyayangi, tubuh yang masih diberi kesehatan, dan kesempatan
untuk menyeruput kopi sambil mendengarkan sungai mengalir. Di Kopi Pensiunan,
secangkir kopi sederhana pun terasa seperti pengingat: tidak semua kenikmatan
harus mahal untuk membuat hati bahagia.
Di tepi sungai pagi ini, saya
belajar bahwa menikmati hidup bukan berarti memiliki segala sesuatu, melainkan
mampu mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Kita tidak harus menunggu kaya untuk
bahagia, tidak harus menunggu pensiun untuk menikmati ketenangan, dan tidak
perlu menunggu semuanya sempurna untuk mengucapkan alhamdulillah. Ada
kebahagiaan yang tumbuh justru ketika kita berhenti membandingkan diri dengan
orang lain dan mulai merawat kehidupan sendiri—menjaga kesehatan, mencintai
keluarga, mengabdi sosial, memperbanyak silaturahmi, dan memberi ruang bagi
hati untuk tenang.
Maka pagi ini, ngopi di Kopi
Pensiunan bukan sekadar minuman, melainkan sebuah pelajaran kehidupan. Sungai
terus mengalir tanpa pernah sibuk membandingkan dirinya dengan sungai lain; ia
hanya menjalankan jalannya menuju tujuan. Begitu pula manusia. Nikmati saja
gelas kita sendiri, syukuri rezeki kita hari ini, pelihara kesehatan kita, dan
rayakan ketenangan sekecil apa pun yang Allah berikan. Sebab bisa jadi, hidup
yang selama ini kita cari ternyata sudah ada di depan mata—dalam secangkir
kopi, suara sungai, udara pagi, dan hati yang akhirnya belajar berkata: “Cukup.
Aku bersyukur dengan hidupku hari ini.” Alhamdulillah, yuk kita ngopi!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar