Ada kalanya hidup terasa terlalu penuh. Terlalu banyak masalah yang harus dipikirkan, terlalu banyak tekanan yang harus ditanggung, dan terlalu banyak emosi yang harus disimpan. Sampai akhirnya, yang kita butuhkan bukan nasihat baru. Bukan pula lebih banyak orang yang datang menyelamatkan, melainkan sedikit jarak dan ruang untuk bernapas. Dalam kesunyian, pikiran perlahan menemukan kembali kejernihannya, hati belajar menenangkan dirinya sendiri. Dan kita mulai memahami bahwa ketenangan tidak selalu harus dicari dari kehadiran orang lain.
Mungkin memang ada fase dalam
hidup. Ketika kita perlu berhenti sejenak dari keramaian, bukan karena kita
membenci dunia atau tidak membutuhkan siapa-siapa. Tapi karena kita ingin
kembali mengenali siapa diri kita sebenarnya. Kita belajar bahwa orang lain
boleh menjadi tempat berbagi cinta, dukungan, dan kebahagiaan. Tapi jangan
sampai mereka menjadi satu-satunya tempat kita menggantungkan ketenangan. Sebab
ada bagian dari diri kita yang hanya bisa kita temukan ketika dunia sedang
sunyi dan tidak ada siapa-siapa selain diri kita sendiri.
Di sanalah kedewasaan
emosional perlahan tumbuh. Bukan ketika kita menjadi seseorang yang tidak
membutuhkan siapa pun, melainkan ketika kita mampu mencintai seseorang tanpa
kehilangan diri sendiri. Mampu menerima kehadiran tanpa takut pada kesendirian;
dan mampu tetap utuh meskipun orang yang kita cintai tidak selalu berada di
sisi kita. Terkadang, yang paling kita perlukan bukanlah jawaban baru. Tapi
cukup ruang untuk diam, menepi, dan mendengarkan suara hati yang selama ini
tertutup oleh riuhnya dunia.
Dan pada akhirnya, ketenangan
terdalam bukan semata-mata lahir karena semua keadaan berjalan sesuai keinginan
kita. Ketenangan datang ketika kita belajar berpasrah sepenuhnya kepada Ilahi,
menerima setiap takdir-Nya dengan cinta, serta percaya bahwa bahkan sesuatu
yang terasa buruk bagi kita belum tentu buruk di hadapan-Nya. Seperti seorang
bayi yang menangis ketika wajahnya dibasuh oleh tangan ibunya karena merasa
dingin dan tidak nyaman, padahal sang ibu sedang membersihkannya dengan penuh
kasih sayang. Begitulah terkadang kita menangisi sesuatu yang sebenarnya sedang
Tuhan gunakan untuk membersihkan, menjaga, atau mengarahkan kita kepada sesuatu
yang belum mampu kita pahami.
Barangkali yang paling sering
membuat kita terluka bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ego kita yang
ingin kenyataan berjalan sesuai kehendak kita. Kita memaksa apa yang ingin
pergi untuk tetap tinggal, memaksa sesuatu yang telah berakhir untuk kembali,
dan memaksa takdir mengikuti apa yang kita anggap paling baik. Padahal mungkin,
ketenangan mulai hadir ketika kita berhenti melawan apa yang sudah ditetapkan,
lalu berkata dalam hati, “Ya Allah, aku tidak selalu mengerti jalan-Mu,
tetapi aku percaya kepada-Mu.”
Maka ambillah waktu untuk
menepi, kenali kembali diri kita, pulihkan hati, lalu kembalilah menghadapi
dunia dengan keyakinan bahwa tidak semua yang menyakitkan adalah bentuk
kehilangan. Bisa jadi, di balik sesuatu yang tidak kita mengerti, ada kasih
sayang Tuhan yang sedang bekerja dalam cara yang belum mampu kita lihat.
Jadilah literat!

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar