Rabu, 29 Juli 2026

Untuk Apa Jahat di Kehidupan Orang Lain?

Ini pertanyaan penting. Untuk apa sih jahat di kehidupan orang lain? Bukankah hidup hanya sekali. Usia atau umur sudah ada batasnya. Rezeki juga sudah ditentukan. Terus, bila masih mau berbuat atau bersikap jahat pada orang lain. Bertanyalah, untuk apa? Dan, kenapa kita tidak mau berbuat baik?


Jangan lupa, kita ini hanya tamu di atas tanah. Kita berbuat baik saja  belum tentutanah mau menerimanya? Apalagi berbuat jahat, bisa jadi tanah menolak kedatangan kita. Sekali lagi, untuk apa menjadi jahat dalam kehidupan orang lain?


Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan rasa benci, iri, dendam. Apalagi saling menjatuhkan atau menghalangi perbuatan baik orang lain. Ingat, jangan pernah menyimpan kebencian terlalu lama. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Dan kelak, kita akan pulang pun tanpa membawa apa-apa.

 

Soal rezeki, jangan bingung. Setiap kita sudah punya “jatah” rezeki masing-masing. Rezeki orang lain pun tidak akan mengurangi rezeki kita. Rezeki sudah punya jalan sendiri untuk menemui pemiliknya. Tentu, bila pemiliknya baik maka reeki baik akan menghampirinya. Dan bila pemiliknya buruk, maka yang akan datang rezeki buruk pula.


Keberhasilan orang lain dan siapapun, sama sekali tidak akan mengambil takdir baik yang telah Allah tetapkan untuk kita. Maka tidak perlu gelisah melihat orang lain bahagia. Jangan susah melihat orang senang. Jangan senang melihat orang susah. Jadi, cukup berbuat baik dan jangan jahat di kehidupan orang lain.



Memang benar, menjadi baik memang tidak selalu membuat kita diperlakukan dengan baik. Terkadang, ada ketulusan yang disalahpahami. Kebaikan yang tidak dibalas. Bahkan hati yang tetap terluka meski sudah berusaha menjaganya. Biarlah, semua akan ada waktunya ada balasannya.


Tetaplah memilih menjadi baik. Bukan karena semua orang pantas menerima kebaikan kita. Tapi karena kita ingin menjaga hati kita tetap baik di hadapan Allah. Sebab, kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang memperlakukan kita? Kitahanya punya pilihan untuk berbuat baik atau buruk?


Hidup itu bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki. Yang jauh lebih penting adalah dalam keadaan seperti apa hati kita ketika akhirnya kembali kepada Allah?
Selama masih diberi waktu, tinggalkanlah jejak yang baik. Ringankan beban orang lain, maafkan yang mampu kita maafkan, dan teruslah memperbaiki diri.


Sebab kebaikan tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Kita hanya tamu di buminya Allah. Dunia hanya tempat singgah. Semoga kita kembali kepada Allah dengan hati yang tenang. Maka hati-hati dengan hati, karena hati adalah kunci. Dan bila tidak bisa berbuat baik, cukup diam. Jangan jahat di kehidupan orang lain!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar