Belakangan ini, di antara kita, mungkin sering melihat orang-orang yang perlahan menjauh dari lingkungannya, dari temannya, dari rekan-rekan kerjanya, dari komunitasnya, bahkan dari keluarganya. Tadinya kita kira, siapapun yang memilih menjauh atau pergi dari lingkungan atau organisasi yang dulunya sangat dicintai karena menemukan “tempat yang lebih baik”. Seperti orang yang resign dari kantor, kita kira karena mendapat pekerjaan di kantor lain yang gajinya lebih besar dan posisinya lebih bagus. Wajar kan?
Tapi ternyata, tidak selalu
begitu. Belum tentu seseorang menjauh karena mendapat tempat yang lebih baik. Tidak
semua orang yang pergi karena mencari tempat yang lebih asyik. Terkadang,
sebagian orang pergi dari ingin menjauh dari sesuatu yang terus-menerus membuat
dirinya tidak nyaman. Jadi, bukan karena ada yang menariknya untuk pergi. Tapi
karena ada yang terus mendorong untuk menjauh.
Apa dorongan yang membuat
untuk pergi? Dorongan itu sering kali bukan berupa tindakan besar. Justru muncul
dari hal-hal kecil yang terjadi berulang kali. Kata-kata tanpa penghargaan yang
meremehkan usahanya. Kritikan yang terus-terusan tanpa pernah ada apresiasi.
Prasangka buruk yang terus dilayangkan tanpa henti.
Selalu ada hal yang membuat orang
untuk menjauh. Vonis yang membuatnya merasa dirinya memang tidak akan pernah
cukup baik. Candaan yang menurut pelaku lucu, tetapi bagi penerimanya
meninggalkan luka. Membandingkan dengan orang lain yang terus diulang. Sikap yang selalu mencari kesalahannya, tetapi
jarang melihat kebaikannya. Tidak pernah diberi kesempatan menjelaskan ketika
terjadi kesalahpahaman. Pendapatnya selalu dipotong, diabaikan atau dianggap
tidak penting, bahkan diperlakukan berbeda dibanding orang lain tanpa alasan
yang jelas.
Satu kejadian mungkin tidak akan
membuat seseorang pergi. Tapi jika hal-hal kecil yang buruk terjadi terus-terusan,
sedikit demi sedikit memuat seseorang mulai kehilangan rasa memiliki. Akhirnya
ia memilih menjaga jarak. Memilih pergia dan menjauh. Dan setelah ia benar-benar
pergi, barulah orang-orang di sekitarnya sibuk bertanya, "Mengapa dia
berubah?" atau "Mengapa dia menjauh?".
Padahal mungkin pertanyaan yang
penting adalah, "Apakah selama ini ada sikap atau perkataan saya yang
mendorongnya pergi?". Karenanya, untuk mempertahankan sebuah hubungan
perlu memastikan bahwa kita tidak menjadi alasan yang membuat orang lain lebih
baik pergi daripada tetap tinggal. Ketika sudah pergi, baru tersadar akan kesalahannya.
Sebab hari ini, banyak yang tidak
menghargai saat dekat lalu menyesali saat sudah pergi. Berhati-hatilah dalam
hidup!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar