Ironi dunia literasi itu nyata. Anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk 2026 dipangkas nyaris setengah dari tahun sebelumnya. Dari Rp721 miliar jadi Rp377. Dampaknya, sudah pasti bantuan buku gratis ke daerah terhenti, pembangunan perpustakaan berhenti, dan program bantuan penguatan literasi ke daerah pasti terputus. Sungguh mengerikan literasi di Indonesia.
Belum lagi soal fasilitas ruang
baca di taman bacaan masyarakat (TBM) yang mengenaskan. Fasilitas ruang baca harusnya
memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, dan
kondusif bagi kegiatan literasi. Ruang baca yang bersih, memiliki pencahayaan
dan sirkulasi udara yang baik, dilengkapi meja, kursi, serta koleksi bacaan
yang tertata rapi dapat meningkatkan minat masyarakat untuk datang, membaca,
dan memanfaatkan layanan TBM secara berkelanjutan. Selain mendukung kenyamanan,
fasilitas yang baik juga memungkinkan TBM menjadi ruang belajar, berdiskusi,
dan berinteraksi bagi berbagai kelompok usia. Karenanya, penyediaan fasilitas
ruang baca yang berkualitas tidak hanya meningkatkan pengalaman membaca
pengunjung, tetapi juga memperkuat peran TBM sebagai pusat pembelajaran
sepanjang hayat dan pengembangan budaya literasi di masyarakat.
Lalu, bagaimana kondisi
aktual fasilitas ruang baca di taman bacaan masyarakat? Berdasarkan hasil
survei terhadap para pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia,
kondisi umum fasilitas ruang baca saat ini sebagian besar dinilai belum memadai.
Yaitu 53% TBM menganggap fasilitas ruang baca belum memadai, 24% TBM merasa
fasilitasnya sudah memadai, dan 23% TBM menjawab mungkin memadai. Dapat
dikatakan, hanya seperempat TBM di Indonesai yang memiliki fasilitas ruang baca
memaddai. Survei ini dilakukan oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka
Bogor) pada Juli 2026 yang melibatkan 172 pengelola TBM yang tersebar di 97
Kabupaten/Kota di 27 Provinsi melalui google form.
Fasilitas ruang baca yang
memadai di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dapat diukur melalui beberapa
indikator yang mendukung kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, dan efektivitas
kegiatan membaca. Indikator-indikator yang jadi acuan antara lain: 1) kenyamanan
ruang baca (luas area, sirkulasi udara, pencahayaan), 2) perabot dan sarana mmbaca
(area duduk, rak buku, karpet), 3) koleksi dan akses bacaan, 4) kebersihan dan keamanan
(terawatt, tempat sampah), 5) akses pendukung (toilet, area parkir), 6) fasilitas
pendukung (wi-fi, papan informasi, jam operasional), dan 7) lingkungan literasi
(rang kegiatan/diskusi, media promosi, pajangan edukatif).
Jadi, implikasi dari kurang
memadainya fasilitas ruang baca di TBM adalah pengelola TBM perlu lakukan evaluasi
mandiri untuk mengidentifikasi area spesifik mana yang kurang (misalnya
pencahayaan, rak buku, atau kenyamanan tempat duduk). Di sisi lain, TBm perlu menentukan
standar minimum kenyamanan “ruang baca”. Dan akhirnya, harus bergerak untuk
mencari dukungan berupa CSR atau bantuan pihak ketiga untuk kolaborasi dalam gerakan
literasi. #SurveiTamanBacaan #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan’
%20rev.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar