Ini sebuah nasihat literasi. Pohon itu tidak pernah mengeluh saat diterpa hujan, tidak sombong saat tumbuh tinggi, dan tidak marah saat daunnya gugur. Ia tetap berdiri, tetap memberi teduh sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak menyadari keberadaannya. Begitu pula hidup yang indah, bukan tentang menjadi yang paling terlihat. Tapi tentang tetap konsisten memberi manfaat meski tidak selalu mendapat penghargaan. Begitulah filosofi berkiprah di taman bacaan masyarakat (TBM).
Berkiprah di taman bacaan,
ternyata mengajarkan tentang kerendahan hati, keteguhan, dan ketulusan dalam
memberi manfaat kepada sesama. Pohon tetap berdiri kokoh saat diterpa hujan dan
angin, sebagaimana manusia menghadapi berbagai tantangan hidup. Seperri relawan
taman bacaan mengabdi untuk literasi. Tidak mengeluh ketika menghadapi
kesulitan, tidak membanggakan diri ketika tumbuh tinggi, dan tidak kecewa
ketika kehilangan daun-daunnya. Pesan ini mengajak kita untuk menjalani hidup
dengan sikap sabar, rendah hati, dan tetap berbuat baik dalam berbagai keadaan.
Entah kenapa, sering kali
manusia ingin dihargai, dipuji, atau diakui atas setiap kebaikan yang
dilakukan. Pengen banget dipuji dan mendapat validasi orang lain. Padahal,
tidak semua kontribusi akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Pohon
memberikan keteduhan, menghasilkan oksigen, dan menjadi tempat berlindung tanpa
pernah meminta imbalan. Begitul pula, nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan
oleh banyaknya pujian yang diterima, melainkan oleh manfaat yang dirasakan oleh
orang lain. Ketulusan justru tampak ketika seseorang tetap berbuat baik
meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.
Seperti berkiprah di taman
bacaan, semangat seperti pohon sangat relevan. Banyak relawan dan pengelola
taman bacaan bekerja di balik layar: membersihkan rak buku, memperbaiki buku
yang rusak, menata ruang baca, mencari donasi, atau mendampingi anak-anak membaca
dan belajar, bagkan menjalankan motor baca keliling ke kampung-kampung. Kerja-kerja
sosial itu mungkin jarang terlihat dan tidak selalu mendapatkan ucapan terima
kasih. Namun, hasilnya dapat dirasakan oleh banyak anak usia sekolah yang akhirnya
menjadi lebih gemar membaca, lebih percaya diri, dan memiliki kesempatan
belajar yang lebih baik karena tersedia akses bacaan.
Seperti relawan di TBM
Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Enam hari dalam seminggu melayani
kegiatan membaca anak-anak, mengajar kelas prasekolah, meberantas buta aksara,
hingga menjalankan motor baca keliling (Mobake) ke kampung-kampung yang tidak
punya akses bacaan. Relawan yang tanpa pamrih datang ke TBM dan mengabdi atas
nama kemanusiaan. Semuanya dilakukan dengan konsisten dan sepenuh hati. Tentu,
tidak banyak yang mengetahui kiprah relawan di taman bacaan. Tapi kontribusinya
sangat besar sehingga kegiatan membaca jadi lebih asyik dan menyenangkan.
Relawan TBM yang sabar
mendampingi anak yang kesulitan membaca selama berbulan-bulan tanpa
mengharapkan pujian. Ketika suatu hari anak itu mampu membaca cerita dengan
lancar dan berani tampil di depan teman-temannya, itulah buah dari ketulusan
yang selama ini ditanam. Seperti pohon yang memberi teduh tanpa memilih siapa
yang akan berteduh di bawahnya, taman bacaan yang dikelola dengan hati akan
terus memberi manfaat bagi masyarakat, meskipun tidak selalu menjadi pusat
perhatian. Salam literasi!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar