Seorang kawan kerja di dana pensiun, salah satu perusahaan manajer investasi gede. Suatu hari, ngopi bareng dan ngobrol santai di kafe. Dia bilang begini, "Orang yang paling tenang soal uang itu yang nggak gampang panik waktu investasi turun atau inflasi naik. Apapun kondisinya, nggak panik”
Saya agak bingung.
Lalu bertanya, “Apa maksudnya?"
Dia jawab, "Iya,
itu orang-orang yang nggak langsung mengubah standar hidup begitu gaji naik. Biar
gajinya naik tetap biasa saja"
Saya pun mikir. Dalam
hati, langsung membatin, "Oh, ini mah saya banget. Tapi kok bisa ya?”
Dia lanjut
cerita, "Elo lihat ya, orang yang baru naik gaji, hal pertama yang mereka
lakukan biasanya apa?"
Saya jawab,
"Biasanya beli barang baru? Ganti HP? Atau liburan?"
Dia mengangguk. "Dan
itu yang bikin mereka nggak pernah benar-benar tenang soal
uang."
Saya pun ingat, dulu
saat gaji naik, saya langsung mikir: "Wah, sekarang saya bisa lebih hedon.
Sedikit konsumtif". Langsung ganti HP. Beli sepatu baru. Makan di restoran
mahal bisa dua Minggu sekali. Dan nggak lama kemudian, tetap saja uang saya nggak
cukup.
Kenapa? Karena
setiap ada tambahan pemasukan, standar hidup ikut naik. Begitu gaji naik, gaya
hidup ikutan naik. Gaji naik 20%, pengeluaran naik 20% juga. Nggak ada yang
namanya "nabung" atau "investasi" dengan serius. Gaji naik
bukannya buat nabung malah naikin gaya hidup.
Kawan saya bilang
lagi, "Coba elo hitung. Berapa banyak kenaikan gaji elo yang benar-benar
bikin elo lebih kaya? Bukan cuma lebih gaya". Duhh, saya langsung
tersinggung sih.
Saya mikir keras.
Selama ini, hampir semua kenaikan gaji saya habis buat hidup dan bergaya.
Ini bukan soal
pelit. Tapi soal punya kesadaran: setiap ada "kelebihan,"
prioritasnya bukan langsung "habiskan." Kan ada opsi lain: investasi,
siapin dana pensiun, jadiin dana darurat, atau bahkan sekadar
"biarin" di rekening.
Contoh konkret
dari temen saya nih:
Si A: Gaji naik
Rp 5 juta. Tetap hidup seperti biasa, Rp 3 juta buat investasi, sisanya nabung.
Si B: Gaji naik
Rp 5 juta. Langsung cicil mobil, gaya hidup naik drastis.
Dan 5 tahun
kemudian, apa yang terjadi?
Si A: Punya aset
investasi yang nilainya sudah bikin dia "tenang" secara finansial.
Si B: Masih kerja
keras, takut PHK, hidup dari gaji ke gaji.
Kalau begitu
faktanya, siapa yang lebih tenang? Jelas si A kan.
Dari obrolan santai
dengan kawan. Saya akhirnya sadar. Bahwa kekuatan terbesar bukan di
"menambah" (penghasilan/gaji). Tapi gimana "tidak buru-buru
mengubah" standar hidup saat gaji naik. Tidak memperbesar gaya hidup saat
pendapatan meningkat. Inilah yang perlu dipikirkan banyak pekerja. Mungkin,
kita perlu menata ulang pikiran kita sendiri soal uang. Gimana bisa lebih bijak
memakai uang, sekalipun itu uang kita sendiri.
Hingga saya
menyimpulkan sendiri. Bahwa kerja itu nggak akan terus-menerus. Pasti ada masa
pensiun atau berhenti bekerja. Bisa karena usia pensiun atau karena di-PHK.
Jadi, kenapa kita nggak berpikir nabung untuk masa pensiun atau saat nanti
tidak punya gaji lagi.
Itulah pentingnya
pekerja punya dana pensiun seperti DPLK. Siap-siap bila suatu saat tidak
bekerja lagi. Biar bisa lebih tenang saat punya atau tidak punya uang. Jadi, gimana Menurut ana saat naik gaji?
Langsung bikin jadi "naik kelas" atau lebih mikir panjang untuk hari
tua? #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar