Ada yang bilang integritas itu sepi. Karena tidak semua orang kuat untuk jujur Terutama saat tidak ada yang melihat. Orang berintegritas itu konsisten. Di depan orang sama, di belakang juga sama. Tidak punya dua wajah untuk dua situasi.
Orang berintegritas tidak
gampang ikut arus. Tidak mudah bilang iya hanya untuk suasana aman. Tidak
mengubah prinsip, hanya demi diterima. Siapapun yang punya integritas pasti tahu
batasnya. Kapan harus berbuat kapan harus rileks? Tahu kapan harus berhenti.
Berani bilang “tidak” tanpa harus merasa bersalah.
Tentu, orang yang punya
integritas bisa saja rugi. Bisa saja kehilangan peluang. Bahkan kehilangan
orang. Tapi dia tetap “memilih benar”. Bukan karena sempurna. Tapi karena tidak
mau hidup dengan kebohongan yang dibuat sendiri.
Orang yang punya integritas,
tetap bertindak saat sepi atau ramai. Tidak butuh panggung, apalagi
popularitas. Sebab ukurannya bukan apa yang didapat. Tapi seberapa konsisten
melakukannya? Karenanya, integritas tidak butuh pujian apalagi validasi orang
lain. Selain memegang komitmen dan konsistensi, dari dulu hingga kini.
Orang-orang yang punya
integritas memang sering tidak terlihat. Sebab dia berperang dengan dirinya
sendiri. Menahan yang ingin dilampiaskan. Menolak yang sebenarnya
menguntungkan. Dan memilih yang benar, meski berat.
Karena dia paham. Karakter
tidak dibentuk saat semua mudah. Tapi saat kita punya pilihan untuk menyimpang
namun kita tetap lurus. Dan pada akhirnya, integritas bukan tentang terlihat
baik di mata orang lain. Tapi tentang tetap jujur pada diri sendiri, bahkan
saat tidak ada yang menilai sekalipun.
Seperti membaca buku atau
berkiprah di taman bacaan. Pun butuh integritas, untuk selalu komit dan konsisten
dalam membaca. Ada atau tidak orang lain tetap membaca. Ada panggung atau tidak
ada panggung, buku-buku tetap dibaca tanpa mau dibiarkan berserakan. Itulah
kenapa membaca buku butuh integritas, bukan hanya “panggung” sosial. Salam literasi!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar