Kawan saya lagi gelisah, karena 3 tahun lagi mau pensiun. Masa kerjanya bisa mencapai 22 tahun saat pensiun nanti. Gaji sekitar Rp 20 jutaan, okelah. Tapi kenapa bimbang ya? Dia bertanya, gimana cara mempersiapkan masa pensiun?
Saya hanya bertutur sederhana.
Bahwa pensiun itu pasti, cepat atau lambat pasti berhenti bekerja. Dan saat
pensiun, banyak pekerja bukan takut karena rambutnya memutih. Atau fisiknya
mulai melemah. Bukan pula soal post power syndrome. Tapi dalam banyak kasus
pensiunan, ketakutan jelang pensiun adalah gagal menjawab satu pertanyaan:
"Kalau penghasilan atau gaji berhenti saat pensiun, saya harus
mengandalkan apa untuk tetap bisa jaga standar hidup?"
Sudah tentu, saat masih
bekerja, banyak masalah bisa diselesaikan saat tanggal gajian tiba. Biaya sekolah
anak? Ada gaji. Tagihan datang? Tunggu pas gajian. Kebutuhan mendadak? Ada
gaji. Anak butuh bantuan? Ada gaji. Mau beli barang mahal? Nanti habis gajian. Kita
sering nggak sadar, tenangnya hidup itu hanya bergantung daru gaji. Saat selalu
ada pemasukan yang rutin tiap bulan.
Hingga suatu hari nanti, rutinitas
pemasukan atau gaji itu berhenti. Seperti kawan saya yang 3 tahun lagi mau
pensiun. Yang dulu datang dan ditransfer setiap bulan, kini tidak lagi ada. Dan
untuk pertama kalinya, mulai berhitung lebih sering daripada biasanya.
Menghitung antara sumber keuangan dan biaya hidup yang harus ditanggung.
Ini bukan soal kurang bersyukur
atau menikmati masa bekerja. Tapi soal biaya hidup yang tetap berjalan. Hidup yang
tetap ada risiko. Harga kebutuhan pokok naik, biaya kesehatan di usia tua makin
mahal. Anak masih butuh biaya. Orang tua masih butuh bantuan. Sementara standar
hidup harus tetap dijaga sekalipun sudah pensiun. Cuma dari mana uangnya, kan
sudah tidak punya lagi saat pensiun? Itulah kondisi yang bikin pensiunan stres
bahkan takut. Fakta hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak
siap pensiun atau berhenti bekerja. Sebabnya, karena takut nggak punya pemasukan
atau gaji lagi.
Ironisnya, banyak pekerja paham
masa pensiun pasti tiba. Tapi banyak pekerja tidak mau mempersiapkannya. Terlalu
sedikit pekerja yang sadar dan mau menabung untuk biaya biaya hidup setelah
pensiun. Kita sering sibuk menghitung kapan berhenti bekerja, kapan pensiun?
Tapi kita lupa menyiapkan bagaimana uang bisa terus bekerja untuk kita?
Setelah ditelisik, ternyata masa
pensiun yang tenang bukan karena punya uang paling banyak. Bukan soal jumlah harta
dan kekayaan yang dimiliki. Tapi tentang punya arus kas yang cukup untuk
menjalani hidup setelah pensiun. Punya tabuangn atau dana pensiun yang bisa “menggantikan”
fungsi gaji, sebagai pemasukan setiap bulan. Lalu dikendalikan untuk memenuhi
kebutuhan dan biaya hidup bulanan. Tenang di masa pensiun itu akibat tidak ada
lagi rasa cemas setiap hari di usia tua karena tidak ada sumber pemasukan. Makanya,
ketenangan di masa pensiun itu mahal dan sangat menyehatkan. Sayangnya, banyak
pekerja tidak siap pensiun. Bahkan 55% pekerja di Jabodetabek tidak yakin bisa
memenuhi biaya hidup di hari tua sehingga tidak punya gambaran seperti apa
hidupnya di masa pensiun? (Silakan baca
penelitian Syarifudin Yunus berjudul “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa
di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” di jurnal JiMaKeBiDI (Agt 2025) - https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).
Karenanya, tidak ada jalan
pintas untuk bisa tenang dan sejahtera di masa pensiun. Kabar baiknya, selama kita
masih diberi Kesehatan dan masih mau menyadari, selalu ada peluang untuk
memperbaiki keadaan. Selalu ada cara untuk mempersiapkan diri untuk pensiun
yang lebih berkualitas. Bersiap untuk pensiun dari sekarang dan jangan ditunda
lagi.
Mulailah dari hal sederhana. Catat
pengeluaran yang tidak perlu, rapikan alokasi gaji dengan bijak. Pahami ke mana
uang pergi. Cari sumber pemasukan tambahan yang sesuai kemampuan. Dan yang
penting, mulailah menabung di dana pensiun atau DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).
Karena dana pensiun adalah satu-satunya produk keuangan yang didedikasikan
untuk masa pensiun atau hari tua, saat tidak bekerja lagi. Jangan pernah merasa
terlalu tua untuk belajar hal baru. Jangan “berdiam diri” bila tahu masa
pensiun harus dipersiapkan.
Sebab sejatinya, masa pensiun seharusnya
menjadi fase menikmati hasil perjalanan selama bekerja. Bukan fase hidup dalam
ketakutan atau kegelisahan. Usia yang bertambah adalah hal yang wajar. Tetapi
ketenangan finansial adalah sesuatu yang perlu dipersiapkan. Ketahuilah, yang bikin
masa pensiun terasa mencekam itu bukan usia bertamabah atau rambut memutih.
Tapi cash flos yang berantakan. Tidak punya alokasi yang ditabung untuk masa
pensiun, saat tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar