Teman anak saya saat kuliah S1, lulus cum laude, IPK-nya 3,80. Kuliah rajin dan wisuda tepat waktu. Saat itu, orang tuanya menangis bangga. Tapi 6 bulan setelah wisuda, teman anak saya cerita tentang pekerjaannya yang susah saya lupakan, "Gelar saya Om, tidak ada di job description. Bingung, kok kuliah nggak nyambung sama pekerjaan"
Kok bisa nggak nyambung? Dia
belajar 4 tahun di kampus. Banyak teori sedikit praktik. Hafal rumus, lulus
ujian semua mata kuliah. Skripsi kelar dan jadi sarjana. Tapi waktu masuk dunia
kerja, yang ditanya bukan IPK-nya. Tapi yang ditanya: Bisa software apa? Punya
portofolio apa? Sudah punya pengalaman belum? Ijazah dan IPK cuma buat seleksi
administrasi doang. Tidak ada tuh di dunia kerja yang tanya IPK berapa?
Kalau mau jujur, itulah hal tidak
pernah diajarkan di kampus. Dunia kerja itu tidak menghargai apa yang kita tahu.
Paham teori segudang juga nggak ada gunanya. Sebab dunia kerja hanya menghargai
apa yang bisa kita kerjakan, apa yang mampu diselesaikan? Kita tahu dan kitab
isa mengerjakan, dua hal yang kelihatannya sama. Tapi sangat berbeda. Orang
yang bisa menyelesaikan masalah nyata tidak selalu yang nilainya paling bagus
di kelas. Orang yang bisa kerja, belum tentu orang yang paham teorinya. Begitulah
nyatanya.
Bukan pendidikannya yang salah.
Tapi masalahnya kita terlalu lama percaya satu narasi: "Kuliah yang rajin,
sekolah yang benar biar nanti mudah dapat kerja." Tidak ada yang bilang: “Ijazah
itu cuma tiket masuk, bukan jaminan skill yang dicari”. Kita lupa, dunia kerja dan
bisnis itu berubah lebih cepat dari kurikulum. Skill dan networking itu jauh
lebih penting dari sekadar nilai IPK atau sudah pernah lulus kuliah.
Dan akhirnya, teman anak saya
itu sekarang kerja di bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
jurusannya. Dan dia baik-baik saja. Gaji punya dan bisa buat hidup sendiri
dulu. Tapi dia bilang satu hal ke saya: "Gini ya Om, harusnya waktu kuliah
ada yang bilangin bahwa pendidikan itu penting. Tapi belajar caranya hidup dan
membangun skill itu jauh lebih penting." Pesan yang menohok dari seorang
anak muda.
Memang benar sih. Kita bisa punya
pendidikan tinggi, tekun sekolah. Tapi kalau tidak tahu cara belajar dari
realita yang ada, kita akan selalu merasa tertinggal. Belajar itu bukan hanya
teori tapi praktik untuk membangun skill. Biar sadar, dunia kerja nggak butuh
IPK. Tapi mereka butuh orang yang bisa kerja dan berkontribusi selesaikan
masalah. Di kantor mana pun, di industri apapun.
Hari gini, jangan terlalu
bangga dengan ijazah atau IPK. Karena ijazah dan IPK itu hanya bukti bahwa kita
pernah sekolah. Bukan bukti bahwa kita bisa bekerja?
.jpg)

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar