Kemarin baca berita di mana-mana, Nadiem Makarim dituntut jaksa 18 tahun penjara + kembalikan uang Rp. 5 triliun. Nadiem, diduga ikut korupsi pengadaan laptop Chromebook, zaman dia jadi Menteri Pendidikan RI. Nadiem pun menangis dalam pelukan istrinya. Plus, puluhan driver gojek pun ikut memberi dukungan moral ke Nadiem.
Nadiem, Nadiem. Gue ini orang
awam (baca: bego) untuk urusan laptop Chromebook, apalagi hukum di pengadilan. Tapi
yang gue paham, Nadiem itu orang kaya (sudah kenyang), dia kan yang bikin Gojek.
Jadi yang ada di otak gue, orang yang sudah “kenyang” kayak Nadiem itu nggak
akan berebut makanan lagi. Jadi Menteri ya buar pengabdian dan berbagi ilmu. Sebab
siapapun yang perutnya sudah kenyang, harusnya nggak kepengen “nilep” duit
orang lain, apalagi negara. Belum tentu begitu. Iya mungkin, di situlah cara
pikir gue yang tergolong bego. Kadang naif juga.
Tapi begini, sebagai orang
awam, urusan korupsi sih ukurannya gampang. Berapa uang yang diterima Nadiem
dan buka saja aliran dananya ke dia? Cari tahu saja, saat Nadiem belum jadi Menteri
punya harta kekayaan berapa? Dan setelah jadi Menteri jadi berapa, katanya kan
korupsinya triliunan? Jadi, Nadiem itu “korupsi” uang apa kebijakan? Apa sih
yang di korupsi Nadiem? Tolong buktikan itu saja, maklum gue ini orang awam.
Maaf nih, saking begonia gue.
Jangan-jangan Nadiem memang dijadiin target. Dituntut 18 tahun penjara + uang Rp.
5 triliun (setara hukuman 9 tahun). Kalau ditotal, penjaranya lebih dari 27 tahun.
Lebih berat dari kasus terorisme ya, sementara korupsi “uang” yang diterima
Nadiem belum bisa dibuktikan. Bisa jadi, Nadiem ini tumbal mafia pendidikan di
Indonesia, yang memang sudah puluhan tahun bersemayam di republik ini. Atau ini
bagian dari politik balas dendam? Ahh, mungkin pikiran gue salah sih!
Mungkin banyak orang paham.
Jaksa menuntut Nadiem asal-asalan. Hukum dan pengadilan pun sudah susah
dipercaya. Gimana orang mau cari kebenaran? Apa masih ada keadailan? Maka
akhirnya, banyak orang (rkayat) jadi bungkam alias diam. Menerima saja walau
tidak masuk akal. Seperti Nadiem akhirnya hanya bisa menangis di pelukan istrinya
saat mendengan dituntut 18 tahun penjara. Apa benar Nadiem korupsi, dan apa ini
adil buat rakyat?
Nadiem pasti menyesal. Karena
sebagai profesional yang membangun Gojek di republik ini akhirnya “terpenjara”.
Gojek itu sudah jadi kerjaan dan tempat cari makan sekitar 3 juta orang di Indonesia.
Sudah terbukti kok Gojek! Sementara, orang yang janji buka lowongan kerja 19
Juta tenaga kerja gimana? Belajar dari kasus Nadiem, makanya para profesional
kalau diajak masuk “pemerintahan” mendingan ditolak. Daripada jadi masalah di
kemudian hari. Profesional kan pengennya cepat dan segera bermanfaat. Beda
dengan pemerintahan, yang pengennya lama. Minta izin saja bisa 1-2 tahun,
sampai Pak Presiden kesal sendiri. Budayanya kan “kalau bisa dipersulit ngapain
dipermuda, kalau bisa lama kenapa harus sebentar?”. Nadiem… Nadiem, kenapa mau dulu
jadi Menteri? Mana yang ngajak diam aja sekarang.
Nadiem, Nadiem. Kerja di
pemerintahan itu nggak gampang. Politik-nya tajam, prosedurnya panjang,
prosesnya lama, dan mafia-nya banyak. Sementara orang profesional maunya
efektif dan efisien. Tapi terpaksa “melawan” politik internal, prosedur dan
mafia-nya di pemerintahan. Jadi, siapa yang kuat kan?
Begonya gue, di kasus Nadiem
ini, hue kesannya membela Nadiem. Padahal gue nggak kenal Nadiem, gue juga
orang yang menolak POP (Program Organisasi Penggerak) saat dia jadi Menteri.
Makin bego lagi, karena gue nggak tahu apa itu laptop Chromebook dan gimana
persidangan Nadiem itu berjalan? Aneh ya gue, nggak kenal Nadiem kok membela. Tapi,
orang bego kan masih boleh menulis dan berpendapat di negeri tercinta ini. Karena
tergelitik aja, karena di pikiran gue Nadiem nggak “makan” uang negara. Tahu
benar apa nggak pikiran gue ini. Maaf aja kalau salah ya.
Nadiem siap-siap masuk
penjara nih! Semoga saja jutaan driver gojek turun ke jalan untuk menyuarakan
keadilan untuk pendirinya, mantan CEO-nya. Dan sebaiknya, para profesional
mikir uang kalau mau masuk ke pemerintahan. Lebih baik tetap profesional dan independen.
Jangan nambahin ribet di republik ini, biar fokus pada kerja masing-masing aja.
Nadiem, Nadiem. Kayak nggak
tahu aja. Ikan itu mencintai air, namun air pula merebusnya. Daun itu setia
pada angin, namun angin pula menggugurkannya. Dan manusia itu bergantung hidup
pada tanah, tapi tanah pula yang menguburnya. Nadiem, dunia itu nggak seindah
yang dibayangkan. Sering kali kita menyalahkan hal yang terlihat tanpa menyadari
akar dari segalanya.
Nadiem, Nadiem …..
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar