Kamis, 14 Mei 2026

Catatan Literasi: Kalau Ingin Jadi Pohon yang Tinggi Siaplah Diterpa Angin

Ini sebuah pesan literasi. Kalau ingin jadi pohon yang tinggi, siaplah diterpa angin. Karena semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar juga ujian dan omongannya. Tapi kalau memilih jadi rumput, memang jarang diterpa badai. Sayangnya harus rela diinjak-injak banyak kaki. Jadi hidup bukan soal mau aman atau hebat, tapi soal seberapa kuat kita bertahan. Begitulah kira-kira.

 

Kalau ingin jadi pohon yang tinggi, siaplah diterpa angin. Bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi. Dalam pengabdian sosial, seseorang yang memilih untuk terlibat membantu masyarakat sering kali menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ada kritik, salah paham, fitnah bahkan cibiran ketika niat baik tidak selalu dipahami semua orang. Namun seperti pohon yang tinggi, keberadaan mereka memberi manfaat luas: menghadirkan keteduhan, harapan, dan perubahan bagi banyak orang yang membutuhkan.

 

Hal yang sama terlihat dalam aktivitas di taman bacaan masyarakat. Orang-orang yang mengabdikan waktu untuk mengelola taman bacaan sering bekerja tanpa sorotan besar. Mereka harus menghadapi keterbatasan buku, minimnya dukungan, hingga rendahnya minat baca di lingkungan sekitar. Tetapi mereka tetap bertahan karena percaya bahwa membaca adalah jalan untuk mengubah masa depan. Semakin besar dampak yang ingin diberikan, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi.

 

Sebaliknya, memilih hidup “aman” tanpa berbuat apa-apa mungkin terasa nyaman seperti rumput yang rendah dan tidak diterpa angin besar. Namun kehidupan yang terlalu takut menghadapi tantangan sering membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dan memberi arti bagi orang lain. Dalam konteks sosial, diam terhadap masalah pendidikan dan rendahnya literasi sama saja membiarkan banyak anak kehilangan kesempatan berkembang. Karena itu, keberanian untuk tetap hadir di tengah masyarakat menjadi bentuk keteguhan yang sangat berharga.

 

Dari taman bacaan kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang menjadi hebat, tetapi tentang konsistensi untuk bertahan dan memberi manfaat. Seorang relawan yang setiap minggu membacakan buku untuk anak-anak mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi pengaruhnya bisa mengubah cara berpikir generasi muda. Seperti pohon yang tetap berdiri meski diterpa angin, mereka yang mengabdikan diri melalui literasi menunjukkan bahwa ketahanan, kesabaran, dan kepedulian adalah akar yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna. Salam literasi!

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar