Harus diakui, rasio penetrasi dana pensiun sukarela (DPLK/DPPK) masih tergolong rendah di Indonesia. Dari 152 juta total pekerja (60% informal, 40% formal), hanya sekitar 3% yang berpartisipasi dalam dana pensiun sukarela. Saat ini peserta dana pensiun sukarela hanya 5,3 juta orang. Sementara sekitar 97% pekerja di Indonesia dilaporkan belum memiliki dana pensiun sukarela. Maka wajar, 84% pensiunan di Indonesia sangat tergantung secara finansial di hari tua kepada anggota keluarga yang bekerja. Akibat minimnya pekerja memiliki dana pensiun untuk kesinambungan penghasilan di hari tua.
Masih banyak
pekerja yang belum mau memiliki dana pensiun. Bukan karena tidak punya uang
tapi karena masih “terjebak” pada mitos dan cara pandang yang kurang tepat
tentang dana pensiuan. Sebagai contoh, berikut ini ada 5 mitos dan fakta
seputar dana pensiun yang sering ditemui di kalangan pekerja:
1. Mitos: Pensiun masih lama, nanti saja
dipikirkan.
Fakta: Justru semakin dini memulai dana pensiun, maka semakin
ringan beban yang harus ditanggung. Efek compounding membuat iuran kecil sejak
muda untuk dana pensiun bisa berkembang jauh lebih besar dibandingkan bila terlambat
memulai sekalipun dengan nominal besar.
2. Mitos: Saya masih punya anak, nanti mereka
yang membantu di hari tua.
Fakta: Mengandalkan anak sebagai sumber keuangan di masa tua
sangat berisiko. Kondisi ekonomi generasi berikutnya belum tentu stabil, dan
tanpa dana pensiun, justru bisa menimbulkan beban finansial antar generasi. Saat
ini banyak orang tua jadi beban finansial anaknya.
3. Mitos: Gaji saya kecil, tidak mungkin bisa menabung
untuk dana pensiun.
Fakta: Besar kecilnya gaji bukan alasan utama, tetapi konsistensi
iuran yang menentukan. Bahkan alokasi kecil yang rutin lebih efektif daripada
menunggu “nanti kalau sudah cukup”. Untuk dana pensiun bilangnya gaji kecil
tapi untuk gaya hidup dan perilaku konumtif malah jor-joran.
4. Mitos: Investasi biasa sudah cukup, tidak
perlu dana pensiun.
Fakta: Dana pensiun dirancang khusus untuk tujuan jangka panjang di
hari tua dan kesinambungan penghasilan di masa pensiun. Investasi biasa sering
tidak memiliki disiplin dan cepat habis, sementara dana pensiun punya tujuan jelas
untuk hari tua,
5. Mitos: Nanti pasti ada jaminan dari
pemerintah atau perusahaan.
Fakta: Program jaminan pensiun atau JHT BPJS pada umumnya tidak
cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup di hari tua. Dana tersebut lebih
bersifat dasar, hanya 10% dari tingkat penghasilan pensiun. Maka sisanya, harus
dicapai dengan cara menabung untuk pensiun. Pemerintah dan perusahaan tidak
bisa diandalkan untuk sumber penghasilan di masa tua.
Intinya, banyak
pekerja menunda dana pensiun karena merasa belum perlu, padahal realitanya dana
pensiun adalah tanggung jawab pribadi yang perlu disiapkan sejak dini. Tanpa
persiapan, masa pensiun bukan menjadi masa tenang, tetapi justru bisa menjadi
fase paling rentan secara finansial. Stres di hari tua karena tidak punya kemandirian
finansial. #YukSiapkanPensiun

%20rev.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar