Rabu, 25 Maret 2026

Jangan Salahkan Keadaan

Ini catatan hikmah lebaran. Ketika seseorang terus menerus menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan takdir, justu ia sedang memperpanjang penderitaannya sendiri. Sebuah lingkaran negatif yang sulit diputus. Menyalahkan keadaan dan berkeluh-kesah, hanya menjauhkan seseorang dari ketenangan. Menerima bahwa ada bagian dari kesulitan yang merupakan akibat dari dosa bukan berarti menyerah, melainkan mengambil kembali kendali atas hidup.

 

Menyalahkan keadaan hanya memperpanjang luka. Saat kita terus menyalahkan situasi, orang lain, atau kondisi hidup makan akan terjebak dalam rasa sakit itu lebih lama. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kita bisa memilih menerima dan mencari solusi atau terus menyalahkan keadaan. Bila memilih menyalahkan keadaan, maka pikiran akan terus berputar pada “kenapa ini terjadi?” Emosi negatif (marah, kecewa, frustrasi) jadi berulang. Dan kita sulit bergerak maju. Akibatnya, “luka” (emosional maupun mental) tidak pernah benar-benar sembuh.

 

Kita ser


ing lupa. Fokus pada masalah hanya memperkuat rasa sakit. Fokus pada solusi maka dapat mempercepat pemulihan. Menyalahkan keadaan sejatinya dapat memberi energi pada luka. Sedangkan menerima keadaan akan menyembuhkan luka, sebesar apapun. Seperti luka fisik, kalau terus digaruk akan makin lama sembuhnya. Kalau dirawat maka pelan-pelan pasti pulih. Menyalahkan keadaan itu seperti terus menggaruk luka.

 

Berhentilah menyalahkan keadaan. Sebab menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi hanya membuat kita tinggal lebih lama di dalam rasa sakit. Saat kita berhenti menyalahkan dan mulai menerima, di situlah proses penyembuhan benar-benar dimulai. Tinggal piliha, mau yang mana? Salam literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar