Manusia sering lupa hakikat hidup akibat kesibukan, keinginan, dan distraksi yang terus-menerus. Aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, mencari penghasilan, mengejar prestasi, atau memenuhi tuntutan sosial sering kali membuat seseorang lebih fokus pada hal-hal yang bersifat duniawi dan jangka pendek. Dalam kondisi ini, manusia cenderung menjalani hidup secara otomatis tanpa sempat berhenti untuk merenung tentang makna, tujuan, dan arah hidupnya.
Manusia memiliki
kecenderungan psikologis untuk terikat pada kenyamanan dan kesenangan.
Keinginan untuk merasa aman, diakui, dan bahagia sering membuat seseorang
terjebak dalam rutinitas yang berulang tanpa mempertanyakan esensi hidup yang
lebih dalam. Lingkungan sosial juga berperan besar, ketika nilai yang dominan
adalah materialisme atau pencapaian eksternal, maka refleksi tentang hakikat
hidup menjadi semakin jarang dilakukan.
Lupa terhadap hakikat hidup
juga merupakan bagian dari sifat manusia itu sendiri. Manusia bukan makhluk
yang selalu konsisten dalam kesadaran; bisa sadar, lalu lalai, kemudian sadar
kembali. Karena itu, banyak tradisi pemikiran, baik filsafat maupun spiritual, menekankan
pentingnya refleksi diri, jeda, dan pengingat (reminder) agar manusia tidak
sepenuhnya larut dalam kesibukan. Dengan meluangkan waktu untuk merenung,
membaca, atau berinteraksi dengan lingkungan yang bermakna, seseorang dapat
kembali mengingat tujuan hidupnya dan menjalani kehidupan dengan lebih sadar.
Imam Al-Ghazali telah
mengingatkan dengan tajam tentang hakikat hidup yang sering dilupakan manusia.
1.
Yang
jauh adalah waktu, manusia sering merasa hidupnya masih panjang, seolah masa
depan masih terbentang luas. Padahal itu hanyalah perasaan, tidak ada yang
benar-benar tahu berapa lama waktu yang tersisa?
2.
Yang
dekat adalah mati, sebab kematian bisa datang kapan saja. Bukan sesuatu yang
jauh, melainkan sangat dekat, hanya saja manusia sering lalai menyadarinya.
3.
Yang
besar itu nafsu, adanya dorongan keinginan dalam diri manusia yang sangat kuat
sehingga menguasai pikiran dan Tindakan. Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan
pada kesalahan dan dosa.
4.
Yang
berat adalah amanah, karena tanggung jawab menuntut kesungguhan, kejujuran, dan
pengorbanan. Menjaga amanah tidak mudah, karena sering bertentangan dengan
kepentingan pribadi.
5.
Yang
mudah adalah berbuat dosa, melakukan kesalahan sering kali tidak membutuhkan
usaha besar, bahkan terkadang terasa ringan dan cepat.
Hakikat hidup sering diupakan.
Manusia sejatinya hadir untuk berbuat baik dan menebar manfaat, sambil
menyadari peringatan dari Al-Ghazali. Untuk lebih sadar dan waspada terhadap
hidup. Jangan terlena oleh anggapan waktu masih panjang, jangan meremehkan
nafsu, dan jangan mengabaikan tanggung jawab. Sebagai sebauh ajakan untuk hidup
dengan lebih hati-hati dan penuh kesadaran, karena yang tampak mudah belum
tentu baik, dan yang terasa berat justru bisa menjadi jalan keselamatan.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar