Kamis, 26 Maret 2026

Cerita Pensiun: Pekerja Nekad Nabung Biar Punya 70% dari Gaji Terakhir

Setiap habis gajian, di akhir bulan, Rudi selalu punya kebiasaan yang sama. Mengecek slip gaji, lalu menghitung pengeluaran. Gajinya Rp10 juta per bulan. Biasanya cepat habis, Bayar cicilan, untuk kebutuhan rumah, dan sedikit hiburan. Sisihkan juga alokasi buat ngop bareng teman-teman di kantor.

“Hidup ya begini… yang penting cukup,” pikirnya.

 

Suatu hari, di kantor, Rudi ikut sesi edukasi keuangan. Ngomongin tentang pensiun. Sekalipun dia masih 20 tahun lagi pensiun. Tapi ada satu kalimat yang bikin Rudi terus terngiang di kepalanya: “Saat pensiun, idealnya penghasilan Anda sekitar 70% dari gaji terakhir.”

 

Setelah sesi itu. Rudi mulai berpikir. Kalau sekarang Rp10 juta, berarti nanti ia butuh sekitar Rp7 juta per bulan sata pensiun. Padahal saat pensiun tiba, ia sudah tidak bekerja. Tidak punya gaji bulanan lagi.” Terus, dari mana uang segitu tiap bulan di masa pensiun?” batin Rudi.

 

Malam itu, Rudi tidak bisa langsung tidur. Sedikit merenung. Ia membayangkan dirinya di usia 60 tahun. Tanpa gaji, tanpa penghasilan lagi. Tapi tetap harus makan. Tetap harus bayar listrik. Mungkin juga terjadang harus bayar biaya Kesehatan, akibat sakit.

“Kalau bukan dari sekarang… dari mana nanti Rp7 juta per bulan itu datang?”

 

Rudi sadar, dari mana Rp 7 juta per bulan di hari tua? Biar punya program JHT BPJS, pasti nggak cukup. Apalagi diambil sekaligus jadi gampang habis. Uang pesangon dari kantor, bisa dibayar bisa nggak? Atau dikasih pesangon semampu perusahaannya. Makin pusing Rudi mikirin pensiun.

 

Besoknya, Rudi nekad dan mengambil keputusan kecil. Tanpa pikir panjang lagi. Rudi mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk dana pensiun. Nabung ke DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Iurannya nggak langsung besar. Rp. 1 juta per bulan. Biar tidak terasa berat, tapi konsisten. Dia hanya mau siapin pensiunnya sendiri.

 

Tahun demi tahun berlalu. Kariernya berkembang. Gajinya naik. Dan dana pensiunnya, ikut tumbuh diam-diam. Mulai tambah iuran bulanan, bahkan sering juga top up. Apalagi saat terima bonus atau THR. Bagi Rudi, kalua sudah biasa nabung buat pensiun malah jadi asyik. Disiplin nabung bukan untuk gaya hidup atau liburan. Tapi untuk hari tua. Langka banget pekerja muda mau nabung untuk pensiun.

 


Hingga akhirnya, masa pensiun itu tiba. Usia Rudi sudah 55 tahun. Harus pensiun kata peraturan kantornya. Dia berhenti bekerja, tidak punya gaji lagi. Uang JHT BPJS dicairkan buat modal usaha. Uang pesangon dari kantor “ditabung” untuk biaya kuliah anaknya.  


Untungnya, dia punya DPLK. Nilainya juga lumayan besar. Akumulasi dananya tembus Rp. 900 juta. Dia meminta dibayar secara bulanan selama 10 tahun. Dan sejak pensiun, Rudi jadi punya “penghasilan” tiap bulan. Rp. 7,2 juta per bulan, lebih sedikit dari 70% gaji terakhirnya. Punya income setelaah pensiun, dan tidak kehabisan uang di hari tua.

 

Rp. 7 juta per bulan di masa pensiun, memang tidak persis sama seperti saat masih bekerja. Tapi cukup untuk biaya hidup di hari tua. Dan tidak perlu bergantung pada anaknya. Sekitar 70% dari gaji terakhirnya. Cukup untuk hidup layak. Cukup untuk hidup tenang di masa tua.

 

Dalam hati Rudi, ternyata pensiun bukan tentang mengganti 100% gaji. Bukan pula untuk kaya. Tapi untuk memastikan, hidup bisa terus berjalan. Tetap mampu menjaga standar hidup sekalipun sudah tidak punya gaji. Rudi bersyukur sudah membuat keputusan penting, untuk menabung di DPLK saat masih kerja dulu.

 

Terbukti benar, tenangnya masa pensiun ternyata karena tersedia dana yang cukup untuk hari tua. Tidak gelisah, tidak khawatir karena nggak punya uang. Rudi pun tersenyum simpul, menjalani hari tuanya dengan nyaman. “Ohh, begini ya yang dibilang kerja yes pensiun oke” batin Rudi sambil menikmati secangkir kopi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar