Dulu aku pernah ada di satu titik. Di mana bahagia itu tergantung orang lain. Kalau dipuji, rasanya cukup. Kalau dikritik, rasanya runtuh. Setiap keputusan selalu dipikirkan, selau ditimbang: “Nanti orang lain bakal bilang apa ya?”
Sampai suatu hari aku sadar.
Capek juga ya, hidup terus-menerus pakai standar orang lain. Semuanya harus
dapat validasi. Punya ide tapi menunggu persetujuan orang lain. Dan ternyata, sebaik
apa pun kita, akan selalu ada yang tidak suka. Benar adanya, kita tidak akan
pernah mampu menyenangkan semua orang.
Pelan-pelan aku belajar. Bahwa
bahagia itu bukan soal mereka setuju atau tidak. Tapi soal aku jujur atau tidak
sama diri sendiri. Dan hidup juga bukan tentang membuat semua orang senang. Seperti
halnya kebenaran, tidak selalu nyaman tapi tetap harus diterima.
Hari ini aku memilih berbeda.
Mengelola taman bacaan, berbagi cerita senyum pada anak-anak dan membangun
tradisi baca di sebuah kampung kecil. Menjadikan pengabdian sebagai jalan
hidup. Justru lebih tenang. Lebih jujur sama diri sendiri. Karena akhirnya aku
paham. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di jari, atau di mulut orang lain.
Maka, stop hidup dari standar
orang lain. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di komentar orang lain. Dan tidak
semua hal harus terasa nyaman. Karena yang baik tidak selalu diterima, dan yang
benar tidak selalu menyenangkan.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar