Kamis, 26 Maret 2026

Bahagia Kok Tergantung Orang Lain, Jadilah Literat

Dulu aku pernah ada di satu titik. Di mana bahagia itu tergantung orang lain. Kalau dipuji, rasanya cukup. Kalau dikritik, rasanya runtuh. Setiap keputusan selalu dipikirkan, selau ditimbang: “Nanti orang lain bakal bilang apa ya?”

 

Sampai suatu hari aku sadar. Capek juga ya, hidup terus-menerus pakai standar orang lain. Semuanya harus dapat validasi. Punya ide tapi menunggu persetujuan orang lain. Dan ternyata, sebaik apa pun kita, akan selalu ada yang tidak suka. Benar adanya, kita tidak akan pernah mampu menyenangkan semua orang.

 

Pelan-pelan aku belajar. Bahwa bahagia itu bukan soal mereka setuju atau tidak. Tapi soal aku jujur atau tidak sama diri sendiri. Dan hidup juga bukan tentang membuat semua orang senang. Seperti halnya kebenaran, tidak selalu nyaman tapi tetap harus diterima.

 


Hari ini aku memilih berbeda. Mengelola taman bacaan, berbagi cerita senyum pada anak-anak dan membangun tradisi baca di sebuah kampung kecil. Menjadikan pengabdian sebagai jalan hidup. Justru lebih tenang. Lebih jujur sama diri sendiri. Karena akhirnya aku paham. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di jari, atau di mulut orang lain.

 

Maka, stop hidup dari standar orang lain. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di komentar orang lain. Dan tidak semua hal harus terasa nyaman. Karena yang baik tidak selalu diterima, dan yang benar tidak selalu menyenangkan. Jadikan sehat untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Jadilah literat!

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar