Rata-rata orang bekerja hingga usia 55 tahun. Cepat atau lambat pasti akan pensiun. Bukan karena mau kita sebagai pekerja. Tapi karena peraturan kantor, sudah ditetapkan usia pensiunnya. Lalu ada yang bertanya, bila sudah tua (usia pensiun) sebaiknya pensiun atau tetap lanjut kerja?
Memilih pensiun
atau tetap lanjut kerja itu bukan soal usia. Bukan pula soal fisik masih kuat.
Pensiun atau tetap lanjut kerja, bagi seorang karyawan itu erat kaitannya
dengan kesiapan finansial. Pensiun bukan hanya soal usia tapi soal kondisi
finansial. Apakah cukup uang untuk membiayai hidup di saat tidak punya gaji
lagi? Itu saja soalnya, sederhana sekali.
Jika memilih
pensiun, berarti gaji bulanan sudah tidak ada. Penghasilan aktif berhenti. Kebutuhan
dan biaya hidup sepenuhnya bergantung pada “uang yang ada”. Bisa dari JHT BPJS,
pesangon dari kantor atau dana pensiun. Mungkin ditambah tabungan atau aset investasi
yang dimiliki. Karenanya saat memilih pensiun, kita harus mampu mencukupi
kebutuhan hidup bulanan, punya uang yang cukup, dan mampu menutup biaya kesehatan
bila terjadi sakit. Memastikan pensiun yang tidak bergantung pada anak atau
keluarga. Bila dana pensiun manfaatnya cukup dan sudah terencana, memilih pensiun
bisa jadi pilihan yang nyaman. Namun bila tidak cukup atau tidak punya dana
pensiun, pensiun pasti berisiko menurunkan kualitas hidup, bahkan gagal menjaga
standar hidup seperti saat bekerja.
Jika memilih
tetap bekerja, tidak masalah. Tapi harus disadari, Keputusan tetap bekerja atau
menunda pensiun biasanya diambil karena kondisi finansial “belum stabil”. Uang
pensiun yang diterima tidak cukup, dana pensiun tidak punya, dan “terpaksa”
bekerja untuk menjaga stabilitas finansial demi biaya hidup. Masih tetap
bekerja di usia pensiun, oke-oke saja. Karena masih punya penghasilan aktif dan
tidak langsung bergantung pada tabungan. Namun, patut dipertimbangkan faktor
kesehatan, keseimbangan hidup (work-life balance), dan kesempatan menikmati
masa pensiun. Jadi yang baik, tetap bekerja setelah pensiun karena untuk berkontribusi
atas keahlian atau aktualisasi diri, bukan karena “terpaksa” tidak punya uang
yang cukup.
Memilih pensiun
atau tetap lanjut kerja, intinya hanya soal finansial. Punya uang yang cukup
atau belum? Dan tentu, apapun keputusannya menjadi hak privasi setiap pekerja. Mau
pensiun (alias menikmati masa pensiun) atau tetap bekerja, sah-sah saja. Jika punya
uang pensiun + dana pensiun yang cukup maka pensiun adalah pilihan. Jika uang
pensiun belum cukup (khawatir atas biaya hidup di hari tua) maka lanjut kerja
adalah strategi untuk bertahan.
Cukup atau
tidak cukup soal finansial di masa pensiun, biasanya dihitung dari 1) berapa
kebutuhan dan biaya hidup per bulan, 2) berapa usia harapan hidup setelah
pensiun (saat ini UHH di Indonesia di 73 tahun), 3) potensi biaya kesehatan +
inflasi. Nah, semua itu dikurangi “uang pensiun” + tabungan yang dimiliki hari
ini. Mampu atau tidak menjaga standar hidup kita setelah tidak bekerja lagi,
settelah pensiun?
Idealnya,
seseorang tidak hanya memilih antara “berhenti total” atau “terus bekerja penuh”.
Tapi bisa mengambil jalan tengah untuk “pensiun tapi tetap punya aktivitas
produktif (usaha kecil, konsultan, punya kontrakan, dll)” sehingga tetap ada
pemasukan bulanan tanpa tekanan kerja tinggi.
Jadi, memilih
pensiun atau lanjut kerja adalah keputusan finansial yang sifatnya personal.
Kuncinya ada pada kesiapan di hari tua, perencanaan pensiun yang dilakukan.
Bila dana cukup bisa jadi memilih untuk pensiun. Tapi bila dana belum cukup
maka pilihannya tetap lanjut bekerja.
Tapi faktanya
hari ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya
setiap bulan untuk menutupi biaya hidup. Bahkan 8 dari 10 lansia (pensiunan)
bergantung secara finansial dari anggota keluarganya yang bekerja. Sandwich
generation masih besar dan stabil di Indonesia.
Jadi, mau pilih
pensiun atau tetap lanjut bekerja? Jawabnya, tergantung pada kesiapan finansial
kita di hari tua. #YukSiapkanPensiun
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar