Zaman begini, kata-kata sering dijadikan senjata yang tidak terlihat. Bergosip atau membuka aib orang demi terlihat unggul mungkin tampak kecil. Tapi dampaknya panjang dan sangat esensial. Reputasi orang lain bisa hancur dalam sekejap, sementara hati kita perlahan menjadi tumpul terhadap empati. Orang yang kuat tidak perlu membuktikan diri dengan melukai, ia memilih menjaga martabat, termasuk martabat orang yang tidak hadir untuk membela diri.
Di dunia yang gemar membandingkan dan menaikkan diri sering terasa
lebih mudah dengan cara merendahkan orang lain. Sorotan, pujian, dan pengakuan
kadang membuat hati lupa bahwa nilai diri tidak pernah lahir dari jatuhnya
sesama. Nafsu yang mendorong kita untuk menang dengan cara apa pun boleh saja
ada. Tapi semesta hakikatnya akan menuntun kita untuk bertumbuh tanpa
mengorbankan siapa pun.
Pilihannya hanya ada dua: memilih jalan cepat yang melukai, atau jalan
benar yang membangun. Sejatinya, harga diri tidak lahir dari perbandingan. Saat
kita merasa perlu menjatuhkan orang lain, sering kali itu tanda bahwa kita
belum berdamai dengan diri sendiri. Membandingkan hanya menumbuhkan cemas dan
iri, bukan damai. Nilai diri yang sehat justru lahir dari penerimaan. Bahwa
setiap orang punya lintasan hidup yang berbeda, dan kita tidak perlu “lebih”
dari orang lain untuk menjadi “cukup” di hadapan sang pencipta.
Dalam hidup, kita disuruh untuk menang bersama, bukan sendiri. Di dunia
kerja, sosial, atau pergaulan, sejatinya kemajuan terjadi ketika kita saling
menguatkan. Mengangkat orang lain bukan menjatuhkan, meninggikan sesama bukan
merendahkan, dan menjaga kebaikan bukan keburukan. Saat kita ikut bersukacita
atas keberhasilan orang lain, hati kita pasti dibebaskan dari persaingan yang
melelahkan dan diganti dengan sukacita yang menenangkan.
Ketahuilah, keunggulan yang dibangun di atas luka orang lain tidak
pernah kokoh. Prestasi yang diraih dengan menjatuhkan sesama ibarat “rumah di
atas pasir”. Mungkin berdiri sesaat, tetapi mudah runtuh ketika kebenaran
datang. Semesta hanya memuliakan proses yang jujur, kerja keras, ketekunan, dan
kerendahan hati. Bukan taktik dan strategi yang mengorbankan orang lain demi
tepuk tangan singkat.
Memang dunia sering berkata, “Tampil dulu, urusan benar belakangan.” Tapi
semesta menyuruh, “Benar dulu, kemuliaan akan menyusul.” Karakter tidak
dibangun di panggung, melainkan dalam keputusan sunyi: memilih jujur saat bisa
curang, memilih menghormati saat bisa meremehkan, memilih membangun saat bisa
menjatuhkan. Maka, jangan membuat orang lain terlihat buruk agar kamu terlihat baik.
Kita sering lupa, kerendahan hati itu membuka pintu yang tidak bisa
dibuka oleh kesombongan. Orang yang rendah hati mau belajar, mau dikoreksi, dan
mau mengakui keterbatasan. Sikap ini mengundang kepercayaan, tapi juga dapat memperluas
relasi dan membuat orang lain senang bersama-sama. Sebaliknya, kesombongan akan
menutup telinga dan mempersempit langkah, karena merasa sudah “paling benar”.
Ketahuilah, semesta yang meninggikan pada waktu-Nya yang tepat. Kita tidak
perlu mempromosikan diri dengan cara yang melukai orang lain. Biar bagaimana
pun, semesta melihat kerja yang tersembunyi, kesetiaan yang tidak dipuji, dan
niat yang tulus. Selalu berbuat baik dan menebar manfaat untuk sesama. Ketika
waktunya tiba, semesta sendiri yang membuka jalan dan meninggikan kita, dengan
damai, tanpa drama, tanpa harus menjatuhkan siapa pun.
Di zaman begini, memilih untuk tidak membuat orang lain terlihat buruk
adalah keputusan yang melawan arus. Tapi sesuangguhnya, itulah jalan yang
memulihkan hati. Kita tidak dipanggil untuk bersinar di atas reruntuhan sesama,
melainkan menjadi terang yang menuntun banyak orang untuk bangkit. Biarlah
hidup kita dikenal bukan karena siapa yang kita jatuhkan, tetapi karena siapa
yang kita kuatkan.
Sebab sadar, untuk tidak membuat orang lain terlihat buruk agar kita terlihat
baik. Membacalah bersama-sama, bukan membaca sendiri untuk menyebut orang lain
bodoh. Salam literasi!
%20rev.jpg)

%20rev.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar