Kalau Kita Tahu, Seberapa Cepat Orang Lupa Saat Kita Tiada?
“Kalau kita tahu, seberapa cepat orang lupa saat kita tiada. Kita tidak
akan hidup hanya untuk membuat mereka terkesan”, begitu kata Christopher Walken,
aktor ternama AS.
Kita sering lupa dan tanpa sadar membangun hidup di atas penilaian
manusia. Sibuk menyesuaikan diri, menekan keinginan, dan mengejar pengakuan,
seolah-olah nilai diri kita ditentukan oleh seberapa terkesan orang lain pada diri
kita. Hingga lupa, hidup untuk mengesankan orang lain itu melelahkan. Jika
hidup kita hanya untuk dipuji, diakui atau dianggap berhasil, maka kita
akan terus membandingkan diri, takut mengecewakan dan akhirnya kehilangan
kejujuran pada diri sendiri. jadi sederhananya, “jangan korbankan hidup kita demi
kesan yang akan segera hilang.”
Nilai sejati seseorang bukan pada kesan, tapi makna. Sebab besok
yang bertahan bukan mobil apa yang kita pakai, bukan jabatan apa yang kita
sandang, bukan siapa yang memuji kita. Tapi kebaikan yang pernah kita tanam, dampak
yang kita tinggalkan, dan bagaimana cara kita memperlakukan orang lain. Bahkan
itu pun sering tidak disadari orang banyak, tapi dicatat oleh Allah.
Kalau kita benar-benar paham seberapa cepat manusia lupa saat kita
tiada, kita akan berhenti menggantungkan harga diri pada tepuk tangan orang
lain. Kita akan mulai menata ulang tujuan hidup, belajar bertumbuh bukan demi
terlihat berhasil, tapi demi menjadi pribadi yang lebih jujur dan utuh. Maka,
semuanya tergantung pada niatnya.
Dalam Islam, niat adalah poros. Dari sanalah arah hidup
ditentukan. Saat niat diluruskan, kita tidak mudah terombang-ambing oleh
pujian, dan tidak runtuh oleh penilaian orang lain. Kita tetap belajar, tetap
bertumbuh, tetap memperbaiki diri, meski tidak selalu disaksikan manusia. Dan
mungkin, di situlah kemerdekaan seorang hamba bermula. Saat hidup tidak lagi
dijalani untuk dikenang, melainkan untuk diridhoi. Saat kita berhenti sibuk
membuktikan diri. Karena kita tahu, yang paling memahami nilai usaha kita bukan
dunia, melainkan Allah Yang Maha Mengetahui. Jadi, kalau kita tahu, seberapa cepat
orang lupa saat kita tiada. Kita tidak akan hidup hanya untuk membuat mereka
terkesan. Kata-kata Christopher Walken itu layak jadi pengingat yang keras tapi
menenangkan tentang hidup dan tujuan kita.
Sudahlah sahabat, manusia itu cepat lupa. Apapun alasannya, seberapa
baik pun kita pernah berjasa,, pernah berkorban, dan pernah “penting”. Maka ketika
kita tiada, dunia tetap berjalan. Orang menangis sebentar, lalu kembali ke
urusannya masing-masing. Bukan karena mereka jahat, tapi karena itulah sifat
dunia. Itu sinyal kuat yang mengajarkan bahwa menggantungkan nilai diri pada
penilaian manusia adalah hal yang rapuh.
Mulailah bebaskan diri dari pengakuan orang lain. Kita tidak harus
memenuhi ekspektasi semua orang. Kita lebih baik hidup jujur, sederhana, dan
tenang. Dan kita cukup bertanggung jawab pada nilai dan iman kita sendiri. Karena
pada akhirnya, kita tidak hidup untuk dikenang lama oleh manusia, tapi untuk
bernilai di sisi Tuhan. Renungkanlah, untuk apa kita hidup dan mau ke mana kita
saat tiada? Sebuah ajakan untuk mengalihkan orientasi hidup dari “apa kata
orang” menjadi “apa makna hidup kita yang sebenarnya?”
Begitulah saat berkiprah di taman bacaan dan gerakan literasi, kita
hanya berbuat baik dan menebar manfaat. Tanpa perlu dipuji atau dikenang oleh
orang lain. Sebab, kalau kita tahu, seberapa cepat orang lupa saat kita tiada. Kita
tidak akan hidup hanya untuk membuat mereka terkesan. Salam literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar