Sabtu, 31 Januari 2026

Diikuti 200 Anak Pembaca Aktif, Bank Sinarmas dan GWS Medika Gelar CSR Tahun 2026 di TBM Lentera Pustaka

Sebagai bentuk kepedulian sosial (Corporate Social Responsibility), Bank Sinarmas meluncurkan Program CSR tahun 2026 bertajuk "Peduli Literasi dan Pendidikan" di TBM Lentera Pustaka di Bogor, Minggu (1/2/2025). Menggandeng GWS Medika, Bank Sinarmas melakukan edukasi dan periksa Kesehatan gigi 200 anak usia sekolah sebagai bagian program tanggung jawab sosial perusahaan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran kesehatan gigi, mendeteksi masalah gigi sejak dini, dan mengajarkan kebiasaan sehat.

 

Penyerahan dilakukan langsung oleh Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas dan diterima oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka disaksikan oleh 200 anak pembaca aktif. Ikut hadir dalam event CSR ini: Narita Kusumawardhani, Epul Saepulloh, Carlos, dan Ramdhan (Bank Sinarmas), puluhan ibu, wali baca, dan relawan TBM Lentera Pustaka. Adapun tim dokter GWS Medika yang hadir drg. Alivia, drg. Arvina, drg. Rania, drg. Yoga, dan drg. Tomo dan tim yang melakukan edukasi & penyuluhan, periksa gigi, dan bantuan sikat dan pasta gigi.

 

"Peluncuran CSR Bank Sinarmas tahun 2026 ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial kami terhadap pendidikan anak dan gerakan literasi. Kami senang dapat mengajak GWS Medika untuk edukasi dan periksa gigi gratis kepada 200 anak-anak sekolah. Selain menyalurkan bantuan renovasi perbaikan kebun dan Pembangunan gudang buku. Semoga bermanfaat dan jadi motivasi anak-anak untuk terus membaca buku” ujar Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas dalam sambutannya.

 

Di tahun 2026 ini, Bank Sinarmas menyalurkan CSR ke TBM Lentera Pustaka berupa perbaikan kebun baca, pembangunan gudang buku, penutupan got, tembok – pagar, dan bantuan 100 kaos TBM. Di samping dukungan biaya operasional taman bacaan selama tahun 2026 sekaligus emnjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai laboartorium literasi finansial untuk edukasi akan pentingnya menabung di bank ke anak-anak usia sekolah dan para relawan. Sebelumnya, Bank Sinarmas juga menyalurkan bantuan UMKM kepada 12 ibu pengantar anak untuk membuka usaha rumahan sebagai bagian pemberdayaan ekonomi warga. Diawali dengan senam literasi dan bernyanyi bersama gemar membaca, peluncuran CSR Bank Sinarmas tahun 2026 berlangsung meriah dan mendapat sambutan antusasi dari warga pengguna layanan taman bacaan.

 


Sebagai bank swasta nasional yang membina TBM Lentera Pustaka memasuki tahun ke-6, Bank Sinarmas memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dan gerakan literasi melalui aktivitas membaca buku. Karenanya, aktivitas CSR Bank Sinarmas juga melibatkan pilar grup Sinarmas seperti GWS Medika. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kegemaran membaca dan keberlanutan pendidikan anak-anak di taman bacaan, di samping pemberdayaan masyarakat khususnya di sektor ekonomi.

 

Dengan antrean, edukasi dan periksa kesehatan gigi bersama tim dokter GWS Medika berlangsung tertib dan mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Anak-anak diperiksa secara visual terhadap gigi, gusi, lidah, dan mulut, dan deteksi dini gigi berlubang atau infeksi. Konstribusi CSR Bank Sinarmas melalui perisak gigi oleh GWS Mediak menjadi cerminan kepedulian sosial yang berkelanjutan untuk masyarakat secara nyata. selain ber-CSR, Bank Sinarmas pun menyediakan akses perbankan ke anak-anak usia sekolah secara langsung melalui Tabungan SIMPEL dan relawan untuk meningkatkan inklusi perbankan.

 

"Saya ucapkan terima kasih untuk Bank sinarmas dan GWS Medika atas kegiatan CSR yang luar biasa ini, edukasi dan periksa gigi 200 anak pembaca aktif. TBM Lentera Pustaka bersyukur dapat dibina Bank Sianrmas dalam memastikan keberlanjutan pendidikan anak dan kegemaran membaca. Terus terang, apa yang diberikan Bank Sinarmas sangat bermanfaat untuk taman bacaan, anak-anak jadi lebih semangat dan termotivasi untuk membaca buku" sambut Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka.

 

Melalui event CSR Bank Sinarmas ini, TBM Lentera Pustaka kian menegaskan fokusnya terhadap praktik baik di gerakan literasi dan taman bacaan. Setelah 8 tahun berdiri, TBM Lentera Pustaka kini menjalankan 15 program literasi seperti TABA (Taman Bacaan) dengan 150 anak usia sekolah, GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 60 anak usia prasekolah, YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, Koperasi SImpan Pinjam dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, DonBuk (Donasi Buku), RABU (RAjin menaBUng), Literasi Digital, Literasi Finansial, dan MOBAKE (MOtor BAca KEliling). Tidak kurang 360 orang setiap minggunya menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang didukung oleh 18 wali baca dan relawan, di samping koleksinya mencapai lebih dari 12.000 buku.

 

Dalam konteks kepedulian sosial dan kerjasama CSR, inisiatif Bank Sinarmas ini patut menjadi teladan bagi industri jasa keuangan, khususnya dalam menggerakkan literasi dan keberlanutan pendidikan anak. Kegiatan ini diakhiri dengan pembagian goody bag dan makan siang kepada seluruh anak dan ramah-tamah tim Bank Sinarmas, GWS Medika dan relawan TBM Lentera Pustaka. Salam literasi!






Jumat, 30 Januari 2026

Ini 5 Sebab Rezeki Relawan TBM Jadi Lancar?

Siapa yang tidak ingin bila punya utang tahu-tahu bisa terbayarkan? Siapa yang tidak mau kebutuhan selalu tercukupi. Semuanya selalu cukup dan berkah. Tentu, kondisi keuangan seperti itu tidak datang dengan sendirinya. Selalu ada ikhtiar dan doa yang melandasinya.

 

Sebut saja Alwi namanya, seorang relawan TBM Lentera Pustaka. Setiap hari Minggu, dia dari Jakarta datang ke Bogor untuk mengabdi secara sosial di taman bacaan. Dia tidak kaya tapi selalu cukup. Dia tidak pernah dapat rezeki besar sekaligus. Tapi anehnya, ia juga tidak pernah benar-benar kekurangan. Saat beras habis, ada tetangga yang mengantar. Saat dompet lagi seret, ada bonus kecil dari kantor. Saat utang hampir macet, ada tambahan penghasilan yang tidak diduga. Ia merasa hidupnya dilindungi. Jadi lebih tenang hidupnya.

 

Saat ditanya, kenapa Alwi selalu cukup dan tidak kekuarangan. Ternyata, landasannya moraknya begini. Ia bertutur, kenapa rezekinya lancar dan kebutuhan tercukupi.

1     Selalu minta ampun sebelum minta rezeki tambahan, karena di situ langit terbuka saat yang kita perlukan bukan angka tapi ampunan.

2     Selalu ridho dengan apa yang dimiliki, karena di situlah Allah tambahkan rezeki tanpa perlu diminta

3     Sujud di sepertiga malam dan bilang “Ya Allah, aku lelah dan aku nggak mau mengeluh”. Maka pertolongan akan datang diam-diam. Tidak besar tapi cukup, tidak mewah tapi tepat sasaran.

4     Berani berbuat asal baik, tidak menunggu untuk siap tidak menunggu saat kaya. Tapi memulai kebaikan karena Allah yang akan sempurnakan.

5     Berhenti mengatur rezeki versi kita sendiri dan mulai ikuti maunya Allah sebab versi-Nya jauh lebih indah dan pas untuk kita.

Bila saja, satu dari lima hal di atas sudah dilakukan atau dirasakan itu pertanda Allah lagi membuka jalan untuk kita. Maka jangan berhenti, dan teruslah jaga hati dan ikhtiar yang baik.

 


Dan yang penting selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain. Seperti yang dilakukan Alwi sebagai relawan TBM Lentera Pustaka. Dia meyakini “balasan kebaikan adalah kebaikan”. Rezeki bukan hanya hasil kerja, tapi ketetapan Allah. Dan Allah secara langsung menjanjikan balasan bagi orang yang berbuat baik. “Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan, niscaya kamu akan mendapat balasannya.” (QS. Al-Baqarah: 110). Balasannya, tentu tidak selalu uang tapi bisa berupa: kemudahan urusan, pertolongan di waktu sempit, utang yang tiba-tiba ada jalan keluarnya, dan kebutuhan yang selalu tercukupi Sering kali merasa “kok pas butuh, ada saja jalannya?” Itulah salah satu bentuk balasan kebaikan.

 

Biar bagaimana pun, kebaikan selalu menjadi tabungan tak terlihat. Ada masa kita memberi, ada masa kita membutuhkan. Kebaikan yang dulu kita tanam bisa Allah kembalikan di saat paling genting. Bukan karena kita menuntut balasan tapi karena Allah Maha Adil dan Maha Menepati janji.

 

Berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain, di manapun, memang bukan cara instan jadi kaya tapi jalan agar rezeki diberkahi, dilapangkan, dan dicukupkan Rezeki jadi lancar karena Allah ridho, hati tenang, urusan dimudahkan, dan pertolongan datang tepat waktu. Salam literasi!

Hitung Uang Pesangon akibat PHK atau Pensiun, Berapa Besarannya?

UU No. 6/2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang, pada Pasal 156 ayat 1) ditegaskan “Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha wajib membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima”.

 

Kata “wajib” di situ bersifat imperatif dan tidak memberi ruang bagi pengusaha untuk menunda atau mencicil pembayaran tersebut secara bertahap. Konsekuensinya, pelanggaran atas kewajiban pembayaran pesangon merupakan tindak pidana, dengan ancaman pidana penjara dan denda (Pasal 185 ayat 1 UU 6/2023). Sebab uang pesangon merupakan perlindungan finansial pekerja/buruh atas hilangnya pendapatan tetap pekerja/buruh akibat pemutusan hubungan kerja dan sebagai penghargaan atas masa kerja dan kontribusi yang telah diberikan pekerja/buruh. Kewajiban tersebut termasuk pesangon karena alasan selain pensiun.

 

Adapun acuan besaran pesangon terdiri dari: a) uang pesangon (ayat 2), b) uang penghargaan masa kerja (UPMK) (ayat 3), dan c) uang penggantian hak (UPH) seperti cuti tahunan dan biaya ongkos pekerja (ayat 4). Setidaknya, ada 15 alasan terjadinya PHK seperti: penggabungan/peleburan, efisiensi, tutup, orce majeure, PKPU, pailit, melakukan perbuatan yang merugikan pekerja/buruh, mengundurkan diri, mangkir, pelanggaran, pensiun, meninggal dunia, tindak pidana hukum, tindak pidana di perusahaan, dan sakit berkepanjangan atau cacat. Karena itu, setiap pekerja harus tahu aturan mainnya dan setiap pemberi kerja harus benar-benar menerapkannya aturan pesangon yang ada di PP No. 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.

 


Lalu, bagaimana hitung-hitungan pesangon pekerja? Ini sebagai contoh saja, uang pesangon pekerja yang berhenti bekerja akibat “pensiun” dan “PHK karena efisiensi perusahaan”.  Sebut saja si A memiliki masa kerja 20 tahun dengan upah terakhirnya Rp. 10 juta. Maka sesuai regulasi yang berlaku, saat si A berhenti bekerja atas alasan memasuki usia PENSIUN, maka perhitungan uang pesangan (UP), uang penghargaam masa kerja (UPMK), dan uang penggantian hak (UPH) yang diperoleh ada sebagai berikut:

– UP = 9 X 1,75 X Rp. 10 juta = 157,5 juta

– UPMK = 7 X Rp. 10 juta = 70 juta

– UPH = 1 (relatif) X Rp. 10 juta = 10 juta

Maka, uang pensiun yang diperoleh si A sebesar Rp. 237,5 juta.


Berbeda bila dengan si B yang terkena PHK atas alasan EFISIENSI PERUSAHAAN, maka  maka perhitungan UP – UPMK – UPH yang diperoleh si B sebagai berikut:

– UP = 9 X 1 X Rp. 10 juta = 90 juta

– UPMK = 7 X Rp. 10 juta = 70 juta

– UPH = 1 (relatif)  X Rp. 10 juta = 10 juta

Maka, uang pesangon yang diperoleh si B sebesar Rp. 170 juta.

 

Tentu saja, besar kecilnya uang pesangon bersifat relatif. Tergantung pada lamanya masa kerja - besarnya gaji - sebab berhenti bekerja, di samping aturan yang tertera di peraturan perusahaan atau PKB. Sekali lagi, soal pesangon memang harus dicermati dan dipahami pekerja. Tentang regulasi yang berlaku dan acuan yang dipakai perusahaan. Tapi yang penting adalah penegakan aturan dalam pembayaran pesangon.

 

Namun sayangnya, saat ini masih banyak pemberi kerja atau perusahaan yang tidak membayar pesangon saat terjadi PHK atas sebab apapun. Diduga  90% perusahaan tidak membayar uang pesangon pekerja saat terjadinya pemutusan hubungan kerja atau pensiun. Ambil contoh yang terjadi di Sritex. Hingga kini, uang pesangon pekerja belum dibayarkan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena 1) tidak tersedianya uang saat pesangon harus dibayarkan perusahaan dan 2) kesadaran perusahaan untuk mendanakan uang pesangon sangat rendah, termasuk uang pensiun pekerjanya. Oleh karena itu, inilah momentum perusahaan harus mulai mendanakan uang pesangon atau uang pensiun pekerja. Karena cepat atau lambat, uang pesangon atau pensiun pekerja pasti dibayarkan.

 

Bagaimana caranuya mendanakan uang pesangon atau pensiun pekerja? Salah satunya, dapat dilakukan melalui DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Perusahaan dapat mulai mendanakan uang pesangon atau uang pensiun pekerja melalui program pensiun di DPLK. Selain dapat disesuaikan dengan kondisi perusahaan, DPLK bisa menjadi pilihan dalam eksekusi pembayaran pesangon atau imbalan pasacakerja, baik saat pensiun, meninggal dunia, atau pekerja di-PHK. Salam #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #EdukasiDPLK

 

Kamis, 29 Januari 2026

Gaji Naik Terus Tiap Tahun tapi Susah Punya Dana Pensiun?

Sebenarnya cukup mudah untuk bisa siap pensiun. Asal mau menabung untuk hari tua, menyisihkan sebagian gaji untuk masa pensiun. Menabung 3% atau 5% dari gaji untuk dicairkan jadi kesinambungan penghasilan sebagai manfaat pensiun saat tidak bekerja lagi. Agar tetap mandiri secara finansial di hari tua dan tidak bergantung kepada siapapun. Tapi sayangnya, banyak pekerja masih terbuai gaya hidup. Sehingga “menganggap” menabung untuk masa pensiun nanti saja. Menunda dan belum mau menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Gaji tiap tahun naik tapi susah banget siapin masa pensiun?

 

Akibatnya hari ini di Indonesia,  9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Bahkan 1 dari 2 pensiunan atau lansia mengandalkan transferan dari anak-anaknya untuk biaya hidup setiap bulan. Semuanya terjadi karena tidak tersedianya dana yang memadai untuk membiayai hidup di saat tidak bekerja lagi. Tidak punya uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan di hari tua. Pensiun yang terkesan mudah menjadi susah.  

 

Mempersipakan masa pensiun yang indah memang jadi susah. Banyak orang belum siap pensiun. Setidaknya ada 5 (lima) penyebab, kenapa kita belum siap untuk pensiun yaitu: 1) gemar berperilaku konsumtif di saat bekerja, membeli barang atass dasar keinginan bukan kebutuhan, 2) terbuai gaya hidup yang tidak perlu sehingga biaya hidup jadi tinggi, 3) masih suka utang sehingga gaji tergerus untuk membayar cicilan, 4) terlambat menabung untuk hari tua atau masa pensiun, alasannya gaji tidak cukup untuk tabunngan pensiun, dan 5) takut memiliki program pensiun sehingga tidak punya kesiapan dana untuk hari tua.

 


Cepat atau lambat, siapapun akan pensiun. Saat usia pensiun tiba dan masa kerja berakhir di kantor. Maka tidak ada solusi lain untuk bisa lebih siap pensiun. Selain “bertindak dari sekarang untuk mempersiapkan masa pensiun” kita sendiri. Berani menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Berani menabung untuk masa pensiun dan mau memiliki dana pensiun sejak dini tanpa ditundqa lagi.

 

Bagaimana caranya? Salah satu ikhtiar yang paling sederhana adalah mulai ikut dalam program DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena DPLK adalah program yang dirancang khusus untuk mempersiapkan masa pensiun pekerja. Agar punya kesinambungan penghasilan di hari tua, saat tidak bekerja lagi. Agar tetap manidiri secara finansial da tidak bergantung secara finansial kepada anak atau keluarga.

 

Siapapun yang memiliki DPLK, atas manfaat pensiun yang dibayarkan saat mencapai usia pensiun. Sehingga ada kepastian dana untuk hari tua, bahkan mendapat hasil investasi yang signifikan untuk ketenangan hidup di masa pensiun. Mau nyaman atau tidak di masa pensiun adalah pilihan kita sendiri. Maka bersiaplah untuk pensiun, sebab kalau bukan kita mau siapa lagi? #EdukasiDanaPensiun #YukSiapkanPensiun #MasaPensiun #DanaPensiun

Apa yang Berubah dari Kebiasaan Membaca Buku?

 

Kita sering menaruh buku sebagai simbol pencerahan. Buku diasosiasikan dengan pengetahuan, kebenaran, dan kebijaksanaan. Maka wajar jika muncul anggapan bahwa membaca buku yang baik akan otomatis melahirkan perubahan, baik pada diri manusia maupun pada dunia. Padahal, membaca sebenarnya baru tahap awal, bukan tujuan akhir.

 

Membaca buku, sejatinya bekerja di wilayah kesadaran, bukan langsung di wilayah tindakan. Buku bisa membuka cara pandang, menggoyahkan keyakinan lama, atau menumbuhkan empati, tetapi semua itu masih bersifat potensi. Perubahan nyata baru terjadi ketika hasil bacaan diolah menjadi sikap, pilihan, dan tindakan konkret. Tanpa proses itu, membaca hanya berhenti sebagai konsumsi gagasan.

 

Selain itu, dunia tidak berubah hanya karena individu menjadi lebih tahu. Dunia digerakkan oleh struktur sosial, kekuasaan, ekonomi, dan relasi antarmanusia. Seseorang bisa sangat terpelajar, tetapi tetap hidup di sistem yang tidak adil. Di sinilah kekecewaan sering muncul: kita berharap kebijaksanaan personal langsung menular ke tatanan sosial, padahal perubahan sosial selalu lambat, kolektif, dan penuh tarik-menarik kepentingan.

 


Namun, bukan berarti membaca sia-sia. Justru kekuatannya ada pada efek perlahan dan kumulatif. Buku tidak mengubah dunia secara instan, tetapi membentuk cara manusia berpikir, memperhalus kepekaan moral, dan menyiapkan landasan bagi tindakan yang lebih sadar. Membaca tidak mengubah keadaan, tidak pula menggerakkan dunia. Tapi menyentuh sesuatu yang lebih dasar: manusia itu sendiri.

 

Membaca mengubah cara orang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Jadi berani untuk bertanya, kepekaan untuk peduli, dan tanggung jawab atas pilihan hidup. Perubahan itu pelan, kadang tidak terlihat, tapi menetap. Tinggal di kepala dan hati seseorang, lalu ikut terbawa ke mana pun ia pergi. Dari orang-orang yang membaca itulah dunia bergerak. Dunia tidak berubah oleh kurikulum, tapi oleh manusia yang terdidik dengan kesadaran. Ketika orang berubah, cara bekerja berubah, cara memimpin berubah, cara memperlakukan sesama pun ikut berubah. Dan di sanalah, tanpa banyak suara, dunia perlahan ikut bergeser.

 

Maka, membaca tidak membuat dunia otomatis adil, dan tidak menjamin manusia langsung bijak. Tapi tanpa membaca, harapan akan dunia yang lebih adil dan manusia yang lebih bijak hampir mustahil. Buku bukan tombol ajaib, melainkan benih. Perlu waktu, perawatan, dan keberanian untuk diwujudkan dalam tindakan. Begitulah orang-orang yang membaca. Salam literasi!



LSP Dana Pensiun Gelar Uji Sertifikasi KKNI untuk 36 Pelaku DPPK dan DPLK

Sertifikasi KKNI dana pensiun menjadi fondasi profesionalisme SDM sekaligus tata kelola industri dana pensiun. Melalui sertifikasi KKNI, industri dana pensiun menjawab tiga kebutuhan besar yaitu kompetensi, kepercayaan, dan keberlanjutan. Berangkat dari spirit untuk meningkatkan kompetensi SDM-nya, LSP Dana Pensiun hari ini melakukan asesmen uji kompetensi dan sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 36 peserta pada jenjang 4, 6C, dan 7 di Jakarta (29/1/2026).

 

Dengan melibatkan 13 asesor kompetensi berlisensi BNSP yang terdiri dari: Arif Hartanto, Edy Rahardja, Asiwardi Gandhi, Bambang Sri Muljadi, Syarifudin Yunus, A. Inderahadi K, Purwaningsih, Edi Pujiyanto, M. Jihadi, Satino, Ganis Widio Ananto, Sularno, dan Junaedi A. Kaelani, asesmen KKNI Dana Pensiun ini dijalankan sesuai dengan SEOJK 12/2025 tentang sertifikasi kompetensi kerja dan sertifikasi kompetensi selain sertifikasi kompetensi kerja bagi dana pensiun dan POJK 34 Tahun 2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Dana Pensiun.

 

Peserta uji sertifikasi KKNI berasal dari 25 DPPK/DPLK: Dapen Pusri, Dapen BPK Penabur, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, DPLK IFG Life, Dapen PT. BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, Dapen Tirta Nusantara, Dapen PT. Pembangunan Perumahan (Persero), Dapen  Gereja Protestan Di Indonesia Bagian Barat, Dapen  PT. BPD Riau Kepri, Dapen Universitas Surabaya, Dapen PPIP-PUSRI, Dapen Goodyear Indonesia, Dapen Syariah PT. Bank Aceh, Dapen Bank Mandiri Empat, Dapen PLN, Dapen Askrida, Dapen PT. BPD Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Dapen PT. BPD Lampung, DPLK Bumiputera, Dapen Bank Mandiri, Dapen Garuda Indonesia, Dapen PT. BPD Bali, Dapen Kaltim Prima Coal, Dapen PT. BPD Nusa Tenggara Timur, dan Dapen Astra Dua. Melalui uji sertifikasi KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun menjalankan perannya untuk memastikan standar kompetensi, di samping kredibilitas mutu pelaku dana pensiun di Indonesia. Sebab KKNI dana pensiun menjadi cerminan standar pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang dipersyaratkan regulasi.

 

“Melalui uji sertifikasi KKNI, LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk mengoptimalkan kompetensi SDM dana pensiun. Sertifikasi berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) memastikan bahwa pengurus, pengelola, dan pelaksana dana pensiun memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang terstandar, baik dari regulasi dana pensiun, investasi & manajemen risiko, dan tata kelolanya. Tidak hanya berpengalaman, tapi teruji secara objektif, karena dana pensiun mengelola dana jangka panjang yang menyangkut hak peserta” ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun saat membuka asesmen uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun hari ini.

 


Melalui asesmen sertifikasi KKNI, setiap SDM dana pensiun divalidasi dan diwawancara atas makalah atau kinerja yang dijalankan sesuai standar kompetensi nasional yang disusun oleh BNSP untuk industri dana pensiun. Untuk itu, proses asesmen LSP Dana Pensiun dilakukan secara objektif, adil, dan valid sesuai sistem dan prosedur pengembangan kualitas SDM yang berkelanjutan. Melalui KKNI, SDM industri dana pensiun diharapkan dapat menerapkan tata kelola yang baik dan manajemen risiko yang efektif untuk melindungi peserta dana pensun yang ada.

 

Untuk diketahui, saat ini LSP Dana Pensiun memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP untuk melaksanakan dan memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun. LSP Dana Pensiun merupakan satu-satunya LSP di bidang dana pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. Untuk informasi dan program LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/.

 

Kompetensi sesuai KKNI bidang Dana Pensiun diterapkan semata-mata untuk a) pelaksanaan pendidikan atau pelatihan, b) pelaksanaan sertifikasi kompetensi, c) pengembangan sumber daya manusia, dan d) pengakuan kesetaraan kualifikasi. Melalui KKNI bidang Dana Pensiun diharapkan SDM dana pensiun mampu meningkatkan kompetensinya, sehingga 1) mengetahui ukuran kemampuan yang dimiliki, 2) dapat meningkatkan akses untuk mengembangkan diri, dan 3) menambah produktivitas kerja. Selain berkomitmen dalam mengoptimalkan KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun terus melakukan koordinasi untuk memastikan kompetensi SDM di sektor dana pensiun sesuai standar nasional dan standar profesionalisme dalam pengelolaan dana pensiun. Salam Kompeten!

 



Rabu, 28 Januari 2026

Jangan Takut Pelan Asal Arah Jelas di Taman Bacaan

Sekarang ini banyak orang terburu-buru, maunya serba cepat. Pengen sukses pengen terkenal tapi prosesnya ditinggalkan. Tergesa-gesa, segala hal dianggap seperti kompetisi atau perlombaan. Bahkan tidak sedikit yang niatnya hanya untuk mengalahkan orang lain. Agar dianggap lebih hebat, lebih tinggi dari yang lainnya.

 

Sayangnya banyak yang lupa. Saat ini banyak yang hidupnya terasa makin cepat, tapi hasilnya justru makin jauh dari harapan? Banyak orang bangun pagi dengan rasa dikejar-kejar, bekerja seharian, lalu pulang dengan kepala mumet dan hati kosong. Di tengah tekanan kebutuhan dan keterbatasan penghasilan, pelan sering dianggap kalah sebelum mulai.

 

Sebuah laporan WHO menyebutkan. Bahwa tekanan hidup yang terus-menerus tanpa rasa kendali meningkatkan risiko stres dan kelelahan mental. Bukan karena hidup terasa berat, tapi karena banyak orang merasa harus cepat, terburu-buru untuk menggapai keinginannya. Padahal arah hidupnya sendiri belum jelas. Akhirnya tenaganya habis untuk bergerak, bukan untuk maju. Tapi untuk berperang dengan obsesi dan pikirannya sendiri.

 

Setelah berkiprah di TBM Lentera Pustaka selama 9 tahun. Ternyata salah satu Pelajaran penting yang diperoleh adalah “jangan takut pelan asal arah jelas”. Di taman bacaan, pelan bukan masalah, selama aktivitas yang dilakukan baik dan bermanfaat. Pelan di taman bacaan justru oke asal langkahnya sadar dan terarah. Anak-anak yang tidak punya akses baca jadi punya kebiasaan baca. Pengguna layanan tadinya hanya 14 orang kini melonjak jadi 366 orang. Tadinya hanya 1 program literasi jadi 15 program literasi dalam 9 tahun. Pelan asal arahnya jelas.

 

Hikmahnya, ternyata kita perlu sadar. Bahwa cepat tidak selalu tepat. Banyak keputusan diambil terburu-buru karena takut ketinggalan. Padahal, pilihan yang dibuat tanpa pertimbangan sering berujung penyesalan dan membuang waktu percuma. Berani pelan memberi ruang untuk berpikir, menimbang, dan menjalaninya dengan lebih tenang. Maka apapun, tentukan arah kcil yang realistis. Arah tidak harus langsung besar dan muluk. Cukup jelas untuk bulan ini atau tiga bulan ke depan, mau seperti apa? Jalani prosesnya dengan konsisten. Arah yang sederhana justru membuat langkah pelan tetap terasa bermakna.

 

Jangan bandingkan kecepatan dengan orang lain. Sebab setiap orang punya titik awal dan beban yang berbeda. Membandingkan langkah hanya membuat pikiran bising dan hati tidak tenang. Fokus pada jalur sendiri, membantu menjaga energi dan semangat untuk terus bergerak. Karenanya, perlu ditopang dengan kebiasaan kecil yang konsisten. Sebab perubahan besar jarang datang dari lonjakan, tapi dari kebiasaan kecil. Sisihakn waktu untuk belajar atau mencatat apapun yang penting untyk lebih maju. Kebiasaan sederhana dapat  menjaga arah agar tetap lurus meski langkah pelan.

 


Banyak orang ingin cepat tapi mengabaikan risiko. Contohnya membeli barang hanya karena keinginan bukan kebutuhan. Agar dibilang keren. Lebih baik ditabung untuk masa depan daripada akhirnya punya utang. Karena itu, jaga komitmen pada proses sendiri. Tidak semua hari haru maju, cukup Jalani prosesnya saja. Yang penting adalah tetap kembali ke arah yang jelas, ke arah yang sudah dipilih.

 

Banyak yang lupa. Kesetiaan pada proses itu membuat langkah pelan tetap membawa hasil. Pada akhirnya, hidup dan apapun bukan perlombaan siapa paling cepat. Tapi perjalanan siapa paling sadar dan sabar. Perubahan tidak menunggu kondisi ideal, melainkan dimulai dari keberanian mengatur langkah sesuai kemampuan dan arah yang jelas. Berjalan pelan dengan arah jelas lebih menenangkan daripada berlari tanpa tahu tujuan. Salam literasi!

 



Milenial Sering Ganti Pekerjaan dan Akrab Teknologi tapi Nggak Punya Dana Pensiun

Berdasarkan data yang ada, generasi milenial (lahir sekitar 1981–1996) diperkirakan berjumlah sekitar 69,90 juta jiwa dari total populasi Indonesia sekitar 270,2 juta jiwa. Atau sekitar 25,87% dari total penduduk Indonesia. Cukup besar ya.

 

Selain akrab dengan teknologi berbasis internet dan gadget, generasi milenial dikenal sering gonta-ganti pekerjaan, selalu mencari peluang yang lebih baik, dan menyukai fleksibilitas. Sayangnya, generasi milenial sama sekali tidak atau belum mau persiapkan dana pensiun. Survei Syarifudin Yunus (2019) menyebut 90% kaum milenial tidak punya dana pensiun. Artinya 1 dari 10 milenial hari ini tidak punya program pensiun. Bahkan 60% dari milenial sama sekali tidak tahu, apa itu dana pensiun?

 

Agak bahaya sih bisa generasi milenial nggak punya dana pensiun. Justru bila mau gonta-ganti pekerjaan, seharusnya punya fundamental keuangan yang memadai. Tidak aware-nya milenial terhadap dana pensiun tentu bertolak belakang dengan pola pikir milenial itu sendiri yang cenderung idealis, kritis, dan visi hidup yang ambisius. 

 

Fenomena milenial sering ganti pekerjaan, akrab teknologi, tetapi tidak punya dana pensiun punya dampak berlapis. Bukan cuma ke individu, tapi juga ke perusahaan, negara, dan sistem sosial nantinya. Dampak bagi individu milenial antara lain: rentan secara finansial di usia tua akibat uangnya habis untuk kebutuhan jangka pendek. Dampaknya, milenial berisiko tetap bekerja di usia lanjut, bukan karena pilihan tapi karena terpaksa. Dihantui ilusi karena teknologi, merasa selalu bisa “cari uang nanti”. Dan akhirnya, mengalamai beban psikologis jangka panjang. Sebab tanpa dana pensiun, saat milenial menginjak usia 40–50-an akan mengalami kecemasan finansial, takut sakit, kehilangan pekerjaan, dan akhirny akonflik keluarga meningkat.

 

Dampak bagi dunia kerja dan perusahaan, akan kesulitan mempertahankan karyawan dan membangun loyalitas SDM. Konsekuensinya, produktivitas jangka panjang menurun. Sebab karyawan tanpa rasa aman finansial akan gampang stres, kurang fokus, dan cenderung oportunistik. Dan ujungnya akan berdampak pada negara dan sistem sosial. Jika mayoritas milenial tidak punya dana pensiun dan hidup lebih panjang, maka negara akan menghadapi lonjakan penduduk lansia miskin di masa depan. Beban negara jadi meningkat, akhirnya butuh bansos, subsidi kesehatan meningkat, dan ketimpangan sosial melebar.

 

Karena itu, generasi milenial perlu menyadari sekalipun bisa dianggap terlalu dini untuk menjelaskan kepada milenial. Tapi setidaknya, ada 3 (tiga) dampak negatif yang signifikan bila milenial tidak memiliki dana pensiun, yaitu: 1) akan jadi beban atau tanggungan orang lain di hari tua, 2) mengalami masalah keuangan di masa pensiun saat tidak bekerja lagi, dan 3) gagal mempertahankan gaya hidup di hari tua seperti saat masih bekerja.  Milenilal tanpa dana pensiun, maka keunggulan itu berubah menjadi kerentanan struktural. Masalahnya, bukan milenial malas menabung. Tapi tidak ada kesadaran dan edukasi tentang pentingny dana pensiun kepada milenial.

 


Nah, sebagai antisipasi dari “lingkaran misterius” hari tua generasi milenial. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah generasi milenial harus berani punya dana pensiun dari sekarang. Agar lebih disiplin menabung untuk hari tua, sekaligus meredam perilaku konsumtif yang berlebihan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan mulai memiliki dana pensiun melalui DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Kebiasaan berpindah kerja dan dominasi teknologi dalam kehidupan milenial, jika tidak diimbangi dengan kepemilikan dana pensiun, berpotensi menimbulkan risiko kesejahteraan jangka panjang yang berdampak sistemik bagi individu dan negara.

 

Maka sudah saatnya, kaum milenial menyisihkan sebagian “uang jajan” untuk nongkrong di kafe-kafe atau gaya hidup ke dana pensiun. Sekaligus menjadi sarana untuk mengatur perencanaan keuangan secara lebih bijak. Agar tetap sejahtera dan nyaman di hari tua. Jangan sampai “dompet tipis” di hari tua akibat terlalu royal di masa muda. DPLK menjadi alternatif yang patut dipilih kaum milenial dalam mempersiapkan hari tuanya sendiri.

 

Sebab cepat atau lambat, generasi milenial pun akan tua, akan pensiun. Pasti akan berhenti dari pekerjaan. Hanya masalahnya, sudah tersediakah dana untuk membiayai hidup di hari tua atau masa pensiun?

Selasa, 27 Januari 2026

Pemimpin Nggak Usah Banyak Omong, Banyakin Kerja

 

Di organisasi bahkan di kantor, sekarang ini ada candu bernama: pengakuan. Biasanya dimiliki yang merasa jadi ketua, pemimpin atau atasan. Saking merasa pentingnya, dia punya kebutuhan aneh yang sering nyamar jadi “cuma pengen jelasin”, “cuma pengen lurusin”, “cuma pengen biar orang paham”. Padahal kalau ditarik ke akar, sering kali itu cuma: pengen diakui sebagai pimpinan.

 

Si pemimpin organsisasi lupa, begitu dia pengen diakui maka dia mulai kebanyakan ngomong. Mulai buka-buka cerita yang sebenernya nggak perlu. Mulai ngasih konteks omongan yang nggak diminta. Dan si pemimpin mulai nambahin detail yang nggak ada gunanya buat anggotanya. Dan tanpa sadar, dia lagi ngasih anggotanya bahan mentah. Ada juga satu jebakan si pemimpin: merasa paling ngerti. Dia “harus” ngomong karena dia ngerasa paling paham. Lalu mulai ceramah. Mulai meremehkan, mulai merendahkan orang lain. Dia lupa, dalam politik dalam konflik dalam kekuasaan, yang bikin orang tumbang itu bukan kebodohan. Tapi kecerobohan yang lahir dari kepercayaan diri berlebihan. Sok paling tahu, sok paling pinter. Lupa, mulut adalah tempat kepercayaan diri bunuh diri pelan-pelan.

 

Si pemimpin organsisasi itu lupa. Kata-katanya bukan cuma ngasih tahu orang lain siapa dia. Tapi juga mengunci dia posisi tertentu. Ngomong di depan orang banyak, nanti kantor akan lebih besar dari sekarang. Tapi besok yang dikerjain ma;ah kantornya dibikin kecil. Hari ini ngomong A, ternyata besok yang dilakukan malah B. ujungnya, nggak ada yang dikerjain buat organisasinya. Semuanya didelegasikan, nyuruh orang lain. Tapi bilangnya, kolaborasi dan bagian dari strategi organisasi. Intinya, dia terlalu suka nunjukin betapa dia merasa lebih tinggi dari orang lain. Setiap pidatonya bukan cuma nyampein ide tapi juga nyampein isi kepalanya yang paling jelek: sombong, meremehkan, dan nggak sabaran. Anggota dan rakyat yang tadinya kagum, jadi muak. Bukan karena idenya salah. Tapi karena mulutnya keburu ngebuka sendiri “siapa dia sebenarnya”. Anggotanya pun saling nomong di belakang, saling lirik-lirikan.

 

Di dunia nyata, banyak pemimpin nggak paham. Yang pertama kali bocor itu hampir selalu yang kalah posisi tawar. Makanya kalua diperhatikan: orang yang kebanyakan klarifikasi biasanya bukan lagi menguatkan posisi tapi dia lagi defensif. Lagi panik. Lagi merasa harus ngejelasin diri. Dan begitu dia harus ngejelasin diri, di situ sebenarnya posisi dia sudah bergeser. Bukan pemimpin tapi hanya strategi kamuflase.

 

Si pemimpin ngomong karena pengen kelihatan pintar. Ngomong karena nggak tahan sama sunyi dan karena takut disalahpahami. Dan justru karena banyak ngmong itu, si pemimpin jadi gampang kebaca. Dia lupa dalam hidup, dalam negosiasi bahkan dalam menulis: yang bikin kuat bukan seberapa banyak yang diomongin. Tapi seberapa banyak yang kita tahan buat nggak kita omongin. Karena sekali kata keluar, dia nggak bisa ditarik balik. Dan sering kali, harga satu kalimat itu lebih mahal dari yang kita kira. Ada satu hal yang lebih dalam: orang jarang jatuh karena musuhnya pinter. Dia jatuh karena dia sendiri terlalu pengen didengar. Kita lupa, pemimpin yang sok tahu sok pinter, itulah yang bikin orang lain jadi apatis.

 


Ada ilusi berbahaya: kalau diam, dikira kalah. Padahal sering kali yang sebenarnya kalah itu justru yang keburu buka mulut duluan. Perhatikan orang kalau lagi debat. Yang posisinya lemah biasanya: nambah volume suara, nambah panjang kalimat, nambah banyak pembelaan dan mengklarifikasi masalah. Tapi yang posisinya kuat biasanya: jawabannya pendek, diam atau langsung resign. Mengambil sikap tegas, untuk menghidari pemimpin yang sok tahu, arogan ddan subjektif.

 

Hari ini banyak pemimpin merasa paing ngerti, apapun. Padahal itu jebakan batman. Nggak ada yang dilakukan, organsisasinya pun nggak lebih baik, bahkan cenderung “kosong”. Ya begitu-begitu saja. Tapi ocehannya diperbanyak agar jadi alasan. Orang yang banyak ngomong itu kaku. Karena dia sudah mengikat dirinya sendiri dengan ucapannya sendiri. Beda dengan orang yang irit ngomong, dia lentur. Dia bisa belok. Bisa mundur. Bisa nyerang. Tanpa harus jelasin apa-apa. Dan ini yang jarang disadari: diam itu bukan kosong. Diam itu menyimpan kemungkinan. Kemungkinan buat berubah sikap. Kemungkinan buat ganti strategi. Kemungkinan buat ninggalin orang lain kejebak sama asumsi mereka sendiri. Jadi penting, kalau kita nggak harus ngomong, jangan ngomong.

 

Pernah nggak kita ketemu orang yang makin dia jelasin sesuatu, kok makin kelihatan nggak meyakinkan? Awalnya dia kelihatan pinter. Terus dia nambah penjelasan. Terus nambah klarifikasi lagi. Sampai di satu titik, dia bukan makin yakin. Dan di situ kita mulai mikir: “Ini orang kenapa sih kayak takut banget nggak dipercaya?” Nah, di situ masalahnya. Mulai insecure atas posisinya.

 

Kebanyakan pemimpin atau orang nggak sadar: setiap kali mereka ngomong, mereka bukan cuma nyampein ide. Mereka lagi buka peta isi kepala mereka sendiri. Dan makin panjang mereka ngomong, makin kelihatan bentuknya: takutnya di mana, pengennya apa, paniknya seperti apa, niat aslinya ke mana? Makanya ada tipe orang yang baru buka mulut dua kalimat, tapi suasana ruangan langsung berubah. Bukan karena dia pinter banget. Tapi karena dia gak ngasih cukup data buat orang lain buat “ngebaca” dia, mau ke mana omongannya?

 

Dan bila di organsisasi udah seperti itu, maka yang terjadi suasana sepi. Tidak dinamis, tidak demokratis. Semuanya satu arah dan tinggal menunggu waktu saja untuk berakhir. Makanya ingat, semakin banyak kita nambah kata, semakin kelihatan kita lagi nutupin sesuatu. Lebih baik fokus kerja, benahi yang harus dibenahi di organsiasi. Nggak usah inscure, harus ngejelasin atau klarifikasi apapun. Di organsiasi dan negara manapun, sejarah pasti ada. Nggak usah menyalah-nyalahkan sejarah cuma mau dibilang hebat. Jangan bilang orang lain buruk bila cuma mau kita dibilang baik. Ada caranya yang elegan, tunjukkan dengan kerja dan bisa diukur pencapainnya.  

 

Ingat, ada cerita klasik soal seorang jenderal Romawi, Coriolanus namanya. Di medan perang, dia legenda. Semua orang takut. Semua orang kagum. Tapi begitu masuk politik, dia hancur. Kenapa? Karena dia nggak bisa ngerem mulutnya dan cuma cari pengakuan. Kerjanya cuma menyalahkan sejarah tanpa bisa berbuat strategi perang lebih baik. Mau kayak jenderal Coriolanus?

Kiprah di Taman Bacaan Tanpa Perlu Pengakuan, Jalani Prosesnya

Ini bukan soal bagus atau tidak bagus. Tapi soal kepuasan batin yang muncul dari aktivitas keseharian di TBM Lentera Pustaka. Sebuah kiprah sosial saat melayani anak-anak KElas PRAsekolah (KEPRA) yang belajar baca-tulis atau mendampingi anak-anak Taman Bacaan (TABA) saat membaca buku. Dari yang tadinya tidak ada akses belajar calistung dan membaca, kini tumbuh menjadi anak-anak yang rutin datang ke taman bacaan. Bersama-sama ada di taman bacaan, minimal seminggu 3 kali.

 

Memang benar, berkiprah di taman bacaan tidak dapat diukur secara kuantitatif. Bukan bicara angka atau pengakuan. Tapi memberikan kepuasan bersifat intrinsik, hanya bisa dirasakan oleh yang melakukannya. Dalam kegiatan sosial, terutama di taman bacaan, hasil nyata seperti jumlah pengunjung, buku yang dibaca, atau penghargaan sering kali bukan tujuan utama. Yang lebih bermakna adalah kesadaran bahwa kehadiran dan usaha kita memberi dampak, sekecil apa pun bagi orang lain. Ada manfaat yang dirasakan dari keberadaan taman bacaan.

 

Ukuran keberhasilan juga tidak melulu dari angka atau pengakuan. Nilai utama dari kiprah sosial di taman bacaan sejatinya terletak pada proses pengabdian, bukan pada validasi sosial atau capaian yang bisa dipamerkan. Ketika sebuah pengabdian hadir sepenuh hati, maka di dalamnya ada ketulusan dan komitmen moral. Kepuasan muncul karena tindakan dilakukan dengan niat memberi, bukan karena dorongan imbalan. Dari sini, muncul rasa tenang dan damai, lebih bermakna, dan ada koneksi dengan sesama. Sesuatu yang tidak bisa dihitung, tetapi bisa dirasakan.

 


Begitu pula dalam hidup. Terkadang ada kepuasan yang tidak bisa diukur dari besar kecilnya hasil. Tapi dari proses dan rasa bahwa sesuatu itu lahir dari keringat sendiri. Sekecil apa pun yang didapat, ia membawa martabat. Ada usaha di sana, ada niat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Kadang hasil jerih payah memang tidak langsung mengubah keadaan. Hidup tetap berat, masalah tetap ada. Tapi setidaknya kita tidak menambah beban orang lain. Ada ketenangan kecil saat tahu bahwa kita sedang berusaha menanggung hidup kita sendiri, walau pelan dan jauh dari sempurna.

 

Ikhtiar kita sering luput dari sorotan. Tidak dramatis, tidak mengundang pujian. Namun justru di situlah nilainya. Bertahan tanpa merepotkan, berjuang tanpa banyak suara, dan terus berjalan meski hasilnya kecil. Bagi banyak orang, itu sudah merupakan keberanian yang besar dan manfaat yang luar biasa.

 

Singkatnya, kerja apapun atau kerja sosial adalah kepuasan sejati bukan berasal dari besar-kecilnya hasil yang tampak, melainkan dari makna, ketulusan, dan kesadaran bahwa kita telah berkontribusi dengan sepenuh hati. Kepuasan itu bersifat personal, mendalam, dan sering kali justru paling kuat ketika tidak disertai sorotan atau pujian.

 

Jadi, tetaplah mengabdi untuk sosial dan berbuatlah sesuatu yang lebih baik, apapun hasilnya. Salam literasi!





Literasi Dana Pensiun: Ternyata di Hari Tua, Hidup Kita Tidak Berdiri Sendiri

 

Ini soal pentingnya dana pensiun, sebagai kesinambungan penghasilan di hari tua.

 

Kalau hanya soal rasa takut, mungkin banyak dari kita akan memilih menghindar. Kalau hanya soal masih lama pensiunnya, mungkin kita memilih untuk menunda. Kalau hanya bilang tidak punya uang untuk ditabung, mungkin banyak dari kita akan bilang “nanti saja”. Begitulah adanya, bila merasa belum penting.

 

Dan akhirnya, kita berpura-pura semuanya akan baik-baik saja. Gaji habis untuk biaya hidup, bahkan gaya hidup. Beli pulsa internet bisa berkali-kali sebuat. Bahkan nongkrong di tempat ngopi mampu setiap hari. Entah, berapa uang yang dihabiskan untuk itu semua? Tapi semakin ke sini, saya makin sadar akan satu hal penting: TERNYATA, HIDUP KITA TIDAK BERDIRI SENDIRI.


Beso atau ke depan, masih ada anak-anak yang butuh biaya kuliah. Ada orang tua yang berharap kita masih bisa membantu. Ada pasangan yang menggantungkan masa depannya. Ada biaya kesehatan yang munculnya tidak pernah diduga. Bahkan ada biaya kebutuhan hidup sehari-hari yang harus dibayar. Anak-anak, pasangan dan mereka percaya, bahwa apa pun yang terjadi, kita akan selalu mampu, atau setidaknya kita siapkan segalanya.


Dana pensiun bukan tentang memikirkan akhir hidup. Bukan pula hanya urusan kaum tua atau pensiunan. Dana pensiun bukan soal waktu yang masih lama. Sebab dana pensiun adalah tentang tanggung jawab selama kita masih hidup. Apa yang sudah kita siapkan untuk masa pensiun dan orang-orang tercinta nanti di saat kita tidak bekerja lagi.

 


Soal kesadaran bahwa jika suatu hari kita tidak bekerja lagi. Jika kita tidak punya gaji lagi. Jika kondisi tidak terduga datang tanpa permisi di masa dpena. Dan jika rencana hidup tidak berjalan sesuai harapan di kala kita sudah tua. Apakah hidup orang-orang yang kita cintai tidak ikut runtuh?

 
Justru di situlah makna pentingnya mempersiapkan hari tua, bersiap untuk masa pensiun. perlindungan. Mulai berani untuk menabung untuk masa pensiun kita sendiri. Bukan akhir bekerja yang dramatis, bukan pula untuk menakut-nakuti. Tapi mengambil keputusan yang lahir dari kepedulian akan hari tua kita sendiri, saat nanti tidak bekerjal lagi.


Ini bukan soal karier, pangkat atau jabatan. Tapi soal keberanian untuk menyiapkan hari tua di saat masih bekerja. Sebab kedewasaan bukan diukur dari seberapa berani kita menghadapi risiko, melainkan seberapa siap kita menjaga orang-orang yang dicintai di masa depan. Untuk menjaga standar hidup mereka di kala kita tidak punya gaji lagi.

 

Itulah pentingnya dana pensiun bagi kita. Selain untuk memastikan ketersediaan dana di hari tua, dana pensiun juga menjamin keberlanjutan penghasilan di saat kita tidak bekerja lagi.