Kamis, 01 Januari 2026

Tahun Sudah Berganti, Banting Tulang Kerja tapi Belum Punya Dana Pensiun?

Kenapa sih kita bekerja? Ternyata, 75% pekerja yang sudah berkeluarga (punya pasangan dan anak) menjawab untuk menafkahi keluarga, sebagai wujud cinta sepenuh hati. Saking sayangnya pada anak dan pasangan, rela bekerja keras siang malam. Berangkat gelap pulang gelap, ditempa panas dan hujan, semuanya karena cintanya pada keluarga. Banting tulang dan menahan lelah, demi anak-anaknya. Memang harus diakui, ada fase dalam hidup di mana kita mau melakukan apa saja karena mencintai keluarga sepenuh hati. Bekerja bukan lagi sekadar aktualisasi diri atau mengejar cita-cita.

 

Tapi seiring waktu berjalan dan tahun demi tahun pun berganti, satu pertanyaan penting muncul: Apakah cinta saja sudah cukup untuk keluarga? Bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sebagai tanda cinta pada keluarga, apa sebatas itu saja? Ternyata, banyak pekerja baru menyadari satu hal saat semuanya sudah terlambat. Yaitu, selama bekerja tidak punya dana pensiun sebagai perencanaan hari tua di saat sudah tidak bekerja lagi, saat nanti pensiun.


Faktanya, 1 dari 2 pensiunan yang bekerja puluhan tahun pada akhirnya mengandalkan transferan anaknya setiap bulan untuk memenuhi biaya hidupnya di hari tua. Bahkan 9 dari 10 pekerja hari ini sama sekali tidak siap untuk pensiun akibat tidak punya dana yang cukup untuk menjaga standar hidupnya saat tidak bekerja lagi. Terbukti, cinta keluarga tanpa mempersiapkan hari tua pada akhirnya hanya meninggalkan beban. Sementara siapapun yang bekerja pada akhirnya akan pensiun, cepat atau lambat. Sekalipun dana pensiun dianggap penting tapi hingga kini masih belum punya persiapan pensiun. Bahwa niat baik tanpa tindakan nyata, bisa berubah menjadi penyesalan.



Pekerja sering lupa. Dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) bukanlah tentang hari tua semata, bukan pula tentang iuran atau waktunya masih lama. Dana pensiun bukan soal sudah punya aset berupa rumah, kendaraan, tabungan, bahkan investasi. Dan dana pensiun juga bukan soal waktu tapi soal keadaan, mau seperti apa di hari tua? Maka dana pensiun jelas tentang tanggung jawab pada keluarga yang tetap berjalan, bahkan saat kita sudah tidak ada. Dana pensiun adalah bukti cinta pekerja pada keluarganya.

Dana pensiun sejatinya tentang kesinambungan penghasilan di hari tua untuk orang-orang yang kita cintai. Tentang memastikan hidup orang-orang yang kita cintai tidak ikut runtuh, hanya karena kita sudah tidak bekerja lagi. Justru dana pensiun menjadi bagian penting untuk menjaga suasana rumah tetap tetang dan nyaman sekalipun kita sudah tua. Tetap terjaga standar hidup di saat kita sudah pensiun. Agar nanti, saat kita sudah tidak bekerja lagi, kehidupan keluarga yang kita cintai tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dana pensiun untuk menjaga kemandirian finansial di hari tua, seperti saat kita masih bekerja.

 


Maka di situlah dana pensiun khususnya DPLK mengambil peran. Bukan sebagai produk keuangan, tapi sebagai “janji” kita untuk orang-orang tercinta. Karena dengan adanya dana pensiun, kita punya kepastian dana untuk hari tua, punya kesinambungan penghasilan saat tidak bekerja lagi, dan akhirnya tidak menjadi beban keuangan keluarga di masa depan.

 

Tahun baru 2026 telah tiba, kerja pun sudah puluhan tahun. Banting tulang bekerja dan cinta kepada keluarga, tidak cukup bila belum punya dana pensiun. Maka siapkanlah masa pensiun mumpung masih ada waktu, mumpung masih bisa menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Tentu bukan untuk kaya raya di hari tua tapi sebagai wujud cinta pada keluarga. Agar nanti, tidak bergantung pada anak di hari tua atau berharap pada keberuntungan di masa pensiun.


Sebab masa pensiun sama sekali tidak bisa dihadapi dengan “gimana nanti” tapi “nanti gimana”. Sungguh, cinta keluarga tanpa tindakan pada akhirnya hanya tinggal omongan. Siapkanlah dana pensiun dari sekarang, mumpung masih mampu. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM