Dihadiri 60 pengurus dan komda, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) hari ini (7/4/2026) menggelar Munas 1/2026 sebagai amanat anggaran dasar organisasi untuk melaporkan kinerja dan keuangan ADPI periode 2025 lalu. Dipimpin oleh pengurus teras ADPI terdiri dari: Abdul Hadi (Ketua Umum), Sularno (Sekjen), Chairi Pitono (Waka 1), Antonius R. Tyas (Waka 2), Budi Sutrisno (Waka 3), Abdul Hadie (Bendahara), Mujiharno (Dewan Pengawas) dan Budi Sulistijo (Direktur Eksekutif).
Munas ADPI kali ini fokus untuk melaporkan kinerja pada tahun lalu, mencakup bidang 1) Investasi & kemitraan - kelembagaan, 2) Kepesertaan & database – litbang, 3) Edukasi – kompetensi & sosialisasi literasi, dan 4) Regulasi & Advisory. Dilaporkan pula sepanjang tahun 2025, ADPI telah menggelar Pelatihan Dana Pensiun secara reguler 51 kali dan inhouse training 64 kali sebagai bagian peningkatan kompetensi SDM dana pensiun. Saat ini, ADPI memiliki anggota 160 dana pensiun pemberi kerja.
Sularno, Sekjen
ADPI menyampaikan pula update terkait KKNI Manajemen Risiko Dana Pensiun (MRDP)
yang memasuki tahap konvensi nasional sebelum dijalankan, harmonisasi program
pensiun, dan arahan kepada DPPK untuk mengoptimalkan program sebagai bagian
perlindungan peserta.
"Melalui
Munas ADPI ini mari kita update pengetahuan bersama untuk optimalkan industri
dana pensiun. Kolaborasi dan sinergi yang lebih produktif, mari kita
bergandengan tangan untuk ADPI yang lebih bermanfaat untuk anggotanya"
ujar Sularno dalam paparannya di kantor ADPI Wisma BNI 46 Jakarta.
Dengan tekad
kolaborasi antar pengurus dan anggota, ADPI berusaha untuk memajukan industri
dana pensiun, di samping mewujudkan tata kelola dana pensiun yang berkualitas.
Untuk itu, upaya meningkatkan kompetensi insan dana pensiun melalui MUDP, MRDP,
dan KKNI dana pensiun akan dioptimalkan. Sebagai bagian implementasi regulasi
yang berlaku di dana pensiun, baik POJK 27/2023, POJK 35/2024, dan POJK 34/2024
tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Munas ADPI
memakai topi ini, terinspirasi dari konsep Six Thinking Hats yang
diperkenalkan oleh Edward de Bono, di mana setiap “topi” melambangkan cara
berpikir berbeda: logika (fakta), emosi (perasaan), kritis (risiko), optimis
(manfaat), kreatif (ide baru), dan pengendali (proses). Sehingga rapat menjadi
lebih terarah, tidak didominasi satu sudut pandang, dan membantu menghasilkan
keputusan yang lebih objektif dan komprehensif. Secara filosofis, “pakai topi”
juga berarti menanggalkan ego pribadi dan tidak kaku pada satu posisi.
Sekalipun
dihadapkan pada tantangan yang besar, ADPI bertekad untuk terus mendorong
pertumbuhan dana pensiun yang lebih signifikan ke depannya. Per Desember 2025,
total aset dana pensiun sukarela (DPPK/DPLK) mencapai Rp411,29 triliun, tumbuh
7,52% year-on-year dengan melayani 5,41 juta peserta tahun 2025 untuk mengelola
kepesertaan secara memadai, pengelolaan investasi, tata kelola, dan manajemen
risiko menjadi perhatian yang harus dijaga oleh pelaku dana pensiun.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar