Kita sering menaruh buku
sebagai simbol pencerahan. Buku diasosiasikan dengan pengetahuan, kebenaran,
dan kebijaksanaan. Maka wajar jika muncul anggapan bahwa membaca buku yang
baik akan otomatis melahirkan perubahan, baik pada diri manusia maupun pada
dunia. Padahal, membaca sebenarnya baru tahap awal, bukan tujuan akhir.
Membaca buku, sejatinya
bekerja di wilayah kesadaran, bukan langsung di wilayah tindakan. Buku bisa
membuka cara pandang, menggoyahkan keyakinan lama, atau menumbuhkan empati,
tetapi semua itu masih bersifat potensi. Perubahan nyata baru terjadi ketika
hasil bacaan diolah menjadi sikap, pilihan, dan tindakan konkret. Tanpa proses
itu, membaca hanya berhenti sebagai konsumsi gagasan.
Selain itu, dunia tidak
berubah hanya karena individu menjadi lebih tahu. Dunia digerakkan oleh struktur
sosial, kekuasaan, ekonomi, dan relasi antarmanusia. Seseorang bisa sangat
terpelajar, tetapi tetap hidup di sistem yang tidak adil. Di sinilah kekecewaan
sering muncul: kita berharap kebijaksanaan personal langsung menular ke tatanan
sosial, padahal perubahan sosial selalu lambat, kolektif, dan penuh tarik-menarik
kepentingan.
Namun, bukan berarti membaca
sia-sia. Justru kekuatannya ada pada efek perlahan dan kumulatif. Buku tidak
mengubah dunia secara instan, tetapi membentuk cara manusia berpikir, memperhalus
kepekaan moral, dan menyiapkan landasan bagi tindakan yang lebih sadar. Membaca
tidak mengubah keadaan, tidak pula menggerakkan dunia. Tapi menyentuh sesuatu
yang lebih dasar: manusia itu sendiri.
Membaca mengubah cara orang
berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Jadi berani untuk bertanya,
kepekaan untuk peduli, dan tanggung jawab atas pilihan hidup. Perubahan itu
pelan, kadang tidak terlihat, tapi menetap. Tinggal di kepala dan hati
seseorang, lalu ikut terbawa ke mana pun ia pergi. Dari orang-orang yang membaca
itulah dunia bergerak. Dunia tidak berubah oleh kurikulum, tapi oleh manusia
yang terdidik dengan kesadaran. Ketika orang berubah, cara bekerja berubah,
cara memimpin berubah, cara memperlakukan sesama pun ikut berubah. Dan di
sanalah, tanpa banyak suara, dunia perlahan ikut bergeser.
Maka, membaca tidak membuat
dunia otomatis adil, dan tidak menjamin manusia langsung bijak. Tapi tanpa
membaca, harapan akan dunia yang lebih adil dan manusia yang lebih bijak hampir
mustahil. Buku bukan tombol ajaib, melainkan benih. Perlu waktu, perawatan, dan
keberanian untuk diwujudkan dalam tindakan. Begitulah orang-orang yang membaca.
Salam literasi!
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar