Berdasarkan data yang ada, generasi milenial (lahir sekitar 1981–1996) diperkirakan berjumlah sekitar 69,90 juta jiwa dari total populasi Indonesia sekitar 270,2 juta jiwa. Atau sekitar 25,87% dari total penduduk Indonesia. Cukup besar ya.
Selain akrab dengan teknologi berbasis internet dan
gadget, generasi milenial dikenal sering gonta-ganti pekerjaan, selalu mencari
peluang yang lebih baik, dan menyukai fleksibilitas. Sayangnya, generasi
milenial sama sekali tidak atau belum mau persiapkan dana pensiun. Survei Syarifudin
Yunus (2019) menyebut 90% kaum milenial tidak punya dana
pensiun. Artinya 1 dari 10 milenial hari ini tidak punya program pensiun.
Bahkan 60% dari milenial sama sekali tidak tahu, apa itu dana pensiun?
Agak
bahaya sih bisa generasi milenial nggak punya dana pensiun. Justru bila mau
gonta-ganti pekerjaan, seharusnya punya fundamental keuangan yang memadai. Tidak
aware-nya milenial terhadap dana pensiun tentu bertolak belakang dengan pola
pikir milenial itu sendiri yang cenderung idealis,
kritis, dan visi hidup yang ambisius.
Fenomena milenial sering ganti pekerjaan, akrab
teknologi, tetapi tidak punya dana pensiun punya dampak berlapis. Bukan cuma ke
individu, tapi juga ke perusahaan, negara, dan sistem sosial nantinya. Dampak
bagi individu milenial antara lain: rentan secara finansial di usia tua akibat uangnya
habis untuk kebutuhan jangka pendek. Dampaknya, milenial berisiko tetap bekerja
di usia lanjut, bukan karena pilihan tapi karena terpaksa. Dihantui ilusi karena
teknologi, merasa selalu bisa “cari uang nanti”. Dan akhirnya, mengalamai beban
psikologis jangka panjang. Sebab tanpa dana pensiun, saat milenial menginjak usia
40–50-an akan mengalami kecemasan finansial, takut sakit, kehilangan pekerjaan,
dan akhirny akonflik keluarga meningkat.
Dampak bagi dunia kerja dan perusahaan, akan kesulitan
mempertahankan karyawan dan membangun loyalitas SDM. Konsekuensinya, produktivitas
jangka panjang menurun. Sebab karyawan tanpa rasa aman finansial akan gampang
stres, kurang fokus, dan cenderung oportunistik. Dan ujungnya akan berdampak
pada negara dan sistem sosial. Jika mayoritas milenial tidak punya dana pensiun
dan hidup lebih panjang, maka negara akan menghadapi lonjakan penduduk lansia
miskin di masa depan. Beban negara jadi meningkat, akhirnya butuh bansos, subsidi
kesehatan meningkat, dan ketimpangan sosial melebar.
Karena
itu, generasi milenial perlu menyadari sekalipun bisa dianggap terlalu dini
untuk menjelaskan kepada milenial. Tapi setidaknya, ada 3 (tiga) dampak negatif
yang signifikan bila milenial tidak memiliki dana pensiun, yaitu: 1) akan jadi
beban atau tanggungan orang lain di hari tua, 2) mengalami masalah keuangan di
masa pensiun saat tidak bekerja lagi, dan 3) gagal mempertahankan gaya hidup di
hari tua seperti saat masih bekerja. Milenilal tanpa dana pensiun, maka keunggulan
itu berubah menjadi kerentanan struktural. Masalahnya, bukan milenial malas
menabung. Tapi tidak ada kesadaran dan edukasi tentang pentingny dana pensiun
kepada milenial.
Nah,
sebagai antisipasi dari “lingkaran misterius” hari tua generasi milenial. Salah
satu cara yang bisa ditempuh adalah generasi milenial harus berani punya dana
pensiun dari sekarang. Agar lebih disiplin menabung untuk hari tua, sekaligus
meredam perilaku konsumtif yang berlebihan. Salah satu cara yang bisa ditempuh
adalah dengan mulai memiliki dana pensiun melalui DPLK (Dana
Pensiun Lembaga Keuangan). Kebiasaan berpindah kerja dan dominasi
teknologi dalam kehidupan milenial, jika tidak diimbangi dengan kepemilikan
dana pensiun, berpotensi menimbulkan risiko kesejahteraan jangka panjang yang
berdampak sistemik bagi individu dan negara.
Maka sudah saatnya, kaum milenial menyisihkan
sebagian “uang jajan” untuk nongkrong di kafe-kafe atau gaya hidup ke dana
pensiun. Sekaligus menjadi sarana untuk mengatur perencanaan keuangan secara
lebih bijak. Agar tetap sejahtera dan nyaman di hari tua. Jangan sampai “dompet
tipis” di hari tua akibat terlalu royal di masa muda. DPLK menjadi alternatif
yang patut dipilih kaum milenial dalam mempersiapkan hari tuanya sendiri.
Sebab cepat atau lambat, generasi milenial pun akan
tua, akan pensiun. Pasti akan berhenti dari pekerjaan. Hanya masalahnya, sudah
tersediakah dana untuk membiayai hidup di hari tua atau masa pensiun?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar