Di usia 56 tahun, Pak Syarif cuma pengen asyik. Karena rezeki sudah ditulis, umur sudah ditetapkan. Usia senja yang asyik nggak usah berisik apalagi mengusik. Ia hanya ingin menikmati hari tua. Anak sudah besar-besar, sudah saatnya menikmati apa yang dimiliki.
Setelah puluhan tahun bekerja dan sibuk
mengejar berbagai target hidup, hari ini ia mengemas ransel sederhana lalu
berangkat menjelajahi daerah perbukitan di Sukamakmur Kab. Bogor. Ditemani
istrinya dan berkendara motor menikmati perjalanandemi perjalanan. Diselingi udara
sejuk dan hembusan angin. Ia berjalan perlahan menyusuri jalur setapak,
gemericik air sungai, dan semilir angin yang menari di antara pepohonan. Setelah
sekian lama, Pak Syarif dan istri merasa benar-benar hadir di setiap momen.
Perjalanan itu membawanya ke sebuah situ
Rawagede yang berada di 1.072 mdpl dan dikelilingi perbukitan. Di sana, Pak Syarif
bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda, mulai dari petualang,
pekemah, riders, hingga pedagang lokal yang juga mencari ketenangan. Dari
setiap percakapan, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari harta
atau jabatan, melainkan dari rasa syukur dan kemampuan menikmati hal-hal
sederhana yang sering terlewatkan dalam kesibukan hidup. Pak syarif pun menyewa
sebuah tenda dan kemping di pinggir Situ Rawa Gede malam itu.
Esok paginya, Pak Syarif dan istri segera
bergegas. Menuju titik pendakian Gunung Luhur yang lagi viral dan banyak
dikunjungi petualang dari berbagai tempat. Di daerah ketinggian 1.750 mdpl, ia menyaksikan
suasana pendakian gunung yang ramai sekali. Untuk mendekati alam dan menikmati
hamparan bunga yang indah sambil menyaksikan matahari terbit. Pak Syarif duduk
diam sambil mengenang perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa setiap tantangan,
kegagalan, dan keberhasilan yang pernah dialami telah membentuk dirinya menjadi
pribadi yang lebih bijaksana. Di tengah keheningan alam, ia menemukan kedamaian
yang sejati. Makin memahami tentang manusia, dari mana berasal dan mau ke mana
akan pergi?
Setelah turun dari pendakian, istirahat
sejenak di Rest Area 99 sambil menikmati secangkir kopi. Memandangi panorama
indah di Sukamakmur, ditemani cemilan bakwan. Jelang siang, Bersiap motoran
lagi untuk mengunjungi beberapa lokasi. Mulai ke Desa Sirnajaya, Warung De
Padee, Desa Sukamulya di pendakian Datar Buluh dan berujung di Hanjawong Villas
sambil menengok tanah kavling tempatnya menikmati hari tua. Perjalanan menyusuri
hutan pinus, melewati jalan berbatu hingga jembatan sungai terasa indah dan
penuh kenangan. Tanpa terburu-buru, Pak Syarif sekaligus belajar menghargai
waktu sebagai anugerah yang berharga. Ia tidak lagi memikirkan apa yang belum
dimiliki, melainkan mensyukuri apa yang telah ada. Alam mengajarkannya bahwa
segala sesuatu memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh, berkembang, dan
beristirahat.
Sambil
menikmati perjalanan kembali ke Jakarta setelah maghrib, Pak Syarif pulang
dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih. Ia memahami bahwa
usia senja bukanlah akhir dari petualangan, melainkan kesempatan untuk
menikmati hidup dengan cara yang lebih bermakna. Uisa senja yang asyik tanpa
berisik tanpa mengusik orang lain. Sebuah pesan moral bahwa kebahagiaan sejati
tidak terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan sepanjang hidup, tetapi
pada kemampuan untuk mensyukuri perjalanan, menjaga keseimbangan batin, dan
menikmati setiap momen yang diberikan kehidupan. Salam usia senja! #YukSiapkanPensiun
#DanaPensiun #PakSyarifPensiunan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar